BENDERRAnews, 4/7/17 (Jakarta): Indonesia kini mulai ‘leading’ di sektor pariwisata, setidaknya di Asia Tenggara.
Artinya, kerja keras Kementerian Pariwisata (Kempar) di bawah kepemimpinan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mulai menunjukkan hasil positif.
Salah satu yang nyata ialah tren kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Indonesia sepanjang Januari-April 2017 tertinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.
Tak hanya jumlah kunjungan Wisman, dampaknya terhadap usaha wisata dan perekonomian juga mulai terlihat.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 4,2 juta Wisman mengunjungi Indonesia sepanjang Januari-April 2017.
Jumlah itu meningkat 19,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana kunjungan wisman hanya tercatat 3,52 juta orang.
Khusus kunjungan wisman pada April 2017 juga mengalami lonjakan signifikan, yakni mencapai 1,14 juta orang. Jumlah itu naik 26,75 persen dibandingkan April 2016, yang hanya ada 901.000 wisman yang datang ke Tanah Air.
Kunjungan wisman ke Indonesia tersebut lebih banyak dibandingkan tiga negara kompetitor, yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Dilansir dari laman Business Times pada 24 Juni 2017, kunjungan Wisman ke Singapura dalam empat bulan pertama 2017 mencapai 5,79 juta.
Jumlah itu hanya meningkat 4,4 persen secara year on year (yoy) atau dibandingkan periode yang sama 2016 lalu.
Dari jumlah itu, sebanyak 1,1 juta merupakan Wisman asal Tiongkok.
Sementara itu, wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke Singapura mencapai 968.000.
Singapura anjlok
Namun, kunjungan wisatawan asal Indonesia ke negeri Singa itu berpeluang menurun.
“Penguatan dolar Singapura diperkirakan bertahan tahun ini. Hal itu akan menghalangi warga Indonesia untuk liburan ke Singapura,” ujar Direktur Riset Cushman & Wakefield, Christine Li.
Kenaikan yang hanya 4,4 persen itu membuat industri perhotelan di Singapura anjlok dua persen pada Januari-April 2017.
Dampaknya, average room rate (ARR) juga turun 2,3 persen.
Demikian pula total penerimaan dari Wisman hanya Sin$ 1,06 miliar.
Malaysia parah
Sementara itu, tren kunjungan Wisman ke Malaysia malah lebih parah.
Mengutip laman Xinhua pada 8 Juni, kunjungan Wisman ke negeri jiran itu turun 0,5 persen pada kurun Januari-April 2017 dibandingkan periode yang sama 2016.
Penurunan terbesar berasal dari Wisman asal Amerika Serikat (AS).
Melansir laman Bernama pada 19 Juni, kunjungan turis asal AS sepanjang Januari-April 2017 hanya 52.237 orang.
Artinya, ada penurunan sebesar 12,9 persen. Namun, kunjungan Wisman asal Tiongkok mencapai 551.000 orang, atau naik 7,5 persen.
Sedangkan, tren kunjungan wisman ke Thailand juga tak terlalu menggembirakan.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand, sebagaimana dilansir TTR Weekly akhir Mei lalu, kunjungan Wisman ke Negeri Gajah Putih pada empat bulan pertama 2017 mencapai 12,02 juta.
Angka itu hanya naik 2,91 persen dibandingkan periode yang sama 2016 lalu. Saat itu, sebanyak 11,68 juta wisman pelesiran ke Thailand.
Kunjungan turis asing dari beberapa negara ke Thailand juga anjlok cukup tajam. Penurunan terbesar terjadi dari Wisman Tiongkok yang anjlok 7,5 persen.
Sedangkan, peningkatan tertinggi berasal dari Wisman Rusia, yang sebanyak 595.618 turis. Jumlah itu meningkat 34,35 persen dibandingkan periode yang sama 2016 lalu, yang sejumlah 443.346 orang. (B-R/BS/jr)



