Oleh Jeffrey Rawis**)
BENDERRA, 19/5/17 (Jakarta): Dr GSSJ Ratulangi alias Oom Sam pernah merefleksikan sikap dan perilaku Orang Minahasa (‘Tou MinaEsa’) yang gemar merantau atau membuahkan kebaikan bagi sesama dalam kalimat filisofis: ‘Si Tou Timou Tumou Tou” atau ST-4.
Pemahaman sederhana atas ST-4 ini, sebagaimana pernah didiskusikan oleh Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), ialah: “Manusia hidup untuk memanusiakan manusia”.
Sementara itu, dalam sebuah forum terbatas yang terdiri dari kalangan insan pers, di antaranya ada Freddy Roeroe (wartawan senior Kompas), Joppy Worek (wartawan senior Surya, Surabaya), Michael Umbas (mantan jurnalis Sinar Harapan), Feibe Lumanauw (reporter Suara Pembaruan), Novi Lumanauw (jurnalis Investor Daily) dan penulis opini ini (saat sedang menggeluti penerbitan sebuah buku bersama 2004/2005, Red), muncul premis khas tentang spirit ST-4 itu dalam wujud istilah ‘tumani’.
Ya, ‘tumani’ atau pergi dan membangun di tanah rantau, pernah diaplikasikan Oom Sam ketika terpilih sebagai anggota Dewan Rakyat (‘Volksraad’), awal 1930-an, di mana memanfaatkan kegemaran Orang Minahasa ‘berpetualang’ untuk ‘pergi dan membangun’ sejumlah kawasan tak berpenghuni di Sulawesi Utara, bahkan hingga ke berbagai pelosok Nusantara.
Jadi pioner
Dalam buku “Orang Manado: Mitos-Legenda-Gaya-Canda” (Jeffrey Rawis, 2005), terurai, spirit kaum ‘Overseas Minahassan’, yakni kini berujud ‘tumani’ (diambil dari bahasa ‘makatana’ = bahasa tua Minahasa, Red) itu, benar-benar mewujud lewat berbagai kiprah serta karya kemanusiaan di mana-mana.
Sejak dekade 1930-an, tak sedikit ‘guru tua’ asal Tanah Minahasa menyebar ke berbagai penjuru Tanah Air untuk mengajar sesama saudara sebangsanya. Tak cuma ke Toli toli-Palu-Poso-Tentena (Sulawesi Tengah), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), Kendari (Sultra), Halmahera (Malut), Lombok (NTB), Kupang (NTT), Sorong dan Manokwari (Papua Barat), Biak-Jayapura-Merauke (Papua), juga hingga ke Tanah Jawa (Jatim, Jateng, Jabar), Kalimantan (terutama di Kaltim dan Kalteng), bahkan ke Pulau Sumatera (Prabumulih, Dumai, Lampung, Batam) dan seterusnya.
Generasi berikutnya (setelah para guru), muncul para ‘pandita’ atau ‘pandeta’ (juga guru Injil), ‘soldado’ (tentara/militer/juga polisi), pengusaha, profesional, aktivis, politisi, birokrat, serta aneka lapangan kegiatan lainnya.
Tak mengherankan, jika kemudian pernah pada suatu ketika, Orang Minahasa menjadi gubernur dan kepala daerah di Jakarta, Kalteng, NTB, NTT, Sulsel, Sultra, dan Sulteng.
Kepioneran Orang Minahasa itu pun tersejarahkan di sektor militer. Yakni, pernah terjadi, dari cuma beberapa Komando Daerah Militer (Kodam) di Indonesia, tiga Panglima Kodam-nya dari Tanah Minahasa. Di lapangan ketentaraan ini, muncul beberapa nama penting dalam sejarah militer kita, di antaranya Alex Kawilarang (Panglima Kodam/Divisi Siliwangi, pencetus dan pendiri Kopassus), juga Daan Mogot (terkenal dalam Peristiwa Lengkong di Tangerang, pencetus dan pendiri Akademi Militer).
Dalam urusan kiprah pemuda, siapa tak kenal kegigihan si ganteng Wolter Mongisidi menghadapi tentara kolonial di Makassar, juga si ‘fasung’ alias perwira muda rupawan Pierre Tendean yang rela berkorban nyawa menghadapi pengkhianatan G30S atau Gestok.
Di lapangan jurnalistik, dari zaman ke zaman tak pernah jika tidak ada peran para jurnalis kawanua. Sebut saja Oom Sam Ratulangi dkk (pra kemerdekaan), Togas dkk (di era Bung Karno), HG Rorimpandey, Aristides Katoppo, August Parengkuan dkk (di era pak Harto), lalu sejak reformasi hingga kini masih tetap eksis sosok-sosok seperti Derek Manangka, Adolf Possumah, Freddy Roeroe, Joseph Osdar (wartawan istana) dan Sonya Sinombor dkk.
Dan dalam hal peran perempuan, ada nama-nama besar seperti rektor wanita pertama (Nona Politton), dokter wanita pertama (Marie Thomas), jenderal wanita pertama (Jeanne Mandagie), walikota wanita pertama (Tienne Wawo Runtu), pencetus dan aktivis Sumpah Pemuda (Jo M Tumbuan).
‘Last but not least’, para pemimpin politik dan cendikiawan serta pendeta Indonesia asal Minahasa pun berperan penting dalam mendirikan serta memerdekakan Bangsa Indonesia sekaligus mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebut saja pula sosok-sosok revolusioner semisal BW Lapian dan Pendeta Wenas (dua rohaniwan hebat), Arnold Mononutu dan LN ‘Babe’ Palar (dua politisi tangguh), lalu Arie Lasut (cendikiawan sekaligus birokrat yang menolak berkhianat dengan rela mengorbankan dirinya demi mempertahankan peta pertambangan nasional, Red), juga ada nama-nama lain seperti HN Ventje Sumual, HV ‘Kembi’ Worang, Joop Warouw, Ch Ch Taulu, Mais Wuisan, dst…)
Dua nama terakhir, bersama BW Lapian, merupakan sosok-sosok penting dalam Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946. Peristiwa ini menunjukkan bukti, Tanah Minahasa di Sulawesi Utara, merupakan daerah pertama di luar Jawa yang menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia (negara yang diproklamasikan kemerdekaannya oleh Bung Karno dan Bung Hatta). Bayangkan, hanya enam bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, para pejuang Merah Putih di Sulut, Tanah Minahasa, telah melakukan ‘kudeta militer’, menurunkan bendera Merah Putih Biru, menaikkan Sang Dwi Warna Merah Putih, serta mengeluarkan Maklumat sebagai bagian dari Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Daerah-daerah lain di luar pulau Jawa belum ada yang bergerak. Kecuali di Jawa Timur (Peristiwa Hari Pahlawan, 10 November 1945, Red), Jawa Barat (‘Bandung Lautan Api’, 23 Maret 1946) atau sesudah Peristiwa Merah Putih di Manado — keduanya di Tanah Jawa. Bahkan Yogya (‘Peristiwa Enam Jam di Yogya”, baru terjadi beberapa tahun kemudian, Red).
Penting dicatat, Tanah Minahasa merupakan ‘wilayah Merah Putih’ sejak 14 Februari 1946. Jiwa-Semangat-Nilai (JSN) perjuangan Merah Putih inilah yang kini diemban oleh para anggota dan simpatisan Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP), dimana sebagian pentolannya juga merupakan pengurus KKK.
Sebelum itu, sesuai catatan sejarah, mulai dari Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indoensia (BPUPKI) yang menghasilkan Dasar Negara dan ‘draft’ Konstitusi, ada nama-nama seperti Dr GSSJ Ratu Langie dan Mr AA Maramis. Bahkan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Ir Sukarno, dan merupakan kelompok khusus untuk mempersiapkan Proklamasi, tetap kedua nama ini ada.
Malahan terakhir, pada komposisi Panitia Lima (diketuai Drs Moh Hatta), tetap saja Mr AA Maramis ada.
Artinya, Orang Minahasa punya andil, bahkan bisa disebut sebagai salah satu yang ikut menandatangai ‘akte notaris’ berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia-NKRI.
Semuanya ini, harus diakui, sebagai buah dari spirit ‘tumani’ yang direfleksikan dalam filosofi ST-4-nya Oom Sam.
Komposisi demografi
Singkat cerita, gairah untuk ‘tumani’ (pergi dan membangun) itu seperti tak pernah berhenti. Dan total Orang Minahasa yang bermigrasi ke luar (dengan biaya sendiri alias transmigrasi spontan), pasti lebih banyak dengan transmigrasi umum (program pemerintah yang dibiayai, Red). Bedanya, mungkin, mayoritas Orang Minahasa keluar dengan suatu spirit, tekad dan bekal (Iptek dll), sehingga banyak menghasilkan dan berbuat bagi sesama di tanah rantau.
Pernah di dekade medio 1980-an, jurnalis senior Mutiara, Harry Kawilarang dalam penelusurannya di Amerika hingga Eropa, menemukan (termuat dalam sebuah tulisannya, Red), “ada sekitar 18.000 Orang Minahasa di Pantai barat Amerika saja. Belum di negara bagian lain, begitu pula di Belanda dan kawasan Eropa, Asia utamanya di Jepang, Tiongkok dan Hong Kong, serta Australia”.
Lalu, di Jakarta dan sekitarnya (kini populer dengan Jabodetabek), berdasarkan catatan ringan Jano Bolang (ketika berbicara pada sebuah forum Kerukunan Pemuda Antar Kawanua, Kapak, 1984), menuturkan, “Orang Minahasa di Jakarta dan sekitarnya malah lebih banyak dari yang masih tinggal di Tanah Minahasa (Raya)”.
Selain Jano Bolang, sejumlah pentolan organisasi kekerabatan para Kawanua perantauan, Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), ketika itu menyebut angka 700.000 jiwa Orang Minahasa di Jabodetabek. (Atau 10 persen dari penduduk DKI Jakarta yang pada saat itu sekitar tujuh juta orang).
Jumlah ini, jika ditambahkan dengan yang ada di berbagai penjuru Tanah Air dan Mancanegara, bisa mencapai dua kali lipat atau bahkan lebih, menurut catatan pada waktu itu. Sementara jumlah penduduk di Tanah Minahasa Raya (kini terbagi atas tujuh wilayah administratif: Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Minahasa, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Utara, Kota Manado dan Kota Bitung, Red), diperkirakan cuma 60 persen dari total perkiraan jumlah ‘Overseas Minahassan’ tersebut di atas.
Komposisi demografi (lebih banyak ber-‘tumani’ ketimbang di tanah leluhur, Red), sesunguhnya bagi penulis, merupakan karakter hakiki kultural, sebagai komunitas yang diprocotkan di Bumi Nusantara, tapi memiliki blasteran darah dari Mongolia, Tiongkok dan Jepang, serta Melayu. Itu juga yang ditulis Jano Bolang dalam ‘Sabuwa’ (1984), yang menunjuk pada semangat ‘nomaden’, sebagai akar budaya Mongolid, juga membangun serta berbagi (kombinasi antara gaya para ‘taipan’ Tionghoa, hingga ajaran Injil).
‘Tumani’ dan rekonsiliasi
Nah, berdinamika di tanah rantau, memang sering berbuah pahit. Akar budaya ‘Maesa’, MinaEsa, dan seterusnya yang mengartikan ‘kita bersama, kita satu’ terkadang tersisihkan oleh gaya maupun perilaku sangat improvisatif (sebuah gaya khas Orang Minahasa, sebagaimana dalam buku “Orang Manado: Mitos-Legenda-Gaya-Canda). Apalagi, memang, dalam tradisi kepemimpinan Orang Minahasa dari ‘tempo doeloe’, tidak pernah mengenal kekuasaan monarkhi (alias kerajaan), tetapi benar-benar sangat demokratis (diwujudkan dalam bentuk kepemimpinan dan pembagian kekuasaan dalam postulat sosok Tonaas, Waraney dan Walian).
KKK, yang menghimpun para insan Kawanua (istilah Orang Minahasa di tanah rantau, Red), telah eksis sejak 44 tahun silam. Para jenderal, profesor, pebisnis tangguh, politisi dan aktivis serta tokoh pemuda maupun perempuan silih berganti membawa organisasi kekerabatan ini, tanpa harus ada yang merasa sebagai pelaku atau penerus ‘kekuasaan monarkhi’. Dinamika demokrasi dalam setiap proses pemilihan pengurus dan pimpinan dari waktu ke waktu terus berjalan.
Kendati harus sering terjadi benturan keras, tetapi semangat “Maesa, MinaEsa’ dan seterusnya akhirnya bisa menjadi solusi untuk kembali ke koridor kebersamaan. Jargon-jargon ‘Masawang-sawangan, Matombol-tombolan, Maesa-esaan’ dan lain-lain yang merupakan refleksi dari ‘mari saling mengasihi, menyayangi, memberi serta terus bersatu”, menjadi pemicu untuk adanya kebersamaan dalam suatu persaudaraan yang rukun.
Bukan sebaliknya, mempertahankan ego dan keangkuhan, bahkan bermental ‘dibo-dibo/dubo-dubo’, sebagai sebuah ekses dari perilaku negatif yang saling mencungkil/menjatuhkan (‘baku-baku cungkel’).
Karena apa? “Karena torang samua basudara” (=”kita semua bersaudara”), sebuah jargon yang populer sejak Letjen TNI Ernst Evert Mangindaan menjabat Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), yang terus mendapat penguatan di era Adolf Jouke Sondakh dan Sinyo Harry Sarundajang (dengan menambahkan kata-kata “marijo baku-baku sayang deng baku-baku bae” = mari saling menyayangi dan saling bersikap baik untuk berbagi); lalu kini dilengkapi oleh Olly Dondokambey (Gubernur Sulut sejak 2015) dengan: “karena torang samua ciptaan TUHAN” (karena kita semua ciptaan TUHAN).
Memang, ada sejarah ‘kelam’ pada perhelatan Musyawarah Anggota (MPA) ke-VII di Lemhanas RI, yang gagal menghasilkan sebuah kepengurusan. Situasi ini berimbas pada lahirnya dua kepengurusan KKK (Pimpinan Irjen Pol Dr Benny Mamoto, dan Pendeta Jimmy Tampi, MA).
Waktu terus berjalan, agaknya telah memicu sejumlah tokoh kawanua semisal Theo L Sambuaga, Benny Tengker, juga EE Mangindaan untuk menyatupadukan lagi KKK sebagai ‘premus enter pares” (secara kelembagaan, bukan personal).
“Spirit rekonsiliasi dalam basis akar budaya ‘baku-baku sayang deng baku-baku bae’, hendaknya menjadi pemicu untuk kita memperoleh sebuah KKK yang benar-benar menjembatani kepentingan berbagai pihak,” kata Theo Sambuaga, yang pernah menjabat menteri di dua kementerian, juga Presiden Komisi Politik dan Perlucutan Senjata Parlemen Se-dunia (‘Inter-Parliamentary Union’, IPU), dan kini menjabat Presiden Lippo Group, Ketua Dewan Penasihat GPPMP, Wakil Ketua Dewan Pembina Golkar, sekaligus Ketua Dewan Pembina KKK.
Bak bersambut gayung, dua kepengurusan KKK kini (Pimpinan Angelica Tengker, MSc dan Irjen Pol Dr Ronny F Sompie, Red), bersama jajarannya masing-masing, mulai antusias melakukan pendekatan serius untuk ‘rekonsiliasi’.
Apalagi sudah ada pernyataan tegas dari Gubernur Olly Dondokambey: “saya baru akan menghadiri acara-acara KKK, jika sudah utuh bersatu”. Dan Olly memang berencana ingin menghadiri pengukuhan KKK ‘baru’, yang diskedul beberapa minggu ke depan.
Menjelang itu, Kamis (18/5/17) tadi malam, telah terjadi pertemuan resmi antara sejumlah tokoh KKK, yakni Ronny Sompie, Jimmy Tampi, Angelika Tengker, Max Boseke, Rudy Sumapouw, Audy Wuisang, Adrian Tapada, Ricky Siwu, Ayub Yunus, Jerry Rampen, Alfa Massie, Jemmy Mokolensang, Meity Ussu dan Teddy Matheos.
Hebatnya lagi, mereka sepakat mencetuskan tiga hal baru yang merupakan tanda-tanda positif menuju kebersamaan sejati, yakni:
- Rekonsiliasi adalah semangat bersama
- Menunjukkan sikap ‘baku bae’ dan saling menghormati satu sama lain
- Merencanakan pertemuan berikutnya dalam waktu dekat untuk menentukan bentuk konkret rekonsiliasi
“Kita doakan saja hasil kesepakatan ini, dan mohon Roh Kudus beracara melalui hati para pentolan KKK itu, agar semuanya menjadi satu, ‘ut omnes unum sint’, karena kita semua adalah pejoang pemikir, pemikir pejuang” di Tanah Air Tercinta Indonesia”.
Ingat apa kata Oom Ventje Sumual (pernah memimpin KKK): “marijo torang baku beking pande, jang baku tunjung pande” (=mari saling mengasah dan berbagi pikiran, bukan saling unjuk kepinteran).
Dan ini pun sangat erat kaitan dengan spirit ‘tumani’ (pergi dan membangun serta berbagi, baik bagi sesama di tanah rantau, juga buat sanak di tanah leluhur).
I Yayat U Santi !!! Merdeka !!! Merah Putih Tetap Jaya!!!
*) Ungkapan hati merespons upaya rekonsiliasi Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) demi penguatan kiprah dan peran Orang Minahasa dalam keindonesiaan serta demi kemanusiaan dalam spirit ‘tumani’.
**) Penulis adalah bagian dari pelaku spirit ‘tumani’, dan berkecimpung di lapangan jurnalistik.



