BENDERRAnews, 27/11/18 (Jakarta): Warga Minahasa yang melakukan aksi petualangan ke tanah rantau, atau biasa disebut para ‘Kawanua’, sudah berlangsung sejak dua hingga tiga abad silam.
Tidak hanya di seanteru republik ini, Orang Minahasa terbukti berdiaspora hingga ke lima benua dunia, terbanyak di pantai barat Amerika Serikat dan tiga negara Eropa (Belanda, Jerman, Inggris). Sementara di Asia, bisa ditemui sentra-sentra Orang Minahasa di Jepang, Hongkong, juga Singapura. Selanjutnya di Australia tersebar mulai dari Sidney, Melbourne hingga Darwin.
Di Jakarta dan sekitarnya, menurut data per dekade 1980-an, seperti dirilis salah satu Kawanua yang Marhaenis sejati, Yano Bolang, total kaum ‘Minahassan Overseas’ mencapai hampir 700.000 orang. (Bayangkan saja pada waktu itu, Jakarta tercatat tujuh juta jiwa, berarti ada sekitar 10 persen Kawanua, Red).
Karena itu, dalam studinya, dan juga kemudian dikembangkan lebih lanjut, ternyata jumlah Orang Minahasa di tanah leluhur (“Bumi Toar Lumimu’ut” di Minahasa Raya/kini terbagi atas tujuh kabupaten dan kota, Red) jauh lebih sedikit ketimbang yang melanglangbuana sebagai ‘Minahassan Overseas’ alias para Kawanua di tanah perantauan. (Buku “Orang Manado: Mitos, Legenda, Citra, Gaya, Canda”, Jeffrey Rawis, 2007, Edisi Terbatas).
Spirit bereksodus itu, menurut studi penulis, karena dimotivasi oleh semangat ‘tumani’ (gemar membangun daerah baru) dan ‘sumekolah’ (gandrung studi hingga ke tanah rantau, sebagaimana ditunjukkan Dr GSSJ Ratulangi alias Oom Sam Ratulangi yang menjadi ‘doktor ilmu pasti pertama Asia’ jebolan Swiss).
Kendati begitu, lanjut buku ini, Anda akan sulit mencari di mana ‘kampung kawanua’, ‘kampung Minahasa’, atau ‘kampung Manado’. Ini karena sifat inklusifitas Orang Minahasa, yang maunya berbaur dengan khalayak dari aneka latar, di mana pun mereka “ditempatkan oleh spirit” serta “faith” miliknya.
‘ Nyanda’ mo lupa daratan’
“Ngana nyanda mo lupa daratan tokh tuamaku?” (=Kamu tidak akan lupa kampung halaman khan, hai laki-laki kebanggaan), demikian kiranya terjemahan salah satu kalimat yang dicanangkan orang tua atau sanak famili, jika seorang putranya akan merantau, dan dilepas dalam suatu ‘pesta kecil perpisahan diwarnai ibadah serta doa bersama’.
Karenanya, tak mengherankan, jika kendati ada yang sudah lahir di tanah rantau, bahkan sudah tiga generasi, tetap saja mereka ‘nyanda’ mo lupa daratan’, atau ‘ingat kampuang’ kata saudara dari Minang.
Itu juga yang dilakukan “Dodutu Golf Club” Jakarta. Mereka tergerak untuk menggelar bakti sosial (Baksos) di Minahasa, khususnya di Minahasa Utara (Minut) dan Minahasa Tenggara (Minsel), Sulawesi Utara. Dua kabupaten ini merupakan bagian dari Minahasa Raya (selain Minahasa ‘Induk’, Minahasa Selatan/Minsel, Kota Tomohon, Kota Manado, dan Kota Bitung, Red).
Dilaporkan, Baksos dilakukan, antara lain dalam bentuk operasi mata katarak, pemeriksaan penyakit dalam, dan pembagian kacamata gratis.
“Kegiatan bakti sosial ini digelar karena anggota perkumpulan kami ini sebagian besar berasal dari daerah Minahasa. Kami tergerak untuk membantu masyarakat kurang mampu di sana,” kata Ketua Dodutu Golf Club, Michael Kirangen dalam siaran pers diterima di Jakarta, Selasa (27/11/18).
Ingin berkontribusi
Baksos digelar Dodutu Golf Club bekerja sama dengan Persatuan Dokter Spesialis Mata (Perdami) yang diketuai oleh Diana Watania, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB Papdi), diwakili Fandy Gosal, dan pihak Kesehatan Kodam (Kesdam) XIII Merdeka, langsung dihadiri Kepala Kesdam, Kolonel Benny Untu.
Hadir pula perwakilan dari Penasehat Dodutu, Irjen Pol Pur Harry Montolalu, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang sudah berkarier sebagai profesional bank BUMN, Jeffry Wurangian, perwakilan Manado Green Hotel, Bank SulutGO, serta Bank BRI.
Michael mengatakan, pihaknya sebagai anak daerah yang ada di Jakarta sangat ingin berkontribusi bagi Sulawesi Utara lewat perkumpulan Dodutu Golf Club. “Kami mendapatkan berkat dari Tuhan dan terkumpul di grup ini ingin menjadi saluran berkat bagi banyak orang di Sulut, terutama di Tanah Minahasa,” katanya sebagaimana juga dilansir ‘BeritaSatu.com’.
Ke depan, demikian Michael, Dodutu Golf Club akan melakukan program bakti sosial kembali di Tondano (Minahasa ‘Induk’). Sebab, menurutnya, banyak permintaan dari warga Tondano, khususnya kaum perempuan, agar Baksos juga digelar di sana.
Ketua Panitia Baksos Dodutu Golf Club, Tonny Mandagi menambahkan, acara itu digelar di dua tempat berbeda.
“Pertama di Minahasa Utara, tepatnya Likupang, yang bekerja sama dengan Puskesmas Likupang. Acara kedua digelar Minahasa Tenggara, yakni di Ratahan dan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Pemkab Minahasa Tenggara,” kata Tonny.
Dalam Baksos di Likupang, panitia melakukan pemeriksaan mata, operasi katarak, dan pembagian kaca mata secara gratis kepada 132 warga. Mereka juga menyumbang satu unit AC split kepada Puskesmas Likupang.
Sementara, di Ratahan, juga dilakukan pemeriksaan dan pengobatan penyakit dalam kepada 97 warga. Para warga juga bisa berkonsultasi kesehatan secara gratis dan 109 orang melakukan pemeriksaan dan operasi katarak secara gratis juga.
“Kami memilih di Minahasa Tenggara dan Minahasa Utara karena berdasarkan survei dari rekan-rekan Perdami di sana, warga sangat membutuhkan bantuan. Dodutu Golf Club juga sangat berterima kasih kepada Bapak Letjen (Purn) Johnny Lumintang dan Willy Lumintang yang sudah memberikan fasilitas akomodasi, konsumsi, dan transportasi bagi kami,” demikian Tonny Mandagi. (B-r/BS/jr)



