-0.7 C
New York
Monday, February 23, 2026

Buy now

spot_img

Mengejutkan !!! Pertama sejak 2016, Keputusan BI turunkan suku bunga

BENDERRAnews, 23/8/17 (Jakarta): Sebuah keputusan mengejutkan, yang diharapkan mampu lebih memacu perekonomian Indonesia, dikeluarkan oleh pihak Bank Indonesia.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari Selasa (22/8/17) kemarin, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-day Repo Rate sebesar 25 basis poin.

Dengan demikian, suku bunga acuan turun dari 4,75 persen menjadi 4,5 persen.

Analis riset FXTM Lukman Otunuga menyatakan, keputusan bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan benar-benar tidak diduga oleh investor.

Ini merupakan pertama kalinya BI menurunkan suku bunga acuan sejak Oktober 2016 guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

“BI memangkas suku bunga repo tujuh hari dari 4,75 persen menjadi 4,5 persen karena rendahnya konsumsi swasta memengaruhi sentimen dan pertumbuhan ekonomi,” kata Otunuga dalam laporannya, Rabu (23/8/17).

Rupiah relatif stabil

Sementara itu, ekonom Group Research DBS Gundy Cahyadi menuturkan, BI menggunakan kesempatan yang dimilikinya untuk memangkas suku bunga acuan.

Pasalnya, inflasi lebih rendah dari perkiraan, nilai tukar rupiah relatif stabil, dan risiko ekaternal pun dapat terkelola dengan baik.

Hal lain yang harus pula dicatat adalah BI juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan kredit menjadi 8 sampai 10 persen.

Ini yang menjadi alasan penting keputusan BI menurunkan suku bunga, meski ada risiko tekanan kenaikan suku bunga global pada 2018.

“Ada beberapa risiko yang membuat BI bisa merespon dengan penurunan lainnya pada Oktober,” jelas Gundy seperti dilansir ‘Kompas.com’.

Akan tetapi, untuk saat ini Gundy masih memandang bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan tetap pada posisi 4,5 persen sampai tahun 2018 mendatang.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit perbankan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Hingga paruh pertama 2017, penyaluran kredit masih belum menunjukkan angka yang menggembirakan.

Bank sentral mencatat, pertumbuhan kredit Juni 2017 sebesar 7,8 persen secara tahunan (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,7 persen (yoy).

“Kami akan koordinasi dengan otoritas fiskal dan yang lain, untuk mendorong penyaluran kredit,” tutur Perry.

BI: Segera respons

Secara terpisah, Gubernur BI, Agus DW Martowardojo menyatakan, pihaknya meminta perbankan untuk segera merespon penurunan suku bunga acuan dengan turut menurunkan suku bunga kredit.

Tujuannya ialah untuk menggenjot pertumbuhan kredit pada tahun ini dan tahun 2018 mendatang.

Bank sentral mencatat, pertumbuhan kredit Juni 2017 sebesar 7,8 persen secara tahunan (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 8,7 persen (yoy).

Menurut Agus, saat ini suku bunga kredit perbankan berada pada kisaran 11,73 persen per Juli 2017. Angka tersebut turun 4 basis poin (bps) dari posisi Juni 2017 yang sebesar 11,77 persen.

“Suku bunga kredit turun 4 bps, bunga deposito turun 2 bps, ini antara 2 bulan Juni ke Juli 2017. Rata-rata bunga kredit itu ada di sekitar 11,73 persen dan bunga deposito kisaran 6,49 persen,” kata Agus di Jakarta, Selasa (22/8/17) malam.

Turunkan bunga kredit

Pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan BI melalui suku bunga acuan yang sebanyak 175 bps dari awal 2016 hingga Agustus 2017, diharapkan dapat segera direpon perbankan dengan menurunkan suku bunga kredit maupun deposito.

Akan tetapi, hingga saat ini perbankan masih melakukan konsolidasi melalui penyehatan risiko kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

Ini membuat suku bunga kredit perbankan turun lebih lambat dibandingkan suku bunga deposito yang turun lebih cepat.

“Suku bunga kredit turun lambat karena ada NPL yang meningkat. Sehingga suku bunga kreditnya turun lama. Dengan penurunan BI 7-day Repo Rate ini bisa mendorong bank menurunkan suku bunga kredit yang nantinya dapat menopang pertumbuhan kredit,” terang Agus.

Guna mendukung pembiayaan perekonomian sekaligus memperdalam pasar keuangan, BI bersama otoritas terkait akan mempercepat proses konsolidasi perbankan serta mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan korporasi melalui pasar keuangan.

“Kebijakan ini bersama dengan penurunan suku bunga ditujukan untuk mendorong intermediasi perbankan yang lebih optimal guna mendukung upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional,” tutur Agus Marto. (B-KC/jr)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles