10.1 C
New York
Saturday, April 11, 2026

Buy now

spot_img

Figur !!! LIPI: Parpol kecil butuh tokoh kuat jadi ‘jualan’, sosok Jokowi paling menguntungkan secara elektoral

BEBDERRAnewd, 3/8/17 (Jakarta): Faktor ketokohan yang menasional dengan karakter khas Indonesia ternyata tetap jadi hal utama dalam menaikkan popularitas Parpol. Demikian benang merah diskusi Institut Studi Nusantara, baru-baru ini.
Simpulan ISN ini masih terbukti dengan pilihan-pilihan yang diambil sejumlah Parpol, terkini Perindo-nya Hary Tanoe dan sebelumnya PNI Front Marhaen-nya Sukmawati Sukarno yang bergabung mendukung tokoh besar Indonesia kini, Joko Widodo pada Pilpres 2019.
Terkait itu pula, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menilai partai-partai kecil membutuhkan figur kuat untuk menggaet suara dan meningkatkan popularitas partai. Apalagi, partai-partai kecil yang muncul sekarang, tidak memiliki tokoh yang kuat untuk dijadikan “jualan”.

“Partai-partai kecil sekarang agak sulit yah karena tidak memiliki figur-figur kuat. Beda kalau dulu, di mana partai memiliki figur-figur yang kuat seperti Prabowo Subianto dengan Gerindranya, Wiranto dengan Hanura dan Surya Paloh dengan Nasdemnya,” ujar Syamsuddin di Jakarta, Kamis (3/8/17).

Dengan kondisi seperti itu, menurutnya, mau tidak mau, parpol-parpol kecil harus ikut mendukung figur terkenal, yang mampu menggaet suara dan mendongkrak popularitas.

Namun, kata dia, realitas politik yang ada, baru ada dua figur yang kuat untuk bertarung di Pemilihan Presiden 2019. “Pilihan saat ini memang baru dua tokoh yang cukup kuat, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang lain tidak terlalu sekuat kedua tokoh ini,” tandasnya.

Pilihan paling menguntungkan

Disebutnya, pilihan yang paling menguntungkann secara elektoral adalah mendukung Joko Widodo. Selain karena petahana, menurut dia, tingkat elektabilitas dan popularitas Jokowi juga tinggi. “Ini memang tidak terlepas dari kepuasan publik atas kinerja Jokowi dalam tiga tahun lebih menjabat sebagai presiden. Jadi dengan mendukung Jokowi, parpol-parpol kecil bisa mendapat keuntungan secara elektoral,” jelasnya, seperti dilabsir ‘BeritaSatu.com’.

Terkait tokoh-tokoh lain khususnya dari kalangan agama, Syamsuddin mengaku belum melihat adanya figur yang kuat. Meskipun, isu agama pasti akan digunakan di pemilu 2019. “Isu-isu agama nanti hanya digunakan dan dimanfaatkan oleh elite-elite politik untuk mendapat keuntungan politik atau menjatuhkan lawan politik. Namun, tidak ada tokoh agama yang cukup kuat dan punya basis untuk tampil sebagai calon presiden atau wakil presiden,” demikian Syamsyddin Harris. (B-BS/jr)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles