BENDERRAnews, 20/6/18 (Jakarta): Ternyata, kemacetan panjang yang menjadi mimpi buruk bagi pengguna jalan, minim terjadi pada saat mudik tahun 2018 ini. Termasuk pada saat arus balik ke Ibu Kota Jakarta.
Apa rahasianya?
Selain pembangunan infrastruktur (jalan tol dan arteri, jembatan dst) yang berhasil digenjot pemerintah, juga ada koordinasi efektif antara Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dengan sejumlah pemangku kepentingan seperti PT Jasa Marga, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta instansi lainnya.
Mereka melakukan berbagai upaya untuk mengatasi dan mengurai kepadatan kendaraaan yang terjadi pada arus balik.
Kepala Bagian Pembinaan dan Operasional Direktorat Lalu Lintas Polda Metro, Jaya AKBP Sudarmanto mengatakan, langkah polisi dalam mengatasi arus balik dari arah Cikampek ke Jakarta adalah bersinergi, berkolaborasi dan memanfaatkan Posko TMC Polda Metro maupun yang ada di NTMC Korlantas Polri. Kemudian, berkoordinasi dengan pemangku kepentingan khususnya pihak Jasa Marga, Kementerian PUPR, Dinas Perhubungan, dan Polres-Polres setempat.
“Manakala kami sudah mendapatkan informasi dari Cipali-Cikopo arus lalu lintas di sana meningkat, kami sudah mulai ancang-ancang, khususnya yang menjadi wilayah Polda Metro Jaya yaitu dari KM 41-42 sampai Cikarang Utama KM 29,” ujar Sudarmanto sebagaimana dilansir ‘BeritaSatu.com’, Rabu (20/6/18).
Tambah gate transaksi
Dikatakan, apabila KM 41 hingga KM 29 mengalami kepadatan atau stagnan, langkah pertama ialah berkoordinasi dengan Jasa Marga menambah gate transaksi dengan memanfaatkan mobile reader di Pintu Gerbang Tol Cikarang Utama.
“Kalau itu juga tidak bisa mengakomodir, kami mengambil langkah contraflow dari KM 42 sampai KM 29 Cikarang Utama. Apabila itu masih tidak mampu keluar dari Cikarang Utama kita lakukan contraflow sampai ke Halim-Cawang KM 3+100,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, apabila upaya contraflow tidak bisa mengurai kepadatan kendaraan, polisi memberlakukan rekayasa lalu lintas satu arah atau one way. “Langkah akhir upaya kita adalah pemberlakuan one way dari KM 41 sampai KM 3+100 Cawang-Halim,” katanya.
Minimnya rest area
Sudarmanto menyampaikan, kendala yang dihadapi di lapangan ialah minimnya rest area. Hanya ada tiga rest area dari KM 41 hingga KM 3+100 Halim yakni, di KM 34, KM 32 dan KM 6. Selain itu, proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) juga menjadi kendala karena ada penyempitan lajur (bottleneck).
“Upaya dari Ditlantas karena minimnya rest area, kami bekerja sama dengan pihak Jasa Marga dan Kementerian PUPR, di mana ada lahan yang kosong itu kami buka sementara sebagai rest area darurat,” katanya lagi.
Karena, menurutnya, masyarakat yang dari Jawa khususnya ini pada lelah, kebelet buang air kecil dan sebagainya.
“Kami berikan pelayanan untuk buang air kecil sementara, tetapi tidak bisa untuk salat dan lain sebagainya. Jadi hanya untuk refresh sebentar yang penting dia bisa sedikit istirahat, menenangkan pikiran, melepaskan lelah, dia jalan kembali. Kami berikan space waktu mungkin 30 menit sampai 1 jam paling lama,” jelasnya.
Arus balik terpecah
Sudarmanto mengungkapkan, arus balik kali ini terpecah karena dengan libur panjang pemudik dapat merencanakan waktu kembali ke Jakarta. Sehingga, waktu balik tidak berbarengan.
“Kami bersyukur pemerintah mengambil langkah libur panjang. Sehingga kemarin bapak Kapolri (Jenderal Tito Karnavian) melalui Kadiv Humas dan para Kapolda mengimbau kepada masyarakat, yang diperkirakan arus puncak balik itu di tanggal 19-20 Juni, diimbau pada hari Minggu supaya nyicil pulang supaya tidak terjadi kepadatan. Sehingga, kemarin Minggu sore kami sudah memberlakukan one way, kemudian Senin sore, kemarin (Selasa) sore juga melakukan one way,” paparnya.
“Ya harapan kami seperti itu. Orang yang mudik balik tidak terkonsen pada dua hari itu (19-20 Juni) tapi terpecah mulai hari Minggu sehingga tidak terlalu padat,” tambahnya.
Ia menyebutkan, 1.273 personel lalu lintas yang disiagakan tidak cukup untuk mengurai kepadatan karena ternyata dibutuhkan lebih banyak personel untuk melakukan pengaturan dan pengamanan di lapangan.
“Jumlah personel tidak sesuai dengan perencanaan kami. Karena dengan pola one way, personel 2/3 kami kerahkan ke lapangan. Contoh misalkan, begitu one way diberlakukan tidak hanya di tol, tetapi pintu-pintu yang mau masuk kami maksimalkan anggota karena pengalihan arus. Termasuk yang di exit pintu keluar kami jaga. Kenapa, karena masyarakat mencari yang mudah, gampang, dia lawan arus, nah ini bahaya yang terjadi,” tandasnya.
Peningkatan volume
Sementara itu, berdasarkan catatan PT Jasa Marga, sebanyak 116.104 kendaraan telah melintasi Gerbang Tol Cikarang Utama, Jalan Tol Jakarta-Cikampek, pada H+2 Lebaran atau Senin (18/6) kemarin. Kemudian, diprediksi 105.400 kendaraan melintasi GT Cikarang Utama pada Selasa (19/6) kemarin.
“Peningkatan volume lalu lintas arus balik pada Senin (18/6), di GT Cikarang Utama adalah sebesar 116.104 kendaraan atau meningkat 63 persen dari volume lalu lintas harian normal yaitu, 71.398 kendaraan,” ujar Senior Specialist Corporate Communications PT Jasa Marga Irra Susiyanti, Selasa (19/6/18) kemarin.
Sedangkan, menurut pemantauan Jasa Marga pada arus mudik mulai H-8 hingga hari H Lebaran 2018, Jumat (15/6) kemarin, tercatat 816.696 kendaraan keluar dari Jakarta melalui Gerbang Tol Cikarang Utama. (B-BS/jr)



