BENDERRAnews, 2/7/18 (Moskow): Aneka perasaan hati tercurah dari banyak kalangan penyuka sepakbola, pasca-tersingkirnya sejumlah tim juara, sèperti Jerman, Argentina dan Spanyol.
Pelatih Timnas Spanyol, Fernando Hierro pun ikut-ikutan ‘Curhat’. Ia menggambarkan, masa jabatannya sebagai pelatih Spanyol sebagai “kesenangan” meski diakhiri dengan kegagalan terhentinya tim Matador di babak 16 besar. Langkah Spanyol dihentikan Rusia dalam drama adu penalti.
Hierro juga ‘Curhat’, kekalahan ini sangat mengecewakan. “Ini menyakitkan kami semua. Kami datang untuk melakukan sesuatu yang penting, berjuang untuk Piala Dunia, tapi itu sepakbola,” kata Hierro.
Soal kelanjutan kariernya, Hierro mengaku belum tahu apakah akan mengambil peran sebagai pelatih permanen atau tidak. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada federasi.
Mantan bek Real Madrid itu sebelumnya dipercaya sebagai direktur teknis Federasi Sepakbola Spanyol sebelum keputusan mengejutkan dipecatnya pelatih Julen Lopetegui beberapa hari jelang laga pembuka Piala Dunia.
“Ini tidak ada hubungannya dengan komitmen, persahabatan, dan upaya yang mereka lakukan setiap hari. Sangat menyenangkan bisa melatih mereka. Jika ada yang perlu dikritik, saya adalah pelatih dan saya yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” ujarnya.
“Masa depanku? Ini bukan keputusanku apakah aku tinggal. Setelah eliminasi ini, apa yang aku lakukan tidak masalah.”
Spanyol memenangkan Piala Dunia pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan (menang atas Timnas Belanda di final, berkat satu gol pemain Barcelona, Andres Iniesta, Red). Tetapi mereka tersingkir di rintangan pertama empat tahun kemudian di Piala Dunia 2014 Brasil, dimana kali ini mereka ditekuk Tim Oranye, Belanda.
Di Piala Dunia 2018 Rusia, Andres Iniesta dkk secara mengejutkan disingkirkan di babak ‘knock out’ (16 besar) oleh tuan rumah lewat adu penalti, setelah skor tetap imbang, 1-1, hingga perpanjangan waktu berakhir.
Sementara itu di Moskow, Timnas Kroasia berhasil melaju ke perempat final Piala Dunia 2018, juga setelah menang adu penalti 3-2 atas Denmark di Stadion Nizhny Novgorod, Senin (2/78) dini hari WIB. Drama adu penalti dilakukan setelah kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Lima menit pertama pertandingan kedua tim langsung sengit. Denmark mengejutkan pada menit pertama setelah secara mengejutkan Mathias Jorgensen mencetak gol cepat. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Sebuah halauan buruk menerpa Andreas Christensen dan bola yang tiba-tiba mendekat ke Mario Mandzukic langsung disambar untuk mencetak gol balasan bagi Kroasia.
Tidak ada tambahan gol yang terjadi sampai waktu normal dan babak tambahan selesai memaksa dimainkannya adu penalti.
Kiper Subasic menebus kesalahannya di awal laga dengan menjadi penentu kemenangan Kroasia. Tiga tendangan penalti Denmark berhasil digagalkan kiper AS Monaco tersebut. Eriksen, Schone dan Nicolai Jorgensen pun dibuat terdiam. Di sisi lain, Schemeichel sebenarnya tak kalah gemilang dengan menghalau tembakan Badelj dan Josip Pivaric, hanya sayangnya tak mampu membaca arah eksekusi terakhir Kroasia yang dilakukan Ivan Rakitic.
Pelatih Kroasia Zlatko Dalic meminta kepada pemainnya untuk tidak cepat puas dengan pencapaian ini. Apalagi di babak perempat final sudah menanti Rusia yang beberapa jam sebelumnya sukses menyingkirkan tim kuat Spanyol.
“Saya akan mengatakan kepada anak-anak saya bahwa kami memainkan tim terbaik di Piala Dunia. Kami tidak boleh sombong. Ini akan menjadi ujian besar bagi kami. Kami telah datang sejauh ini, kami tidak bermaksud berhenti di sini, tapi saya yakin Rusia juga berpikiran sama. ”
Laga perempat final melawan Rusia akan dimainkan di Nizhny Novgorod, Sochi, tempat dimana Kroasia pernah mengalahkan Argentina 3-0. “Saya hanya membawa kenangan indah dari Nizhny Novgorod. Apakah ada permainan lain yang dimainkan di sini?” tambah Dalic bercanda. Demikian seperti dirangkum ‘BeritaSatu.com’ dari Football Espana dan Sportsmole. (B-BS/jr — foto ilustrasi DC)



