BENDERRAnews, 10/7/18 (Lippo Village): Sosok berjuluk ‘si manusia ide’, Dr Mochtar Riady kembali mengemukakan sejumlah gagasan cemerlangnya. Bedanya, figur penuh inspiratif yang tengah memasuki usia 90 tahun ini mengawalinya dengan mencuplik kisah penuh liku hidup di pedesaan, di tengah situasi kemiskinan.
Ia lalu berunar, “betul banyak teori dan temuan-temuan berbasis Iptek juga kebijakan-kebijakan pro rakyat miskin di dunia sejak dulu. Salah satu teori terkenal diluncurkan ilmuwan ekonomi masyhur, Adam Smith, sebagaimana tertuang dalam buku “The Wealth of Nations’ (Kemakmuran Bangsa-bangsa)”.
“Ya, banyak orang yang sudah menceritakan dan membahas kemiskinan, namun belum ada cara (tepat) bagaimana mengatasi kemiskinan tersebut,” ungkap Mochtar Riady ketika berbicara di hadapan 400-san eksekutif dan jajaran manajer Lippo Group (LG), dalam acara Halal bil Halal LG, Selasa (10/7/18), di ‘Mochtar Riady Institute of Nanotechnology’ (MRIN), Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Banten.
Acara ini diawali sambutan Presiden Lippo Group, Theo Sambuaga, dan dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti KH Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU), Prof Dr Didik Rachbini serta Prof Dr M Nuh (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), sejumlah jajaran pimpina perusahaan-perusahaan dalam lingkungan Lippo Group, juga perwakilan dari pemerintahan Provinsi Banten.
Bagi Pendiri dan Chairman Lippo Group ini, teori kemakmuran serta impementasinya, juga kebijakan-kebijakan pro kesejahteraan rakyat, semuanya tidak ada yang keliru.
Tapi, sebagai sosok yang pernah merasakan kehidupan serba sulit di sebuah kampung di kawasan Malang, Jawa Timur, Mochtar Riady punya catatan-catatan khusus mengapa masalah ini terus beramifikasi.
Ya, Mochtar Riady tahu perasaan orang miskin itu seperti apa, karena dirinya memang telah mengalaminya.
Perdagangan penyebab utama
Mochtar memulai dengan menunjuk perdagangan sebagai salah satu penyebab yang membuat banyak kemiskinan terjadi terutama di wilayah pedesaan.
Adanya sistem perniagaan, bisa juga karena birokrasi yang mem-‘bentengi’, sehingga menurutnya menjual di pasar dengan harga murah.
Diurainya juga, bagaimana situasi perdagangan dengan regulasi-regulasi dan rantai distribusi yang diciptakan sangat panjang. Dan imbasnya, ialah ketidakadilan, karena jalur niaga jadi panjang serta berliku tersebut, lalu ciptakan margin harga berlipat, sehingga masyarakat desa (terus) menjadi miskin, sebab jualannya dihargai murah, sementara produk dari luar sangat mahal.
Selanjutnya, Mochtar beralih pada adanya upaya atau dibangunnya rumah sakit di desa. Tetapi, dokter maupun peralatan medisnya tidak memadai. Dan ini berakibat tetap saja menciptakan orang di desa menderita serta melarat.
Begitupun pendidikan di desa, katanya, ada sekolah, tapi tidak ada tenaga pengajar guru. Bagaimana kualitas hidup mereka bisa meningkat?
Itulah sebagian faktor yang menciptakan masyarakat desa miskin berdasar pengalamannya sejak kecil.
Tetapi paling utama, menurutnya, karena perdagangan yang kurang adil itu.
Terapkan ekonomi digital
Selanjutnya Dr Mochtar Riady yang pernah didaulat sebagai Ketua Majelis Wali Amanah Universitas Indonesia (UI) ini menunjuk teknologi digital bisa mengatasi ketidakadilan tersebut.
Secara gamblang, Mochtar mengatakan, masalah kemiskinan telah terjadi sejak beberapa puluh tahun lalu. Bahkan, seperti diulas sebelumnya, ratusan buku telah membahas tentang kemiskinan.
Namun pada saat ini, di era teknologi, kemiskinan dapat diatasi dengan memanfaatkan sistem ekonomi digital.
Mochtar Riady menyatakan, ekonomi digital hadir agar masyarakat di pedesaan tidak perlu ke kota untuk menjual hasil panennya. Mereka dapat menjual dari desa dengan harga yang sesuai, sehingga mereka dapat menikmati hasil panen mereka.
“Kemiskinan ini masalah klasik. Saya diundang Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto untuk berdiskusi tentang program pengentasan kemiskinan. Saya ditanya bagaimana solusi untuk mengatasi kemiskinan ini,” ungkap Mocthar Riady.
Lippo Group sekarang, menurutnya, sudah mempersiapkan dengan memanfaatkan teknologi dan ekonomi digital. Dalam hal ini, mempersiapkan bagaimana supaya ekonomi digital masuk desa. Pasalnya, hadirnya ekonomi digital ini diyakini bisa berperan serta dalam mengatasi kemiskinan bangsa Indonesia.
Mochtar menambahkan, hadirnya ekonomi digital dapat mempersingkat proses distribusi yang selama ini dilakukan oleh masyarakat desa. Iklim perdagangan masa lalu dengan mengharuskan penjual bertemu pembeli, merugikan penjual. Sehingga, hadirnya ekonomi digital dapat mempersingkat mata rantai distribusi.
Ia juga menuturkan, sistem e-commerce dapat membantu warung-warung di desa. Masyarakat dapat informasi harga barang, sehingga dapat menjual hasil panennya lebih tinggi dan membeli barang pabrikan lebih murah.
“Selama ini tidak mempunyai informasi harga. Akibat tidak tahu harga, maka petani menjual produknya murah dan di sisi lain, petani membeli barang pabrikan dengan harga mahal. Hal inilah yang membuat petani miskin,” ujarnya.
Mochtar jadi penjamin
Dalam membangun ekonomi digital di pedesaan ini, Mochtar mengaku siap menjadi penjamin seperti Jack Ma dengan Alibaba Group perusahaan Tiongkok tersebut. “Saya siap jamin. Jadi orang membeli via e-commerce, dia berani bayar dulu. Kalau tidak cocok dengan barangnya kirim kembali saya bayar, ini baru bisa,” katanya lagi.
Selanjutnya, Mochtar juga mengatakan, agar ekonomi digital dapat berjalan, ia telah mengusulkan ke Menteri Perindustrian untuk melarang toko ritel masuk ke pedesaan. Masyarakat desa sebaiknya membeli barang melalui pasar digital.
Untuk itu, ia berharap, ada keberpihakan jaringan komunikasi bebas pulsa atau tidak membebankan masyarakat pedesaan layaknya WhatsApp, agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses semua informasi. Pasalnya, tanpa adanya jaringan ekonomi digital, sulit terwujud. Untuk itu, Mochtar menyebutkan, infrastruktur perlu ditingkatkan.
Pengalaman di Boyolali
Jadi, dengan nada optimistis, Mochtar Riady berujar, teknologi digital bisa mengatasi ketidakadilan ekonomi.
Msyarakat pedesaan bisa menjual secara online dan membangun pasar digital di internet, dengan mencontoh aoa yang dibikin Alibaba dan Amazon.com
Tegasnya, menurutnya, teknologi dan ekonomi digital bisa menselaraskan pasar yang sama antara kota dan desa.
Namun untuk membangun ekonomi digital ini butuh tiga syarat. Pertama, adanya sistem infrastruktur yang harus baik. Kedua, berlakunya e-payment. Ketiga membangun pasar digital, sehingga penjual dan pembeli langsung saling kontak. Sebab selama ini, itu tidak terjadi, tak saling kenal, sehingga untrust.
Baginya, tujuan yang heroik ini, yaitu, untuk kepentingan masyarakat luas.
Mochtar lalu menunjuk contoh ketika mengunjungi warung-warung kecil di Boyolali. Sebagai wujud nyata, diberlakukanlah beberapa syarat di atas yang telah dipraktekan. Yaitu masyarakat desa bisa membeli dengan harga yang sama seperti di kota.
Dikatakan, aplikasi I-chat tengah dikembangkan oleh Lippo. Seperti aplikasi chating tanpa bayar. Seperti layaknya Wechat, dan WhatsApp serta yang lainnya.
Ditegaskannya lagi, kita harus menyesuaikan, adaptasi internet ekonomi. Jika tidak, kita akan tersingkirkan dengan sendirinya.
Lippo so far so good, tapi belum maksimal. Karyawan mesti kerja lebih keras lagi, untuk bersama-sama memenuhi memberantas kemiskinan yang menjadi masalah bangsa ini. “Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin,” demikian Mochtar Riady yang meski baru saja merayakan HUT ke 89, tetapi dianugerahi kondisi fisik energik. (B-WT/BS/jr)




