19 C
New York
Tuesday, May 26, 2026

Buy now

spot_img

Pro-Kontra !!! “Kolintang Goes to Unesco” Tim Pemerintah Pusat Nominasikan secara Multinasional bersama Filipina, Gubernur Sulut Menolak

Webinar “Kolintang Goes to Unesco”. Dari kiri atas searah jarum jam, mantan Mawendikbud Prof Wiendu Nuryanti (narasumber), musikolog Franki Raden (narasumber), Gubernur Sulut Olly Dondokambey bersama Ketua Harian Pinkan Indonesia Jopie Rory, Pembina Pinkan Indonesia Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung, dan Ketum Pinkan Indonesia Penny Marsetio.

BENDERRAnews.com, 3/3/2022 (Jakarta): Saat ini, jalur tercepat membawa musik kolintang ke Unesco adalah jalur pengajuan bersama (jointly submission) dengan negara lain atau nominasi multinasional. Tidak ada pilihan yang lebih baik untuk membuat musik kolintang cepat diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Demikian kesimpulan utama yang mengemuka dalam seminar virtual atau web-seminar (webinar) bertema “Kolintang Goes to Unesco” yang diadakan Sanggar Limeka pimpinan Roring Mokoagow, Rabu 2/3/2022 malam kemarin. Dua pembicara utama, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bidang Kebudayaan (2011–2014), Prof. Dr. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., PhD, dan musikolog Franki Raden, sependapat bahwa rekomendasi yang disampaikan Tim Penilai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tentang “Kolintang Goes to Unesco”, merupakan pilihan yang tepat.
Prof. Wiendu menegaskan, pendaftaran kolintang melalui jalur jointly submission, adalah cara tercepat untuk terdaftar dalam Intangible Cultural Heritage (IHC) atau Warisan Budaya Takbenda pada Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan.
“It’s now or never,” ucapnya setengah berkelakar mengutip judul salah satu lagu Elvis Presley. “Silakan, kalau bisa mengejar tenggat waktu tanggal 14 Maret nanti untuk menyerahkan syarat-syarat yang ditetapkan, berarti proses pengajuan ke Unesco bisa tahun ini. Kalau tidak, tidak apa-apa, ajukan tahun depan,” kata perempuan enerjik yang walaupun signal naik turun sehingga hubungan beberapa kali terputus, tetap bersemangat menyampaikan pandangan.
Keuntungan kalau pengajuan ke Unesco lewat jalur multinasional, bisa setiap tahun, sedangkan jika secara tunggal (hanya satu negara), paling cepat dua tahun. Selain itu, Wiendu menambahkan, “Jika lewat jalur multinasional, persaingan lebih sedikit. Jika didaftarkan secara tunggal, saat ini kolintang harus bersaing dengan rekomendasi usulan WBTb Indonesia lainnya seperti tempe, Reog Ponorogo, jamu, ulos, dan tenun.”
Pendapat serupa disampaikan Franki Raden. “Manfaat nominasi multinasional, selain rentang waktu pengajuan yang lebih singkat, berkas multinasional diprioritaskan Unesco,” katanya.
Terungkap bahwa Indonesia akan mengusulkan kolintang ke Unesco bersama Filipina yang juga memiliki alat musik tradisional yang mempunyai kesamaan dengan kolintang. Di Filipina, namanya adalah kulintang. Bedanya kolintang terbuat dari kayu khusus yang hanya ada di tanah Minahasa, sedangkan kulintang terbuat dari besi. Menurut catatan, kulintang berkembang di Kepulauan Mindanao, Filipina Selatan, yang berbatasan dengan Kepulauan Sangihe Talaud, di ujung utara Indonesia.
Menanggapi pertanyaan peserta webinar tentang apakah Filipina setuju dengan usulan Indonesia untuk mengajukan kolintang atau kulintang secara jointly submission, Franki Raden yang masuk dalam Tim “Kolintang Goes to Unesco” menegaskan bahwa dirinya sudah berkomunikaasi dengan pihak Filipina. Ia menuturkan, pihaknya sudah mendiskusikan jalur multinasional dengan perwakilan Filipina dan mereka sepakat untuk sama-sama diusulkan dengan Indonesia.
“Filipina senang sekali dan bangga bisa sama-sama berjuang mendaftarkan Kulintang dan Kolintang ke Unesco. Jika nanti lolos, tidak akan ada pengaruhnya untuk Indonesia. Tidak ada yang bisa saling klaim karena dua jenis alat musik ini memang berbeda,” ujar Franki.
Terkait cara pengajuan melalui jalur jointly submission ke Unesco, terungkap dalam webinar bahwa sebelumnya cara tersebut sudah pernah dilakukan dan berhasil, yaitu melalui pencak silat dan pantun. Disebutkan, tradisi pencak silat diajukan Indonesia bersama Malaysia dan telah diakui oleh Unesco sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2019. Bahkan dua tahun sebelumnya, 2017, pantun yang juga diajukan bersama oleh Indonesia dan Malaysia telah mendapat pengakuan IHC Unesco.

Sikap Pinkan Indonesia
Organisasi yang dikenal sebagai inisiator utama “Kolintang Goes to Unesco”, Pinkan (Perkumpulan Insan Kolintang Nasional) Indonesia, mengambil sikap tegas dalam hal ini. Ketua Umum Pinkan Indonesia, Penny Iriana Marsetio, menyatakan ikut mendukung “Kolintang Goes to Unesco” melalui jalur nominasi multinasional.
Pinkan Indonesia selaku pendukung webinar dengan moderator budayawan asal Minahasa Utara, Lydia Katuuk, ini merasa sangat bersemangat setelah mendengar penjelasan dari kedua narasumber, Prof Wiendu Nuryanti dan Franki Raden. “Ayo, kita dukung Kolintang Goes to Unesco melalui jalur jointly submission,” kata Ketum Penny.
Hal senada juga disampaikan Penasihat Pinkan Indonesia, Laksamana TNI (Purn) Marsetio, dan Pembina Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung. Kedua tokoh ini juga semula mengaku kaget dan ingin protes ketika mengetahui bahwa kolintang diusulkan sebagai “nominasi multinasional” dengan negara lain. Tapi, setelah mengikuti dan mempelajari perkembangan, ditambah dengan penjelasan kedua narasumber dalam webinar yang sangat mencerahkan, rekomendasi Tim Penilai WBTb Indonesia dapat mereka pahami.
“Memang banyak tantangan, tapi setelah saya mendapat penjelasan, saya mengerti, memang cara ini yang paling efektif untuk Kolintang Goes to Unesco. Pinkan Indonesia mendukung penuh,” ujar Lodewyk Pusung penuh semangat.
Merespon adanya informasi bahwa Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, tidak setuju dengan rekomendasi Tim Penilai, Lodewyk curiga bahwa gubernur mendapat laporan yang tidak pas. “Kami akan membicarakan ini dengan Pak Gubernur,” ungkapnya. ”Intinya, kita tetap bergandengan tangan membawa kolintang ke Unesco,” tandasnya.

Kisruh
Masalah “Kolintang Goes to Unesco” yang sudah dirintis sejak belasan tahun lalu, dalam dua minggu terakhir ini menjadi ramai diperbincangkan di kalangan pemangku kepentingan kolintang sehingga menimbulkan kekisruhan. Pasalnya, Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, tanggal 18 Februari lalu merilis Pengumuman Hasil Seleksi Usulan WBTb Indonesia ke Dalam Daftar ICH Unesco 2022.
Pengumuman tersebut berisi rekomendasi Tim Penilai WBTb yang terdiri atas Tim Juri dan Tim Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek, tentang usulan WBTb Indonesia untuk diajukan ke dalam daftar IHC Unesco. Penilaian didasarkan pada lokakarya Pengusulan IHC Unesco tanggal 15-16 Februari 2022. Dalam pengumuman di atas selembar kertas yang ditandatangani Direktur Perlindungan Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, itu tercantum daftar usulan yang direkomendasikan untuk diajukan ke Unesco.
Dalam daftar usulan tersebut dicantumkan calon WBTb Indonesia pada tahun ini, adalah tempe, reog Ponorogo, budaya sehat jamu, ulos, tenun ikat Sumba Timur, dan kolintang. Dengan catatan, tempe, reog Ponorogo, dan budaya sehat jamu diusulkan sebagai nominasi tunggal (diusulkan oleh satu negara, red), tenun ikat Sumba Timur, dan ulos diusulkan sebagai tenun Indonesia, dan kolintang diusulkan sebagai “nominasi multinasional” dengan negara lain.
Rekomendasi terhadap kolintang itu ditanggapi secara berbeda oleh kalangan masyarakat dalam suasana pro-kontra. Pihak yang paling kencang menolak rekomendasi tersebut adalah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang notabene adalah Tim Pengusul.
Ketua Harian DPP Pinkan Indonesia, Jopie Rory, menjawab pertanyaan TaktikInfo.com, mengatakan bahwa dia sudah mengetahui penolakan Gubernur Olly Dondokambey sejak 26 Februari lalu. Ia mengisahkan bahwa bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun pertama masa pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda-Kevin Lotulung pada 26 Februari lalu di JG Center, Minut, Jopie yang juga merupakan Staf Khusus Bupati Minut, tiba-tiba dipanggil Gubernur Olly Dondokambey yang juga hadir.
“Dalam pertemuan tanpa direncanakan dan singkat itu, Pak Gubernur mempertanyakan dan menyampaikan kekecewaannya terhadap rekomendasi yang menyatakan kolintang akan diusulkan ke Unesco secara multinasional dengan negara lain yaitu Filipina,” kata Jopie yang juga berprofesi sebagai pengacara, “Nah itu yang saya laporkan kepada Ketum Pinkan Indonesia, karena jalurnya memang begitu. Bahwa Pinkan Indonesia menyatakan sikap mendukung jalur jointly submission seperti terungkap dalam webinar kemarin, itulah keputusan organisasi.”
Dari Manado, sejumlah media online memuat berita perihal penolakan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, didukung Wagub Steven Kandou, jika kolintang diusulkan ke Unesco secara jointly submission. “OD-SK: Sebaiknya Usulan Tunggal Indonesia” demikian judul berita di salah satu media online Kamis 3/3/2022.
Di dalam isi berita, ditulis bahwa hal itu didukung beberapa pihak dan budayawan. Mereka berharap agar kolintang yang notabene sebagai warisan budaya musik tradisional asli orang Minahasa benar-benar bisa diterima sebagai usulan tunggal ke ICH Unesco. (ht)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles