5.8 C
New York
Friday, April 10, 2026

Buy now

spot_img

Sejarah !!! Kempupera revitalisasi bangunan cagar budaya “Tangsi Belanda” di Siak, bagaimana “Tangsi Teling” di Manado?

BENDERRAnews, 11/6/19 (Jakarta): Berdasarkan rekomendasi Rapat Kerja Nasional GPPMP Tahun 2016 dan 2019, salah satu fokus utama Program Aksi yang harus diimplementasikan, ialah pembangunan “Monumen Merah Putih & Diorama Heroik Perjuangan 14 Februari 1946” yang terjadi di “Tangsi Teling”, Manado, Sulawesi Utara.

DPP Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP 14.02.46) mendapat mandat Rakernas untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut), Kodam XIII Merdeka, Pemerintah Kota (Pemkot) Manado dan seluruh stake holders.

“Pasalnya, Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 yang berpusat di “Tangsi Teling” tersebut, benar-benar memiliki andil signifikan bagi upaya bangsa Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Bung Karno. Pasca-peristiwa tersebut, pengakuan internasional terus bermunculan terhadap Republik Indonesia yang merdeka. Dan kata “Merdeka” ini menjadi salah satu simbol yang kini diabadikan sebagai nama Komando Daerah Militer (Kodam) XIII Merdeka,” kata Ketua Umum DPP GPPMP, Jeffrey Rawis, di Jakarta, Selasa (11/6/19).

Dan peristiwa heroik tersebut, menurutnya, masuk sebagai “Tujuh Tapak Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI”. Yakni, Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 di Jakarta, Peristiwa “Hari Pahlawan” 10 November 1945 di Surabaya, Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 di “Tangsi Teling” Manado, 14 Februari 1946, Peristiwa Bandung Lautan Api, 23 Maret 1946 di Bandung, Peristiwa Medan Area, medio 1946, Palagan Ambarawa di Ungaran-Ambarawa, 1949, dan Serangan Umum di Yogyakarta, 1949.

“Kami sudah memandatkan kepada DPD GPPMP Sulut untuk segera berkoordinasi dengan pihak Kodam XIII Merdeka dan Pemprov Sulut serta Pemkot Manado untuk, Pertama, merevitalisasi “Tangsi Teling”, Kedua, memulai pembangunan “Monumen Merah Putih & Diorama Perjuangan Heroik 14 Februari 1946”. Khusus yang nomor dua ini, lokasinya bisa saja di “Tangsi Teling”, atau di lokasi lain yang sudah dijanjikan oleh Pemkot Manado,” ujarnya lagi.

Ditegaskanya, berbeda dengan tangsi lain di kawasan lain di Nusantara yang dibangun (eks bangunan) Belanda, “Tangsi Teling” bukan sekadar cagar budaya.

“Ini saksi sejarah bagaimana warga Sulut dari berbagai latar etnis dan keyakinan serta golongan, dengan gagah berani menghancurkan kekuatan militer Belanda, menurunkan bendera merah putih biru, dan menaikkan merah putih. Dan ini merupakan aksi Merah Putih pertama di luar Jawa, hanya sekitar enam bulan sejak Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan RI, dan kita rakyat Sulut spontan menyatakan ikut republik, di bawah panji-panji Merah Putih,” tandas Jeffrey lagi.

Karena itu, mengenai adanya upaya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) merevitalisasi berbagai cagar budaya termasuk “Tangsi Belanda” di sisi Sungai Siak, Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, DPP GPPMP mengharapkan hal yang sama juga bisa dilakukan terhadap “Tangsi Teling” di Teling, Manado, Sulut.

Jadi destinasi wisata

Jika ini direvitalisasi, menurut GPPMP, bakal menjadi salah satu destinasi wisata sejarah bernilai tinggi bagi Indonesia, khususnya Sulut.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media, pada tahun 2018 pihak Kempupera melakukan revitalisasi bangunan cagar budaya “Tangsi Belanda”  di sisi Sungai Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Dan kini, “Tangsi Belanda” itu telah menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kabupaten Siak.

“Tangsi Belanda” yang berada di Kawasan Cagar Budaya Kesultanan Siak merupakan benteng peninggalan Belanda, dimana dahulunya berfungsi sebagai kantor residen, rumah tahanan, gudang peluru dan barak pasukan. Bangunan ini memiliki lima bangunan utama dan sejumlah bangunan kecil.

Minim perawatn

Sebelum direvitalisasi Kempupera, Tangsi Belanda yang dibangun tahun 1880 terlihat memprihatinkan dan minim perawatan. Dinding bangunan utama yang berada di kawasan tersebut rusak dan kusam, serta beberapa bagian bangunan juga hilang. Pemugaran Tangsi Belanda telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kempupera dan SK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka penetapan Siak sebagai Kota Pusaka pada akhir tahun 2017.

“Kegiatan pelestarian bertujuan untuk mewujudkan ruang kota yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Seyogyanya kota selain sebagai mesin ekonomi, nilai pusaka bagi sebuah kota harus menjadi atmosfir yang baik bagi tubuh lembaga kesenian, adat istiadat, bahasa, situs, arsitektur, dan sejarah yang membentuk karakter kota,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/6/19).

Revitalisasi “Tangsi Belanda” mencakup pemugaran gedungan utama dan bangunan kecil, pekerjaan mekanikal, elektrikal, plumbing serta perbaikan pintu, jendela dan toilet. Pemugaran tidak menghilangkan arsitektur asli bangunan tersebut. Penataan Tangsi Belanda dilakukan menggunakan biaya APBN tahun 2018 sebesar Rp4,9 miliar dengan masa pelaksanaan 17 Mei – 27 Desember 2018.

Sesudaah dipugar, saat ini “Tangsi Belanda” berubah menjadi bangunan yang lebih indah, bersih, dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Terdapat tujuh bangunan yang berfungsi sebagai perpustakaan, kantor, museum, ruang pameran, toilet, dapur (sarana boga), area serba guna, dan gudang.

Diberi fasilitas tambahan

Kementerian PUPR juga memberikan fasilitas tambahan di seputar kawasan “Tangsi Belanda” seperti penerangan bangunan, drainase dan trotoar. Pada tahun 2017, pemerintah Kabupaten Siak juga sudah mulai melakukan pemugaran pada bagian ruang pameran.

Revitalisasi Tangsi Belanda merupakan bagian dari Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kempupera pada tahun 2018.

P3KP merupakan program insentif kepada kabupaten/kota yang telah menetapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang RTRW dan Perda tentang Bangunan Gedung.

Kota Pusaka adalah kota yang di dalamnya terdapat kawasan cagar budaya dan/atau bangunan cagar budaya yang memiliki nilai-nilai penting bagi kota, menempatkan penerapan kegiatan penataan dan pelestarian pusaka sebagai strategi utama pengembangan kotanya.

Diharapkan program revitalisasi “Tangsi Belanda” dapat meningkatkan kunjungan wisatawan segingga meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Tangsi Belanda bisa menjadi destinasi wisata pilihan tepat wisatawan asing maupun domestik. Lokasi Tangsi Belanda dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2-3 jam dari Kota Pekanbaru. (B-BS/jr)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles