0.9 C
New York
Tuesday, February 24, 2026

Buy now

spot_img

Mengasihi !!! Uskup Katolik lindungi 2.000 warga Muslim di Afrika Tengah

BENDERRAnews, 1/9/17 (Bangui): Sebuah ekspresi hidup saling mengasihi sebagai sesama ciptaan TUHAN yang terus bergumul di dunia fana ini ditunjukkan seorang Uskup Katolik di Republik Afrika Tengah.

Dengan penuh kasih, uskup ini menyediakan tempat penampungan bagi sekitar 2.000 warga Muslim yang meninggalkan rumah mereka, karena khawatir diserang oleh milisi Kristen.

Juan Jose Aguirre Munoz, demikian nama uskup tersebut, mengatakan, demi alasan keamanan, untuk sementara warga Muslim yang ia tampung diminta tidak meninggalkan kompleks seminari di kota Bangassou, di Republik Afrika Tengah bagian timur.

Kepada BBC, Uskup Munoz mengatakan, ‘ada risiko kematian’ dari milisi anti-Balaka yang dihadapi para pengungsi.

Pekan lalu, kepala bantuan kemanusiaan PBB, Stephen O’Brien, memperingatkan kemungkinan terjadinya pembunuhan besar-besaran atau genosida di Republik Afrika Tengah.

O’Brien mengatakan, kekerasan meningkat dan situasi di lapangan semakin mengenaskan.

“Kekerasan makin buruk yang berpotensi mengulang terjadinya krisis yang mendera negara ini empat tahun lalu,” kata O’Brien.

Uskup Juan Jose Aguirre Munoz
Uskup Juan Jose Aguirre Munoz mengatakan, dirinya harus melindungi pengungsi Muslim dari kejaran milisi Kristen. (Getty Images)

“Sudah ada tanda-tanda terjadi genosida, kita harus ambil langkah sekarang,” katanya.

Ia mendesak PBB menambah jumlah polisi dan tentara di Republik Afrika Tengah untuk menjaga keamanan dan stabilitas.

Di negara ini, PBB memiliki 12.500 tentara dan polisi untuk melindungi warga sipil dan mendukung pemerintah Presiden Faustin-Archange Touadera yang terpilih tahun lalu.

Disebut O’Brien jumlah pengungsi mencapai sekitar 600.000 orang.

Pada 2013 terjadi kekerasan sektarian ketika pemberontak Muslim Seleka mengambil alih kekuasaan dan dituduh membunuh warga non-Muslim.

Tak lama kemudian dibentuk kelompok anti-Balaka. Tapi kelompok ini juga menghadapi tuduhan membunuh warga Muslim.

Republik Afrika Tengah merupakan bekas jajahan Prancis yang memiliki penduduk 4,5 juta jiwa dan dikenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia.

Empat tahun lalu pecah pertikaian antara milisi Islam dan Kristen, menyusul penggulingan Presiden Francois Bozize yang beragama Kristen oleh koalisi pemberontak Seleka.

Kristen Marawi dilindungi

Sementara itu, ada juga kisah cinta kasih pada Juni 2017 lalu, yang amat patut pula terus dihayati. Yakni, di tengah gelombang pengungsian warga kota Marawi di Filipina Selatan yang dikuasai kelompok afiliasi ISIS, Maute, seorang pemuka Muslim, Norodin Alonto Lucman, dengan perilaku mengasihi sesama, dipuji karena membantu menyelamatkan dan mengevakuasi puluhan warga Kristen.

Dua minggu telah berlalu sejak kelompok bersenjata mengibarkan bendera kelompok ISIS di Marawi, pemerintah waktu itu masih belum berhasil meredam kelompok yang ingin membentuk kekhalifahan ini. (Berbeda dengan situasi terkini, mayoritas teritori sudah dalam kendali pihak militer, Red).

Ketika itu, Klompok Maute menghancurkan banyak gedung dan menyandera pastor Katolik di Marawi, kota dengan penduduk Islam terbesar di negara berpenduduk mayoritas Katolik.

Dalam gelombang pengungsian ini, sejumlah warga Muslim melindungi pemeluk Kristen di rumah-rumah mereka dan membantu mereka mengungsi.

Norodin Alonto Lucman
Image captionNorodin Alonto Lucman, pemuka Muslim, yang menampung dan melindungi pemeluk Kristen di rumahnya.

Kisah yang paling inspirasional, menurut wartawan BBC, Jonathan Head yang berkunjung ke Marawi baru-baru ini, ialah Norodin Alonto Lucman.

Norodin sempat menyembunyikan lebih dari 70 pemeluk Kristen di rumahnya sebelum membantu mereka menyelamatkan diri akhir pekan lalu (03/06).

Ia mengajarkan mereka berteriak “Allahu akbar” (Tuhan Maha Besar) saat melalui pos-pos penjagaan.

Beberapa kali mereka ditanya apakah mereka Kristen dan mereka menyanggah sampai mereka tiba di tempat yang aman.

MarawiHak atas fotoAFP
‘Image caption’: Tank pemerintah di Marawi.

Saat mereka berjalan, semakin banyak penduduk sipil yang terjebak bergabung sampai terdapat lebih dari 160 orang, termasuk warga Muslim di kelompok itu.

Sesudah 12 hari, mereka berhasil keluar dari daerah konflik, kawasan yang berbau busuk akibat banyak jenazah korban pertempuran.

Norodin -mantan polisi terkenal- mengatakan, warga Muslim mempertaruhkan hidup mereka untuk melindungi rekan-rekan Kristiani mereka.

Ia mengatakan kenal dengan kelompok Maute yang mendatangi rumahnya dan meyakinkan mereka untuk pergi.

“Mereka datang untuk kedua kalinya (ke rumah) dengan komandan Maranao, orang berpangkat tinggi di kelompok Maute. Sejak itu tak ada yang mengganggu saya lagi. Kekhawatiran kami adalah bom, yang jatuh di dekat rumah-rumah dan juga pertempuran yang terjadi di dekat rumah kami,” kata Norodin kepada BBC.

Para pengungsi -yang harus melewati para penembak jitu di Marawi- mengatakan kepada kantor berita Reuters, mereka menerima pesan teks berisi peringatan akan adanya pemboman.

MarawiHak atas fotoAFP
‘Image caption’: Para petugas membantu warga yang terperangkap di Marawi menyelamatkan diri.

“Kami mendapat info dari komandan bahwa kami harus segera keluar,” kata Leny Paccon, yang menampung 54 orang di rumahnya termasuk 44 pemeluk Kristen.

“Begitu kami dapat SMS, kami langsung keluar (Marawi),” katanya.

“Kami mengucapkan Allahu akbar,” katanya kepada kantor berita Reuters dan menambahkan bahwa dengan bantuan warga Muslim mereka dapat melalui berbagai pos penjagaan.

Mereka yang melarikan diri termasuk guru-guru dari Dansalan College. Yakni sekolah protestan yang dibakar pada hari pertama pertempuran.

Pejabat Filipina mengatakan di antara beberapa ratus militan yang menguasai Marawi pada tanggal 23 Mei lalu, termasuk 40 orang asing dari Indonesia dan Malaysia serta pejuang dari India, Arab Saudi, Moroko dan Chechnya.

pengungsi Marawi
‘Image caption’: Pengungsi yang berhasil menyelamatkan diri memerlukan bantuan pangan segera.

Gencatan senjata selama empat jam untuk mengungsikan penduduk sempat terganggu tembakan pada Minggu (4/6/17) lalu, seperti dilansir ‘Detik.com’.

Dengan terowongan anti-bom, senjata anti-tank yang disembunyikan di masjid-masjid, tameng manusia dan pengetahuan tentang kondisi setempat, membuat kelompok militan ini sedikit sulit dikalahkan, jauh dari perkiraan para pemimpin militer sebelumnya.

MarawiHak atas fotoAFP
‘Image caption’: Tentara memburu para militan dengan masuk dari rumah ke rumah.

Banyak yang memuji langkah Norodin menyelamatkan warga Kristen Marawi melalui media sosial media di Filipina ANC.

Sejumlah pujian termasuk akun atas nama Marce Delos Santos yang menulis, “Terima kasih Norodin Luchman, Semoga Allah memberi ganjaran atas kebaikanmu,” dan Bernard Martin yang menyatakan, “Pujian untuk Muslim yang baik dan matilah kau teroris,” serta Henry Borbon Hernandez yang menulis singkat, “Inilah Islam.”

Norodin Alonto Lucman
‘Image caption’: Norodin menampung dan melindungi 71 pemeluk Kristen di rumahnya di Marawi sebelum membawa mereka keluar dari kota itu.

Namun tak sedikit yang mengungkapkan kekhawatiran dan kemarahan terhadap media, karena menganggap memberitakan mereka justru akan membahayakan.

Akun atas nama Ma Fu Ya menyatakan, “ANC tolong bertanggung jawab atas orang yang Anda beritakan,” dan Mir Clem yang menulis, “Hal seperti ini seharusnya tak masuk berita, karena Anda membahayakan mereka semua. Keluarkan berita ini pada saat perang berakhir.”

pengungsi MarawiHak atas fotoREUTERS
‘Image caption’: Seorang anak menggambarkan apa yang dia alami di tempat pengungsian di SD Pantar di Lanao Del Norte

Sejauh ini, menurut data pemerintah Filipina, 1.545 warga sipil telah diselamatkan dari Marawi, kota yang berpenduduk 200.000 jiwa itu.

Hingga kini dari berbagai laporan menyebutkan, korban yang tewas berkisar 500-an, sementara anggota kelompok militan lebih dari 400, dan berkisar 50 tentara pemerintah. (B-DC/jr)

 

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles