BENDERRAnews, 12/9/17 (Jakarta): Fenomenal dan berhasil memporak-porandakan pakem. Itulah terobosan yang dilakukan Lippo Group melalui pengembangan Kota Meikarta. (Simak selanjutnya: http://solussinews.com/2017/09/12/pengakuan-meikarta-dan-apresiasi-dari-para-kompetitor-fenomenal-dan-porak-porandakan-pakem-pakem/)
http://solussinews.com/2017/09/12/pengakuan-meikarta-dan-apresiasi-dari-para-kompetitor-fenomenal-dan-porak-porandakan-pakem-pakem/
Itu merupakan sikap dari para kompetitor atau pesaing PT Lippo Karawaci Tbk (LPCK), salah satu korporasi di bawah payung Lippo Group, yang menjadi pengembang Kota Meikarta. Mereka pun sepakat mengapresiasi dan angkat topi atas terobosan LPCK tersebut.
Apakah ini ekspresi dari suatu ekonomi kekeluargaan. Mungkin itu yang sedang terjadi di sektor bisnis properti nasional. Tak ada rasa cemburu atau saling sikat-sikut. Yang ada justru saling mengakui, memberi apresiasi, sekaligus bergandengan tangan bersama untuk maju bersama demi memenuhi kebutuhan defisit rumah bagi warga Indonesia yang kini mencapai ‘back-log’ 11,4 hingga 11.8 juta unit.
Itulah nuansa di lingkup para Pengembang (pelaku industri properti). Lain lagi dari kalangan pengamat dan praktisi properti yang menilai, Meikarta merupakan ikon properti nasional saat ini. (Lihat di: http://TakTikInfo.com/2017/07/21/realistis-lippo-teruji-pengamat-properti-kota-meikarta-ikon-baru-properti-nasional/)
http://TakTikInfo.com/2017/07/21/realistis-lippo-teruji-pengamat-properti-kota-meikarta-ikon-baru-properti-nasional/
Sementara itu, seorang akademisi Universitas Indonesia (UI) menilai, Meikarta sesungguhnya sebuah ‘master piece’ Lippo Group yang sangat layak jadi acuan dalam pengembangan kawasan hunian masa depan. (Pelajari di: http://solussinews.com/2017/08/19/3622/)
http://solussinews.com/2017/08/19/3622/
Ini langkah patriotik
Selanjutnya, ada pendapat seorang pakar properti. Salah satunya menilai, keputusan pengembang Lippo Group yang mampu menawarkan unit apartemen di kota mandiri Meikarta dengan harga sangat murah patut diacungi jempol, bahkan merupakan langkah patriotik.
Langkah itu diyakini bakal mampu melahirkan hunian dengan jumlah warga yang sangat besar, yang menjadi modal penting untuk pengembangan kawasan tersebut.
Demikian disampaikan F Rach Suherman, CEO dari F Suherman Management, konsultan pengembangan dan pemasaran properti, di Jakarta, Selasa (12/9/17).
Dia tak menampik, harga jual yang ditekan hingga berkisar Rp 6 juta per meter persegi di Meikarta, tentu menyisakan banyak pertanyaan.
“Jika tidak dibarengi dengan cross development strategi di areal yang mahaluas tersebut, satuan biaya lahan dan bangunan dengan harga Rp 6 juta (per meter persegi) adalah absurd,” ujarnya, seperti dilansir ‘Suara Pembaruan’ dan dicuplik ‘BeritaSatu.com’.
Khusus berpenghasilan rendah
Namun, dia yakin, strategi itu akan menjadikan Meikarta sebagai konsentrasi hunian baru dengan harga yang terjangkau masyarakat. Menurutnya, strategi yang mampu menarik ratusan ribu pembeli akan berdampak pada terciptanya hunian masif dengan jumlah penduduk yang besar.
“Ini modal mahapenting untuk memudahkan pengembangan berikutnya, termasuk kawasan-kawan komersial,” jelasnya.
Dia menyarankan, pengembang sebaiknya menyisihkan 20 persen dari unit yang dibangun khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
“Bahwa proyek ini lumayan patriotik, saran saya sisihkan 20 persen dari tower yang dibangun untuk diseleksi hanya kepada masyarakat berpenghasilan rendah, dan tidak boleh ada peluang pembeli yang sekadar membeli untuk investasi properti. Ini akan tercipta harmoni hebat yang melepaskan primordial sosial karena perbedaan status ekonomi. Lippo belum terlambat untuk mewujudkannya,” katanya.
Luar biasa berani
Sebelumnya, Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), Syarif Burhanuddin menyatakan pembangunan kota mandiri Meikarta merupakan terobosan yang sangat berani dan luar biasa. Tawaran produk hunian di Meikarta di bawah Rp 7 juta per meter persegi, atau Rp127 juta per unit juga sangat murah dan menarik.
“Harga Rp127 juta itu sudah sangat murah, karena standar kredit sudah Rp180 juta-an di Jabodetabek,” ungkap Syarif menjawab pertanyaan moderator Najwa Shihab pada talkshow “BTN Golden Property Awards 2017” di Jakarta, Senin (11/9/17).
Dikatakannya lagi, penuntasan 11,4 juta defisit perumahan membutuhkan terobosan dari BUMN dan swasta. Kisaran harga Rp127 juta per unit apartemen di kota baru Meikarta yang ditawarkan Lippo Group sangat membantu masyarakat menengah ke bawah.
“Kisaran harganya terjangkau masyarakat menengah bawah yang punya penghasilan Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per bulan,” tuturnya.
Lippo ciptakan komunitas
Konsep hunian Meikarta berbeda dengan yang lain. Harga apartemen Meikarta sangat kompetitif karena Lippo tidak mengandalkan hasil penjualan apartemen tersebut. Lippo menciptakan komunitas.
Dari situ, akan muncul kebutuhan terhadap pendidikan (sekolah), kesehatan (rumah sakit), tempat perbelanjaan (mal), restoran, perkantoran, dan lain-lain. Dari pelayanan itulah Lippo memberikan subsidi harga.
Menanggapi hal tersebut, CEO Grup Lippo James Riady menjelaskan, proyek Meikarta sejak awal dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang harganya terjangkau.
Itu sebabnya, harga yang ditawarkan Rp6,7 juta per meter persegi, atau hanya sekitar Rp 127 juta per unit. “Bahkan diberi fasilitas terbaik, seperti lift,” demikian James Riady. (Jeffrey Rawis, dari berbagai sumber — foto ilustrasi istimewa)



