BENDERRAnews, 11/7/17 (Jakarta): Tepat hari Selasa (11/7/17) ini, sejumlah pentolan Ikatan Alumni Universitas Sam Ratulangi atau IKA Unsrat se-Jabodedetabek Plus, sepakat mendirikan Komando Bela Negara Universitas Sam Ratulangi yang disingkat Komando Bara Unsrat.
Sehari sebelumnya, beberapa alumni Universitas Indonesia (UI), juga membentuk sebuah forum bernama Forum Bela Negara Universitas Indonesia yang disingkat Bara UI.
Baik Hencky Luntungan (Alumni Unsrat) maupun Eri Sofyan (UI) secara terpisah menyatakan, para intelektual kini prihatin melihat kondisi saat ini, dimana sebagian anggota masyarakat digiring ke arah sikap yang melenceng dari kepatuhan terhadap ideologi bangsa (Pancasila) serta pilar-pilar kenegaraan (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI, Undang Undang Dasar 1945, dan Bhineka Tunggal Ika).
“Saatnya kita bergerak. Seluruh barisan pro Merah Putih harus merapatkan diri dan maju bersama, menggalang kekuatan, merangkul semua pihak yang mulai diiming-imingi ajaran-ajaran bertentangan dengan ideologi Pancasila, tak menghargai keberagaman dan kebhinekaan, serta mengangap UUD 1945 dan NKRI sebagai sesuatu yang harus dihilangkan,” tandas Hencky bersama sejumlah rekannya yang masuk dalam kepengurusan Komando Bara Unsrat.
Mereka selain Hencky (alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/Fisipol Unsrat), di antaranya ada juga WFP ‘Yuyu’ Kaunang (alumni Fakultas Kedokteran Unsrat), Cyprus Tatali dan Irwan Lalegit (alumni Fakultas Hukum Unsrat), Donny Lumingas dan Nelson Shinta (alumni Fakultas Ekonomi), Donald Pokatong (alumni Fakultas Pertanian), serta Henry Jacobos (eks mahasiswa Fakultas Teknik).
Gerakan ini juga mendapat dukungan penuh para senior mereka, seperti Elisa Filsafat Regar (alumni Fakultas Ilmu Budaya Unsrat), Albert Pontoh (alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat) serta dosen sekaligus pentolan Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP) Sulut, Dr Ir Terry Frans, MSi.
“Sebagai ideologi, Pancasila sudah final. Ini adalah landasan filosofis NKRI yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Di dalamnya seluruh kita dari aneka etnik terjamin keberadabannya,” tegas Filsafat Regar dan Terry Frans.
Sementara itu, aksi-aksi awal dari Komando Bara Unsrat, menurut Hencky, akan diwujudkan dalam bentuk pendidikan serta pelatihan bela negara bekerjasama dengan DPP GPPMP dan Komando Penegak Merah Putih (Kogamtih).
“Kami akan menggalang kebersamaan dengan para alumni dari beberapa perguruan tingi asal Indonesia Timur, seperti Universitas Negeri Manado (Unima), Universitas Pattimura, Universitas Cenderawasih dan lain-lain, juga kawan-kawan dari Indonesia bahagian Barat. Memperkuat kesadaran dan bela negara adalah tugas bersama. Mari kita maju bersama pula,” tandas Hencky Luntungan yang juga Panglima Komando Penegak Merah Putih (Kogamtih), sebuah barisan inti bentukan Ormas Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP).
Sedangkan Ketua IKA Unsrat Jabodetabek Plus yang juga Ketua Umum DPP GPPMP, Jeffrey Rawis, berharap, Komando Bara Unsrat segera melakukan aksi-aksi konkret di lapangan, jangan cuma berwacana.
Pembiaran negara
Sementara itu, Eri Sofyan mengatakan, salah satu aksi Bara UI dalam waktu dekat, ialah diskusi.
“Kami merasa masih sangat jarang kelompok-kelompok yang mengambil peran bela negara,” kata salah satu inisiator Bara UI ini kepada wartawan, Senin (10/7/17) kemarin.
Eri melihat, beberapa tahun belakangan ini terjadi pemiaran dari negara, sehingga menyebabkan nilai-nilai kebangsaan menjadi memudar.
Hal itu kemudian menyebabkan paham-paham yang bertentangan dengan ekempat pilar tadi mudah masuk ke masayrakat, sehingga menyebabkan terjadinya ‘chaos’.
Selain ajang diskusi, menurutnya, seperti dilansir ‘Kompas.com’ dan ‘Warta Kota’, mereka juga akan menjalin sinergi dengan pihak lain seperti dengan Ikatan Alumni UI atau Iluni.
Eri Sofyan juga berharap bisa memberikan masukan kepada pihak rektorat untuk kembali memasukkan kegiatan bela negara dalam kurikulum. (B/WK/KC/jr)



