BENDERRAnews, 8/10/17 (Jakarta): Reputasi Bandara Internasional Soekarno Hatta semakin membanggakan kita.
Pasalnya, berdasarkan laporan Megahubs International Index 2017 versi lembaga asal Inggris, OAG, Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinobatkan sebagai Bandara paling terkoneksi ke-7 di dunia atau ke-2 di kawasan Asia Pasifik.
“Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia dengan jumlah pergerakan penumpang mencapai 60 juta penumpang per tahun dan terus meningkat. Guna mengakomodir tumbuhnya permintaan penerbangan dari berbagai negara ke depannya maka AP II kini tengah melakukan pengembangan baik itu di sisi udara maupun sisi darat,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero), Muhammad Awaluddin dalam rilis, Minggu (8/10/17).
Dalam laporan Megahub International Index 2017, Bandara Internasional Soekarno-Hatta mendapat nilai indeks konektivitas 256 atau hanya terpaut satu poin dari Bandara Internasional Changi, Singapura, yang meraih nilai 257.
Nilai indeks itu menggambarkan bahwa di Bandara Internasional Soekarno-Hatta terdapat sekitar 35.000 kemungkinan konektivitas internasional dalam jangka waktu satu hari.
Harus ‘improve’ lagi
Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyambut gembira rilis data Top 50 Megahubs International Index 2017 yang menyebutkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali duduk di peringkat ke-7 sebagai Bandara paling terkoneksi di dunia.
Indeks tersebut dirilis oleh perusahaan yang berbasis di UK, Air Travel Intelligence dengan menggunakan basis data international seat capacity sejak Juli 2016 hingga Juli 2017.
“Pasti ini membanggakan,” ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Perekoniman, Jakarta, Jumat (6/10/17), seperti dilansir ‘Kompas.com.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta hanya kalah dari Heathrow, Frankfurt, Amsterdam, Chicago US, Toronto Canada, dan Changi Singapura. Bahkan di Asia Pasifik, bandara kebanggan masyarakat Indonesia itu ada diperingkat kedua, di bawah Bandara Changi.
Disebut Budi, hasil tersebut merupakan harapan yang terwujud dan berbanding lurus dengan upaya pemerintah mendatangkan banyak turis ke Indonesia. Tentu, salah satunya melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Jadi saya pikir pengakuan dunia ini sebagai sesuatu yang baik. Tetapi di luar itu, kita memang harus improve lagi supaya peringkatnya lebih naik lagi,” katanya.
Secara khusus, Budi memuji kinerja operator Bandara Internasional Soekarno-Hatta yaitu PT Angkasa Pura II (AP II). Menurutnya, AP II mampu menggandeng imigrasi dan Bea Cukai sehingga pelayanan di bandara tersebut menjadi lebih baik.
Ke depan, Budi mengharapkan agar peringkat Indonesia bisa terus melejit. Kementerian Perhubungan tutur dia, akan terus memperbaiki regulasi sehingga mampu meningkatkan semua kualitas bandara di Indonesia, baik dari sisi keamanan dan pelayanannya.
Stabilitas operasional
Ada pun dalam menentukan nilai indeks tersebut, OAG menghitung total kemungkinan konektivitas Bandara untuk penerbangan datang dan berangkat dalam masa jendela waktu enam jam.
Sementara itu, kriteria untuk menentukan konektivitas di antaranya ialah penerbangan internasional menuju atau dari bandara tersebut, dan penerbangan internasional yang termasuk domestik ke internasional, internasional ke domestik, serta internasional ke internasional.
“Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga terdapat rute internasional tersibuk kedua di dunia yaitu Jakarta-Singapura dengan jumlah penumpang mencapai 322.488 penumpang setiap bulannya. Hal ini menandakan bahwa Bandara Internasional Soekarno-Hatta mampu mempertahankan stabilitas operasional bahkan semakin baik dengan sejumlah rute baru yang dibuka baik itu penerbangan domestik maupun internasional,” jelas Muhammad Awaluddin sebagaimana dilansir ‘Antara’ dan dicuplik ‘BeritaSatu.com’.
Disebutnya, stabilitas operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta didukung oleh tiga hal yakni kesiapan infrastruktur bandara di sisi udara dan sisi darat termasuk terminal penumpang.
Kemudian, lanjutnya, sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, serta efisiensi dan efektifitas operasional yang semakin meningkat secara berkelanjutan seiring dengan implementasi program smart airport.
Terkait infrastruktur, AP II tengah melakukan pengembangan secara masif yang mencakup tiga sektor yakni revitalisasi Terminal 1 dan 2, pembangunan Terminal 3 dan 4, serta peningkatan kapasitas runway 1 dan 2, lalu pembangunan runway 3. (B-AN/BS/KC/jr)



