BENDERRAnews, 23/12/18 (Jakarta): Kiprah para ‘kawanua’ (Orang Minahasa = Tou MinaEsa perantauan, Red), di seanteru Nusantara bahkan ke mancanegara, telah berbuah banyak kebaikan bagi sesama.
Itu sudah terbukti dan tercatat dalam ‘tinta emas’ dalam sejarah para sosok hebat sejak era Marie Thomas dkk (dokter wanita pertama Indonesia, di akhir 1800-an), dan Dr Gerungan Saul Semuel Jacob Ratulangi alias Oom Sam Ratulangi (doktor ilmu pasti Asia pertama, dan penasihat politik utama Bung Karno, Red), hingga Oom Ventje Rumangkang (penggagas, pencetus, pendiri Partai Demokrat, sekaligus ‘menggiring’ Susilo Bambang Yudhoyono ke tahta Presiden RI, Red).
Tak cuma di lapangan keilmuan, kedokteran, hingga politik, tetapi juga di sektor militer, TNI dan Polri pasti punya catatan tentang sosok-sosok seperti Alex Kawilarang (Panglima I Kodam Siliwangi dan penggagas lahirnya Kopassus, Red), Daan Mogot (pendiri Akademi Militer) hingga Brigjen Jeanne Mandagi (jenderal perempuan pertama Indonesia).
Lalu ketika 22 Desember 2018 kita merayakan Hari Ibu, teringat kita akan kiprah dan peran para sosok Madame Tien Waworuntu (walikota perempuan pertama Indonesia), Maria Walanda Maramis (perempuan Indonesia pertama pendiri organisasi kewanitaan dan sekolah kaum perempuan) hingga Prof Manoppo (rektor perempuan pertama di Indonesia), juga last but not least para pioner peragawati dan bintang film Indonesia pertama sejak era 1950-an. (Catatan tentang para sosok di atas, dikutip dari buku “Orang Manado: Mitos, Legenda, Citra, Gaya & Canda”, Jeffrey Rawis, Edisi Terbatas, Jakarta, 2008).
Buku ini pun mengulas panjang lebar tentang peran-peran strategis para sosok kawanua di bidang industri dan bisnis, seperti Frits Eman (perintis industri otomotif Indonesia) hingga Jerry Sumendap (perintis maskapai penerbangan swasta Indonesia) hingga ABJ Tengker (perintis pendidikan profesional modern Indonesia).
Namun lepas dari semua itu, ada tiga sosok kawanua tulen yang memiliki andil serta sangat berdampak dalam kiprah eksodus mereka ke tanah perantauan: yakni para guru (menyebar ke seluruh Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Jawa hingga Sumatera, dan juga Tanah Papua), juga kalangan amtenaar (yang banyak digunakan sebagai midle management di era kolonial, bahkan berlanjut sampai pada masa Bung Karno, di mana beberapa gubernur termasuk Jakarta dan para menterinya banyak berasal dari kalangan kawanua, Red), serta tentunya kaum soldado (militer dan polisi).
Kawanua era baru
Kini, di era milenia, kiprah peran para sosok kawanua itu seolah menjauh dari lapangan birokrasi (pemerintahan) dan politik. Meski sesungguhnya Orang Minahasa merupakan salah satu stake holder utama ketika negeri ini berdiri dan diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta (ingat catatan sejarah: Mr AA Maramis, merupakan satu dari anggota Panitia V, di saat terakhir dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI serta pembuatan AD/ART alias Undang Undang Dasar 1945, yang di dalam Preambul-nya tertuang ideologi Pancasila, Red).
“Tegasnya, para kawanua (Tou MinaEsa) di perantauan dan Orang Minahasa di Tanah Leluhur, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), bukanlah ‘penumpang’ apalagi ‘anak tiri’ dari negeri ini. Catatan sejarah pun membuktikan, Minahasa dan Sulut umumnya merupakan salah satu penyumbang terbanyak Pahlawan Nasional sejati Republik Indonesia dan diakui Negara,” demikian buku tersebut melanjutkan.
Kondisi obyektif kekinian, di era baru peradaban bangsa-bangsa, serta transformasi sosial kemasyarakatan di lingkup Bumi Nusantara, telah mendorong Orang Minahasa tidak banyak lagi menyentuh lapangan politik serta birokrasi (yang konon ‘semakin sulit’ bagi mereka: “terangkat dari sebuah diskusi terbatas bertajuk “Keminahasaan dalam Keindonesiaan”, Jakarta, 21/12/18, Red).
Namun, Anda pasti akan banyak menjumpai para kawanua, termasuk kalangan Manado Card (Orang Manado/Minahasa yang lahir besar di tanah rantau), eksis di lapangan-lapangan tertentu, yang ‘memprosesnya’ menjadi orang-orang penuh dinamika serta improvisatif. Ya, sifat dan perilaku inilah yang membuat Orang Manado, para kawanua, Tou MinaEsa ini eksis dalam situasi kultur mana pun secara inklusif, tak pernah mau ekslusif. Buktinya, Anda tak akan pernah menjumpai istilah “Kampung Manado” atau “Kampung Kawanua” di mana pun di Nusantara ini, juga di mancanegara. Walau kini tercatat, lebih empat kali lipat Orang Minahasa hidupnya di perantauan, hingga ke lima benua di dunia (terbanyak di Pantai Barat Amerika Serikat, Negeri Belanda dan Jepang serta Australia, Red).
Inilah sosok sosok ‘kawanua baru’ di era milenia. Mereka membaur dan berbaur di mana pun mereka ada sebagaimana perintah keyakinannya: “Berdoalah bagi kesejahteraan kota dan negara di mana kamu berada dan eksis, karena kesejahteraannya adalan juga kesejahteraanmu”.
Berawal dari dunia entertaintment
Sosok kawanua terkini pun banyak di lingkup dunia entertaintment. Tak perlu diulas khusus di sini tentang itu, karena lahan entertaintment apa pun, pasti ada Manado.
Satu di antaranya, ialah Tony Wenas. Ya, dari catatan yang ada di redaksi, jauh sebelum memutuskan untuk berkarier di sejumlah perusahaan besar, Tony Wenas dulunya dikenal sebagai musisi band ngetop.
Karenany, ketika kini dipercayakan sebagai direktur perusahaan kaliber internasional milik bumi putera, filosofi bermusik tetap dia terapkan untuk menciptakan harmoni kerja di perusahaannya.
Dia pernah jadi Presiden Komisaris PT Riau Andalan Pulp and Paper. Dan Anda yang belum tahu, tentu kaget, karena ia pun pernah tercatat sebagai pentolan Band “Solid 80” yang dikenal pada era 80-an.
Tony mendirikan band tersebut bersama enam rekannya yang juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).
Saat itu, Solid 80 merupakan band cukup ternama. Pria kelahiran 8 April 1962 itu berperan sebagai lead vocal dan keyboardist. “Band yang kami dirikan beraliran rock. Lagu yang kami bawakan koleksi legendaries ‘Queen’,” ujar Tony saat berbincang dengan Investor Daily beberapa waktu lalu.
Suami Shita Wenas itu lalumengungkapkan, kisah di balik nama Solid 80. Disebutnya, angka 80 merujuk pada latar belakang punggawa band yang kebetulan berasal dari Fakultas Hukum UI angkatan 1980. Kata Solid dipilih untuk menegaskan kekerabatan personel band. “Terbentuknya Solid 80 awalnya hanya dilandasi semangat nekat dan hobi bermusik,” tutur Tony.
Dibayar mahal
Musisi muda itu tidak menyangka jika kemudian memperoleh sambutan luar biasa dari penggemar. Hal itu membuat mereka makin termotivasi untuk menampilkan yang terbaik. Hingga saat ini, Tony dan bandnya telah menelurkan tujuh-delapan album.
Selain popularitas, dengan bermusik, Tony mampu mengantongi pendapatan cukup besar untuk ukuran saat itu. Untuk sekali tampil menyanyi, mantan Presiden dan Direktur INCO itu dibayar Rp150 ribu, padahal uang pembayaran kuliah hanya Rp15 ribu per semester. Selain itu, dengan rekaman, Tony bisa memperoleh US$ 3.000.
“Saya bisa bayar kuliah, memenuhi keperluan sendiri dan beli mobil,” kenangnya.
Selain Solid 80, bapak satu anak itu juga sempat membentuk band lain seperti “Symphoni”. Ia membentuknya bersama Fariz RM dan kawan-kawan. Selanjutnya, Tony juga tercatat sempat membentuk beberapa band lainnya yang masih beraliran rock metal.
Singkat cerita, Tony sudah jatuh hati pada musik sejak masih duduk di bangku sekolah.
Bakat bermusik didapatnya secara otodidak. Bakatnya itu semakin lama semakin terasah, sehingga mengantarkannya menjadi seorang musisi yang cukup dikenal hingga saat ini. “Keluarga saya memang suka musik,” ujarnya.
Pemimpin perusahaan bergengsi
Sejarah kehidupan sosok kawanua ini berlanjut. Dan siapa menyangka kini Tony Wenas menjelma menjadi pemimpin perusahaan bergengsi yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja.
Namun baginya, memimpin perusahaan memiliki persamaan dengan bermain musik. Di mana setiap alat musik dan pemainnya memiliki peran tersendiri dalam menciptakan sebuah harmonisasi musik.
Artinya, bila satu instrumen musik saja kurang berfungsi sebagaimana perannya, tentunya akan sulit terciptanya harmonisasi musik.
“Ibarat bermain musik, kita harus mendapatkan jiwanya. Kalau sudah dapat tentu akan sangat mudah menjalankannya,” demikian Tony, yang kini dipercayakan menjadi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PT FI).
Satu hal yang pasti, berbasis ulasan terdahulu, di paparan ini memperlihatkan sosok Toni yang membuktikan kontribusi peran para kawanua, yakni selalu inklusif bagi kepentingan sesama. Istilah populernya: “ada di mana-mana, tetapi tidak ke mana-mana”. Tetap menjunjung jati dirnya, kendati dia tergolong ‘Manado Caard’.
PT FI era baru
Anda mungkin sudah banyak mendapat informasi tentang PT FI wajah baru di era Presiden Joko Widodo saat ini.
Ya, setelah dinanti puluhan tahun, akhirnya Indonesia kini jadi pemegang saham mayoritas di PT FI.
Diumumkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada dua hari lalu, melalui PT Inalum (Persero) kini Indonesia memiliki 51,2 persen saham di tambang emas dan tembaga terbesar yang ada di bumi pertiwi.
“Hari ini merupakan momen yang bersejarah, setelah Freeport beroperasi di Indonesia sejak 1973. Dan kepemilikan mayoritas ini kita gunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” ujar Jokowi saat konferensi pers di Istana Negara, Jumat (21/12/18).
Dijumpai di konferensi pers di Kementerian ESDM, Direktur Utama PT Inalum (Persero) Budi Gunadi Sadikin pun memaparkan langkah berikutnya yang disiapkan oleh Inalum setelah akuisisi Freeport. Termasuk di antaranya susunan direksi PT Freeport Indonesia setelah dikuasai oleh Indonesia.
“Direksinya ada empat orang Indonesia dan dua orang non Indonesia, Direktur Utamanya pak Tony Wenas,” kata Budi Sadikin. (B-ID/CNBC/jr)
Berikut susunan lengkapnya sebagaimana dilansir CNBC Indonesia:
Direktur Utama Clayton Allen Wenas (Tony Wenas)
Wakil Direktur Utama Orias Petrus Moedak
Direktur Jenpino Ngabdi
Direktur Achmad Ardianto
Direktur Robet Charles Schroeder
Direktur Mark Jerome Johnson
Presiden Komisaris Richard Adkerson
Wakil Komisaris Utama Amien Sunaryadi
Komisaris Budi Gunadi Sadikin
Komisaris Hinsa Siburian
Komisaris Kathleen Lynne Quirk
Komisaris Adrianto Machribie



