BENDERRAnews, 9/11/18 (Jakarta): Berdasarkan informasi sahih, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan, ada sekitar 700 Warga Negara Indonesia yang menjadi anggota ISIS, kini berada di Suriah dan Irak. Mereka bergabung dengan 31.500 anggota ISIS dari seluruh dunia.
“Data intelijen menyebut ada sekitar 31.500 pejuang ISIS asing yang bergabung di Suriah dan Irak. Dari jumlah tersebut 800 berasal dari Asia Tenggara dan 700 dari Indonesia,” kata Ryamizard saat menjadi pembicara kunci dalam seminar bertema “Ensuring Regional Stability through Cooperation on Counter Terrorism” di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (8/11/18) kemarin.
Seminar itu merupakan rangkaian kegiatan pameran “Indo Defence 2018”. Hadir pada acara itu, perwakilan dalam bidang pertahanan dari sejumlah negara yang mengikuti pameran.
Ancaman teroris generasi ketiga
Ryamizard menjelaskan saat ini, di seluruh kawasan dunia sedang menghadapi ancaman teroris generasi ketiga.
Ciri khusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini, menurutnya, ialah, kembalinya para militant asing ISIS dari Timur Tengah.
Mereka berevolusi ancaman dari yang bersifat tersentralisasi menjadi terdesentralisasi yang menyebar ke seluruh belahan dunia setelah kekalahan ISIS di Suriah dan Irak.
Disebutnya, pola operasi dan taktik kelompok para teroris saat ini terus berevolusi dan mengalami perubahan. Hal itu agar tidak mudah dideteksi oleh aparat keamanan.
Ajak anak bunuh diri
Dia memberi contoh yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu. Mereka beraksi bersama satu keluarga dengan meledakkan diri.
“Mereka ini bukan Islam karena ajaran Islam adalah ajaran yang damai dan Rahmatan Lil-Alamin. Sangat tidak masuk akal seorang ibu dapat mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi bunuh diri,” ujar Ryamizard, seperti dilansir ‘Suara Pembaruan’.
Sebagai ibu dari anak-anaknya, seyogyanya ia harus punya sifat alamiah dan insting untuk melindungi dan menjaga anak-anaknya dari pelbagai ancaman yang akan membahayakan anak-anaknya bukan malah membunuh anak-anaknya.”
Jangan beri celah sedikitpun
Dia menegaskan semua bangsa tidak boleh memberikan celah sedikitpun kepada kelompok teroris dan radikal untuk berkembang dan mengambil Inisiatif serangan terlebih dahulu di seluruh kawasan didunia.
Semua bangsa harus kerjasama kolektif yang efektif baik yang bersifat strategis maupun operasional.
“Ancaman ini merupakan ancaman yang bersifat lintas negara dan memiliki jaringan serta kegiatan yang tersebar dan tertutup. Dalam penanganannya sangat memerlukan kerja sama antar negara baik secara bilateral dan multilateral yang intensif, konstruktif dan konkrit. Karena tidak ada satu negarapun yang dapat menangani masalah terorisme sendiri-sendiri,” demikian Ryamizard Ryacudu. (B-SP/BS/jr)



