BENDERRAnews, 29/1/19 (Jakarta): Tuntas sudah perjalanan Liliyana Natsir Maramis sebagai atlet bulutangkis. Liliyana memutuskan gantung raket seusai mengikuti Indonesia Masters 2019. Butet, begitu panggilan akrab Liliyana pensiun pada usia 33 tahun.
Menanggapi itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, dunia olahraga Indonesia tentu merasa kehilangan Liliyana.

“Indonesia sangat kehilangan atas pensiunnya Liliyana Natsir atau Butet,” kata Jokowi kepada wartawan seusai menerima Liliyana di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (29/1/19).
Presiden menuturkan, publik tentu telah mengetahui persis berbagai torehan prestasi perempuan asal Manado itu. Misalnya, dalam Olimpiade 2016, kejuaraan dunia bulutangkis, termasuk All England.
Jokowi juga menyatakan, pebulutangkis muda Indonesia semestinya dapat mengikuti jejak Liliyana.
“Prestasi ini yang harus dijadikan inspirasi. Nilai-nilai sebuah prestasi bagi pemain-pemain bulutangkis yang masih junior, yang masih muda-muda, untuk bisa berprestasi seperti Butet, Liliyana Natsir,” ujar Presiden.
Liliyana didampingi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi saat bertemu Jokowi. “Mohon arahan dari Pak Jokowi setelah ini mungkin jika saya dibutuhkan untuk membantu memotivasi adik-adik, menjadi inspirasi untuk adik-adik. Saya siap untuk ke sana,” ujar Liliyana, seperti diberitakan Suara Pembaruan dan dilansir ‘BeritaSatu.com’.
Secuplik kisah mengharukan
Nama besar Liliyana Natsir sebagai pebulutangkis top sudah tak diragukan lagi. Sejumlah gelar prestisius mampu direngkuh dara asal Manado tersebut.
Namun, di balik kesuksesannya itu ternyata ada sekelumit cerita panjang yang mengiringi langkahnya. Jatuh bangun perjuangan dan deretan tantangan besar harus dilalui perempuan yang akrab disapa Butet ini.

Ungkapan itu pun dibeberkan Liliyana saat menerima apresiasi penghargaan atas raihan gelar juara dunia ganda campuran 2017 di Kudus, Jawa Tengah.
“Perjuangan saya pertama kali merantau ke Jakarta dirasakan awalnya begitu berat di usia baru 12 tahun saat itu. Apalagi saya anak bungsu, yang tak terbiasa terpisah dari orang tua. Sepertinya hidup saya sudah selesai,” ungkap Liliyana Natsir, dalam sebuah testimoninya.
“Bahkan sampai pada saat makan pun selalu sambil berlinang air mata, hingga nasi itu rasanya sudah seperti bubur. Nggak enak untuk ngapa-ngapain lagi. Tapi itulah cerita dulu, jika diingat-ingat sekarang, rasanya kok kayak cengeng banget ya,” kenang Liliyana seperti dilansir Vivanews.com.
Tapi semua jerih payah, kerja keras dan perjuangannya itu pun tak berujung sia-sia. Atlet yang pada 9 September besok merayakan ulang tahun ke-32 ini bahkan telah mengoleksi 4 gelar juara dunia dan 1 medali emas Olimpiade.
Si ‘tomboy’ dari Teling
Siapa yang tak kenal Liliyana Natsir. Perempuan ‘tomboy’ asal Manado tersebut sudah banyak menorehkan prestasi lewat cabang olahraga bulu tangkis. Bersama Tontowi Ahmad, Liliyana berhasil menyabet sejumlah gelar bergengsi sebut saja juara All England hingga meraih emas Olimpiade Rio 2016.

Tapi tahukah Anda sebelum Liliyana meraih kesuksesan seperti ini dia pernah merasakan perjuangan yang sulit saat berpisah dengan ibundanya Olly Maramis. Hal itu disampaikannya saat dia menerima bonus setelah berhasil keluar sebagai juara di turnamen Indonesia Open 2017 lalu.
Dalam sebuah tayangan video, Liliyana bercerita tentang momen perpisahannya dengan sang mama kala Butet kecil harus tinggal di asrama.
“Di hari terakhir sebelum mama pulang, saya masih ingat posisi duduk saya dimana, mama dimana. Waktu itu saya lagi makan, mama bilang makan dulu. Saya makan sambil netesin air mata, waktu itu saya makan nasi sama ayam goreng dan sayur. Nasinya yang awalnya kering kok jadi basah, ternyata kena air mata saya. Memang waktu itu air mata saya netes terus, sedih banget. Saya tahu mama berusaha nahan (tangis), padahal saya tahu dia juga berat berpisah dari anaknya,” ujar Butet seperti dikutip dari Badmintonindonesia, Jumat (14/7/17).
Dilanjutkan Butet, waktu sudah cukup berhasil jadi atlet, sang mama kemudian bercerita tentang momen tersebut. Kala itu memang dirinya berusaha untuk tegar, waktu sampai ke mobil, ia tak bisa menahan tangisnya.
“Di rumah om saya pun mama terus menangis, sampai waktu diajak makan, mama enggak keluar dari kamar. Di bandara waktu mau naik pesawat juga menangis, mungkin orang berpikir ibu ini ditinggal meninggal anaknya, padahal misah doang kan. Saat itu saya pisah dengan mama, ketemunya lagi kan lama, karena harga tiket pesawat tidak seperti sekarang. Itulah perjuangan Liliyana Natsir yang mungkin enggak semua orang tahu, begitu pengorbanan saya dulu yang belum jadi apa-apa,” ucap peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 bersama Tontowi ini.
Liliyana pun menuturkan, kehadiran sang mama sangat berarti dalam perjalanan kariernya sebagai salah satu pebulutangkis tersukses di Indonesia. Sang mama, papa (Beno Natsir) dan kakak (dr. Kalista Natsir) merupakan supporter, motivator sekaligus komentator baginya. Tak jarang jika kalah, penampilan Butet dikritik oleh orang-orang terdekatnya tersebut. Apalagi, kata Butet, sang papa adalah orang yang disiplin dan tegas.
“Mama saya adalah orang yang pengertian, beliau tak henti-hentinya mendukung anaknya dalam mengambil keputusan. Selamat ulang tahun buat mama yang ke -60, semoga panjang umur, sehat-sehat, semoga banyak rezeki,” ucap Butet sambil mengusap air matanya.
“Crème de la crème, terbaik di antara yang terbaik, I love you mama, top ceerr!” demikian Butet, seperti dilansir ‘Sindonews.com’.
Rasa bangga dan bahagia pun terpancar dari wajah ibunda Butet. Saat menonton video ucapan ulang tahun dari Butet, ia tampak menitikkan air mata haru. “Mama bangga sama anak mama, Butet sudah merantau dari kecil, bertanggungjawab dan sekarang sudah berhasil tetapi tidak foya-foya. Terima kasih untuk Butet,” kata Olly Maramis, sang bunda. (B-SP/BS/VN/SN/jr)



