BENDERRAnews, 18/2/19 (Manado): Secara marathon, DPP GPPMP menggelar sejumlah program aksi di Bitung, Manado dan Minahasa. Antara lain menggelar Rakernas plus tiga diskusi publik, di antaranya mengenai “Aktualisasi IHP & KEK: Mesin Uang RI di Gerbang Pasifik”, 13 – 14 Februari 2019 di Bitung.
Dilaporkan, usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Bitung tersebut, Ketum DPP Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP) bersama Tim OC (Ruddy Sumampouw/Ketua dan Herling Tumbel/Sekretaris) serta Bendahara Umum DPP GPPMP, Jefferson Lungkang, bersua dengan satu-satunya tokoh pelaku sejarah yang masih hidup, Sabtu (16/2/19).
Mereka menemui Oom Ben, demikian panggilan akrab penulis buku “Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946”, di kediamannya yang sederhana di sebuah gang sempit di Kawasan Ta’as, Paal 4, Manado.
Kendati telah berusia 97 tahun, Oom Ben masih tampak kuat, sangat bersemangat dan tajam memorinya mengisahkan peristiwa kudeta di Tangsi Teling, Manado.
“Ini kudeta, murni suatu perebutan kekuasaan yang diakui Tentara Sekutu, dan dilakukan dengan memakai otak, gunakan strategi jitu, sehingga berlangsung secara lancar tanpa chaos dan jauh dari aksi vandalisme. Dan hasilnya, bendera Merah Putih bisa berkibar di Sulawesi Utara, seluruh tahanan pro Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 berhasil dibebaskan, dan kami menahan serta mengasingkan para pejabat NICA ke Ternate,” tutur Oom Ben.
Bentuk pemerintahan sipil
Selain itu, demikian Oom Ben, mereka berhasil membentuk Pemerintahan Sipil, dipimpin BW Lapian didampingi Ch Ch Taulu selaku Pimpinan Ketentaraan, didampingi SD ‘Mais’ Wuisan.
“Di seluruh daerah kami angkat panglima-panglima teritorial, dipimpin Hulubalang, Eng Johannes dari NTT, dengan Kepala Staf, John Rahasia.
*Satu hal penting, ini bukan semata perjoangan Orang Minahasa. Selain dari Nusa Tenggara Timur (NTT), di dalamnya ada pejuang dari Sangihe Talaud (Pontoh dkk), Arnold Mononutu (Maluku Utara), para raja Bolaang Mongondow, Danuphoyo dkk (Gorontalo), sejumlah askar dari Sulawesi Selatan hingga Papua, Hidayat dkk (Sunda), juga beberapa anggota Kompi 7 pimpinan Mambik Runtukahu yang berasal dari tanah Jawa, Sumatera dan Kalimantan,” ungkap Oom Ben.
Di akhir percakapan yang memakan waktu sekitar dua jam itu, Oom Ben menyerahkan skrip buku “Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik Merah Putih 14 Februari 1946”. Ini merupakan tulisan Oom Ben yang langsung menyaksikannya sebagai salah satu pelaku sejarah. Apalagi Oom Ben ternyata merupakan sosok di balik penyusunan kabinet pemerintahan sipil ketika itu.
“Kurang ngoni deri GPPMP yang kita harapkan. Cetak dan perbanyak ini. Ini bukan hoax. Jang sampe torang pe anak-anak cuma tau itu 14 Februari, valentine day. Padahal Bung Karno sendiri akui, bahwa 14 Februari adalah Hari Patriotik, sehingga dinyatakannya sebagai Hari Sulawesi Utara. Inga, ini sejarah heroik yang dahsyat. Jangan lupa itu sejarah, agar kitorang jangan digilas sejarah,” demikian Oom Ben yang didampingi putra tertuanya, Harry Wowor. (B-jl/ht/rs/jr)



