BENDERRAnews, 23/1/18 (Jakarta): Hari Senin (22/1/18) kemarin, Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto alias AH mengumumkan sususan kepengurusan yang dipimpinnya.
Pengumuman kepengurusan lengkap itu berlangsung di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar (PG), Jln Anggrek Neli, kawasan Slipi, Jakarta Barat.
Tercatat 251 orang yang masuk pengurus dengan 75 orang di antaranya kader perempuan.
Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menilai, komposisi kepengurusan PG di bawah kepemimpinan AH mengakomodasi semua faksi yang ada di dalam Golkar.
Kepengurusan tersebut bisa mengangkat kembali elektabilitas Golkar yang terpuruk di bawah angka 10 persen.
“Kepengurusan yang baru sudah bagus dan cukup representatif. Kepengurusan mengakomodir semua faksi. Awalnya banyak yang mulai mencurigai adanya aroma bersih-bersih loyalis Setya Novanto, tapi faktanya seperti Idrus Marham masih masuk di kepengurusan,” kata Pangi di Jakarta, Senin (22/1/18) malam seperti dilansir ‘Suara Pembaruan’.
Cukup demokratis
Ia melihat, restrukturisasi kepengurusan di bawah AH cukup demokratis. Dari 251 pengurus DPP Golkar, 75 ialah perempuan. Artinya, dari segi kuota perempuan 30 persen (‘affirmativ action’) telah dicapai. Ini sangat memperhatikan soal keterwakilan perempuan dalam kepengurusan
“Saat ini struktur kepengurusan DPP Golkar berjumlah 251 orang. Jumlah itu lebih sedikit daripada kepengurusan DPP Golkar yang lalu yang berjumlah 305 orang. Itu artinya kepengurusan Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartato cukup ramping, sehingga lebih efektif dan lebih efisien,” ujar Pangi.
Dia melihat di bawah tangan dingin AH, Golkar bisa diselamatkan dan bisa menjadi parpol pemenang Pemilu.
“Memang tidak mudah dan gampang membangkitkan trust building dan membangkitkan animo kepercayaan publik atau masyarakat terhadap Golkar. Terutama kasus korupsi yang menurunkan elektabilitas Golkar dua digi”Kepengurusan Airlangga Hartato harus mampu membuat gebrakan dan bisa memulihkan citra dan menumbuhkan elektabilitas partai Golkar,” kata Pangi.
Sarat kompromi
Secara terpisah, analis politik dari ‘Exposit Strategic’, Arif Susanto menilai, struktur kepengurusan baru Partai Golkar sarat kompromi dan akomodasi.
Hal itu terlihat dari dimasukkanya figur-figur dari kubu yang sebelumnya berlawanan selama Munaslub. Kondisi tersebut, membuat struktur kepengurusan partai masih gemuk.
“Namun, perimbangan kekuatan dan keberagaman representasi yang terjadi bisa membuat kekuasaan Ketua Umum Airlangga Hartarto stabil, sedikitnya hingga 2019 nanti,” kata Arif di Jakarta, Senin (22/1/18) awal pekan ini.
Disebut Arif, pihaknya melihat penunjukan Letnan Jenderal (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) cukup mengejutkan. Meski nama ini sudah masuk dalam kepengurusan terdahulu, namun posisi penting yang diemban mantan Danjen Kopassus ini agaknya terkait dengan strategi untuk menghadapi persaingan semakin keras antar-partai menuju Pemilu 2019.
“Loedwijk belum banyak dikenal tapi bagian dari strategi menghadapi pemilu,” tuturnya.
Bidik kelompok muda
Arif menjelaskan, kepengurusan juga cukup berwarna karena memadukan figur-figur senior seperti Indra Bambang Utoyo dan figur-figur muda seperti Ahmad Doli Kurnia.
Dengan model tersebut, Golkar tampaknya tidak ingin terus-menerus bergantung kepada para pemilih tradisionalnya.
“Golkar sudah mulai membidik kelompok lebih muda sebagai basis pemilih, termasuk pemilih pemula,” jelasnya.
Dia menambahkan, dalam menjalankan organisasi, Airlangga menghadapi beberapa tantangan penting. Pertama, mempertahankan soliditas internal partai. Kedua, mengupayakan kemenangan pasangan yang diusung dalam Pilkada serentak 2018. Ketiga, mengembangkan posisi tawar lebih baik berhadapan dengan Presiden Jokowi hingga 2019.
“Keempat, membuktikan bahwa Golkar bersih bukan semata slogan dan kelima, meraih simpati publik yang terus menurun sejak 1999,” demikian Arif Susanto. (B-SP/BS/jr)



