BENDERRAnews, 15/5/18 (Jakarta): Seluruh kesatuan TNI dan Polri memiliki pasukan elite yang siap menangani segala ancaman teror termasuk teror bom hingga penyanderaan.
Dan pasukan elite Indonesia berulang kali teruji dalam penanggulangan aksi-aksi teror dan mendapat sering mendapat pengakuan internasional.
Pertama: “Tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat”
Detasemen Khusus 81 Kopassus (TNI AD) atau lebih dikenal dengan nama Sat-81 yang dulunya disebut sebagai Den-81 Gultor (Penanggulangan Teror).
Pasukan ini dibentuk pada 30 Juni 1982. Latar berlakang dibentuknya Sat-81 berawal dari keberhasilan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) melakukan pembebasan sandera oleh teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla di Thailand pada 31 Maret 1981.
Operasi Kopassandha tersebut di bawah komando Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.
Komandan pertama Sat-81 ialah Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya Prabowo Subianto.
Di masa awal pembentukan Sat-81 Luhut dan Prabowo dikirim ke Grenzschutzgruppe-9 (GS-9) Jerman untuk mempelajari upaya penanggulangan teror.
Ciri khas dari pasukan ini adalah bergerak dalam unit kecil dengan durasi penyelesaian singkat dalam menanggulangi serangan teroris. Sebagaimana visi dan misinya, “tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat”.
Kedua: Ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul
Detasemen Khusus 88 Antiteror (Polri) atau Densus 88, yang dirintis oleh Gories Mere dan diresmikan pada 26 Agustus 2004 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Polisi Firman Gani.
Densus 88 ditugaskan untuk menangani segala macam ancaman teror, dari teror bom hingga penyanderaan.
Komposisi tim ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.
Sejumlah operasi yang pernah sukses dilakukan oleh Densus 88, di antaranya, penggerebekan buronan Dr Azhari di Kota Batu Malang, Jawa Timur pada 2005. Lalu penangkapan Yusron Mamudi alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah dan Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Jebres, Solo. Dalam operasi ini empat teroris tewas, salah satunya ialah Noordin M Top.
Ketiga: ‘Hantu laut’
Detasemen Jalamangkara (TNI AL) atau dikenal dengan nama Denjaka. Ini merupakan detasemen khusus penanggulangan teror aspek laut.
Denjaka juga merupakan gabungan personel terbaik dari dua pasukan khusus TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) Korps Marinir. Demikian ANTARA.
Denjaka dibentuk pada 13 November 1984. Kemampuannya tak hanya untuk bertempur tetapi juga sebagai satuan intelijen tempur handal.
Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Pasukan yang dijuluki hantu laut ini juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, vertikal, dan udara.
Keempat: ‘Setia, Terampil, Berhasil’
Satuan Bravo 90 (TNI AU) atau yang dikenal dengan Satbravo-90 (sebelumnya Detasemen Bravo 90). Ini merupakan satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) yang berkedudukan di bawah Komandan Korpaskhas.
Satbravo-90 dibentuk sekitar tahun 1990 pada era kepemimpinan Marsma TNI Maman Suparman selaku Komandan Puspakhas saat itu.
Spesialisasi Satbravo-90 ialah melumpuhkan Alustsista musuh dalam mendukung operasi dan penindakan teror serta pembajakan di udara. Satbravo-90 memiliki moto ‘Setia, Terampil, Berhasil’. Demikian ANTARA.
Kelima: Elite gabungan
Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab). Koopssusgab dibentuk pada 9 Juni 2015 oleh Jenderal Moeldoko selaku Panglima TNI kala itu.
Tim ini merupakan gabungan pasukan khusus dari tiga matra TNI, yakni Sat-81, Denjaka, dan Satbravo-90.
Pasukan khusus ini berjumlah 90 personil. Mereka disiagakan di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat dengan status operasi, sehingga siap siaga setiap saat ada perintah untuk terjun menanggulangi teror. Demikian CNN Indonesia.
Pasukan ini sudah ditiadakan. Namun baru-baru ini Moeldoko yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan menyarankan Presiden Joko Widodo untuk menghidupkan kembali Kopssusgab. Saran ini tak lepas dari peristiwa penyerangan dan penyanderaan oleh napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Demikian dilansir dari ‘Detik.com’. (B-AN/CN/DC/jr — foto ilustrasi istimewa)



