0.3 C
New York
Monday, February 23, 2026

Buy now

spot_img

Basi !!! Riset lama dari Moody’s diangkat lagi, padahal likuiditas Lippo terkini bagus

BENDERAnews, 21/6/18 (Jakarta): Entah apa alasannya, sebuah hasil riset yang bisa dibilang sudah basi, karena dilakukan pada bulan Maret lalu oleh sebuah lembaga pemeringkat (rating) perusahaan, kini diangkat lagi.

Rudy Rudolf Jafet, pengamat sekaligus praktisi manajemen keuangan di Jakarta, yang banyak pula terjun di dunia investasi, properti serta ritel, di Jakarta, Kamis (21/6/18) menilai, hasil pernilaian lama dari Moody’s Investors Service saat menurunkan rating perusahaan dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif terhadap salah satu anak perusahaan Lippo Group, merupakan sebuah informasi mengada-ada.

“Saya ikuti sejak hasil riset itu terbit, lalu kemudian ada respons dari Lippo Group. Malah, kemudian manajemennya ikut memaparkan kinerja perseroan di Bursa Efek Indonesia. Selanjutnya, situasinya terus berubah dan berkembang dinamis,” ujarnya.

Karena itu, dia tidak paham, kenapa ada media yang masih mengangkat informasi berbasis hasil riset lama seperti ini.

“Terus terang, saya tidak habis pikir, kenapa hasil riset yang sudah usang, atau bisa dikatakan basi ini, masih dipakai sebagai basis informasi. Sekarang khan dinamika perkembangan serba cepat, tidak lagi menghitung tahun, atau bulan. Sejam saja yang lalu bila ada sesuatu, langsung ada upaya perubahan (perbaikan),” ujarnya.

Respons Lippo

Dalam pemberitaan itu, memang PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), salah satu divisi bisnis Lippo Group yang bergerak di sektor properti, disebut-sebut mengalami permasalahan likuiditas. Ini kemudian disebut membuat Moody’s menurunkan rating perusahaan dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif.

Merespons hal itu, Head Of Corporate Communication Lippo Karawaci, Danang Kemayan Jati menegaskan, LPKR tidak mengalami permasalahan likuiditas.

Bahkan ia mengungkapkan, tahun ini perusahaan membagikan dividen tunai sebesar Rp61,48 miliar atau Rp2,7 per lembar saham.

“Kami tidak kekurangan likuiditas, masih untung, bahkan bagi deviden,” tuturnya, sebagaimana dirilis kepada media, dan juga diberitakan Detik.com, Kamis (21/6/18)

Ditambahkan, jika dilihat dari kinerja keuangan LPKR, pada 2017 laba bersih perusahaan memang turun 30,39 persen dari 2016 sebesar Rp882,41 miliar menjadi Rp614,17 miliar. Tapi, penurunan itu lantaran naiknya beban pokok pendapatan menjadi Rp6,33 triliun dan beban usaha menjadi Rp3,13 triliun.

Ini juga berimbas pada kondisi kas perusahaan juga turun dari posisi akhir 2016 sebesar Rp3,24 triliun menjadi Rp2,53 triliun di akhir 2017.

“Namun sampai dengan Mei masih mencatat keuntungan Rp 133 miliar,” kata Danang Kemayan Jati. (B-DC/jr)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles