-3.6 C
New York
Wednesday, February 25, 2026

Buy now

spot_img

Jelajah !!! James Riady dan keprihatinan hunian layak terjangkau: “Bicara kebutuhan rumah, jangan tunggu masyarakat marah” (10a)

BENDERRAnews, 22/3/19 (Jakarta): Kepedulian seorang James Riady terhadap upaya memenuhi hunian layak bagi rakyat Indonesia, ternyata juga merupakan salah satu kulminasi dari ‘penjelajahan’-nya ke berbagai pelosok Nusantara. Dan ini tidak hanya menyesaki benak dan perasaannya, tetapi terus digumuli serta meloncat keluar melalui sejumlah aplikasi visi besarnya.
Karena itu, dalam edisi “Jelajah” hari ini, menarik dikupas ulang sebuah judul tulisan “James Riady: Bicara Kebutuhan Rumah, Tinggal Tunggu Masyarakat Marah” dari Arimbi Ramadhiani di Kompas.com, Edisi 6 Juni 2017, yang juga dicuplik Kaskus dengan judul sama, dan diturunkan pada 23 Juni 2017,
Bagi James, memiliki rumah merupakan harapan setiap manusia. Rumah menjadi patokan penting bagi individu dan idaman setiap orang. Rumah juga dinilai sebagai tabungan dan aset terbaik seseorang.Meski demikian, CEO Lippo Group James Riady, dengan sedih mengatakan, masyarakat Indonesia masih sangat sulit memiliki rumah. Sehingga muncul angka kekurangan ketersediaan rumah atau backlog yang tinggi.
Dia mengatakan, saat ini angka backlog masih simpang siur. Angka yang paling bisa dipertanggungjawabkan selama ini adalah dari Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan sensus 2010 yakni 13 juta.”Mau (kebutuhan) itu 8 juta, 10 juta, 12 juta, itu tetap angka yang signifikan, tinggal tunggu waktu masyarakat akan marah,” ujar James di Hotel Westin Jakarta, Senin (5/6/17).
Harga tanah meningkat terus
James lalu bercerita mengenai rasio kepemilikan rumah di Hong Kong. Dia pernah lama tinggal di salah satu kota paling maju di Asia itu.Di sana, menurut James, harga tanah meningkat terus, dan membuat mimpi masyarakat memiliki rumah bertambah jauh.Sementara di Singapura, meski lahannya sedikit, kepemilikan rumah terus mengalami lonjakan kenaikan.Warga 90 persen miliki rumah

Pemerintah Singapura menyadari, pemilikan rumah merupakan hal utama. Bahkan, sektor ini menjadi fokus pemerintah sebesar 70 persen.

“Terakhir, delapan tahun ini, dia (Singapura) hanya genjot satu hal, yaitu kepemilikan perumahan. Sekarang di Singapura 90,8 persen warganya sudah punya rumah,” tutur James.

Atas hal ini, warga pun mengaku senang, karena sudah memiliki rumah. Apalagi harganya tidak pernah turun.

Dengan demikian, selain bisa ditinggali, rumah juga menjadi instrumen investasi yang sangat menjanjikan, terlebih lokasinya memiliki infrastruktur yang memadai.

Masalah besar di Indonesia

Ia melanjutkan, perumahan merupakan satu hal yang penting dan menjadi masalah besar di Indonesia.

Meski menjadi peluang besar bagi stakeholder perumahan terutama pengembang, James mengaku heran properti di Indonesia lesu dalam beberapa tahun terakhir.

Dia bahkan membandingkan kondisi properti di Indonesia dengan Myanmar yang sebenarnya jauh kita lebih baik.

“Saya kaget sekali waktu ke Myanmar untuk pembukaan Siloam. Properti di daerah Myanmar 2-3 kali lipat lebih tinggi (dibanding Indonesia),” kata James.

Masyarakat Myanmar sudah mengerti tidak ada investasi yang lebih menguntungkan daripada properti.

Selain Myanmar, harga properti yang tinggi juga ia temukan di Nepal. Saat pertama kali ke sana, James berpikir harga properti di Nepal tidak mungkin tinggi.

Namun, kenyataannya, harga properti di negara seluas 150 kilometer persegi ini, malah dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

“Kita ngga perlu bicara negara seperti Tiongkok dan Vietnam yang propertinya mahal sekali. Tetapi pemerintah di sana itu memiliki strategi mau diapain properti itu,” jelas James Riady.

Rakyat butuh hunian terjangkau

Dari artikel di atas, James Riady sepertinya hendak mengingatkan kita semua, agar lebih bijak mengimplementasikan amanat Undang Undang Agraria, yang menyatakan, tanah, air dan udara serta kekayaan alam Indonesia itu merupakan anugerah Tuhan. Ini mesti dikelola secara bertanggung jawab sebagai tanda ucapan syukur kepada Sang Khalik, lewat mengembangkannya dengan baik untuk sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat seluruhnya, secara adil.

Ini penting sekali dan semakin urgen, karena tentu rakyat yang semakin bertambah, pasti sangat membutuhkan hunian layak terjangkau dengan kelengkapan fasilitas memadai, terutama sanitasi dan lingkungan tercukupi.

Hal itu memang jadi kewajiban pemerintah, plus stakeholders pengembangan perumahan. Keseriusan mempercepat ketersediaan rumah layak untuk masyarakat sebanyak-banyaknya (tentu masih sulit tercapai seperti di Singapura yang 90-an persen warganya sudah memiliki hunian sendiri, Red), merupakan langkah bijak.

Artinya, jangan tunggu masyarakat marah.

Ajakan untuk para pentolan

“Ini waktunya para pentolan properti turun gunung”. Kalimat itu meluncur dari bibir CEO Lippo Group, James Riady saat perkenalan publik proyek Meikarta, di Aryaduta Hotel Jakarta. Demikian artikel lainnya berjudul, “James Riady: Sudah Saatnya Pentolan Oroperti Turun Gunung”, yang diturunkan KompasProperti, Edisi Kamis, 4 Mei 2017.

James melanjutkan, sudah saatnya Lippo Group yang punya beragam bisnis, melahirkan terobosan, dan inovasi baru di sektor properti. Dan ini pun butuh visi besar dan keberanian. Yakni

Langkah Lippo Group melahirkan Meikarta, kata James, untuk mengisi absennya para pentolan di sektor properti dalam mengembangkan proyek skala besar.

“Di dunia properti, sudah lebih dari 10 tahun tidak ada pentolan yang terjun dengan proyek besar-besar,” kata James.

Bahkan seorang Ciputra pun yang notabene bisnis inti (core business)-nya properti, tidak melahirkan proyek raksasa.

CEO Lippo Group James Riady diapit Presiden Kelompok Lippo Theo L Sambuaga, Komisaris Lippo Group Agum Gumelar, CEO Meikarta Ketut Budi Wijaya, dan pengamat ekonomi Didik J Rachbini usai memperkenalkan Meikarta, megaproyek seluas 500 hektar di Jakarta, Kamis (4/5/2017).

CEO Lippo Group James Riady diapit Presiden Kelompok Lippo Theo L Sambuaga, Komisaris Lippo Group Agum Gumelar, CEO Meikarta Ketut Budi Wijaya, dan pengamat ekonomi Didik J Rachbini usai memperkenalkan Meikarta, megaproyek seluas 500 hektar di Jakarta, Kamis (4/5/17). (Foto: Hilda B Alexander/Kompas.com)

Karena itu, lanjut James, Lippo Group sungguh-sungguh melakukan terobosan baru melalui Meikarta, agar bisa menjadi inspirasi buat semua pelaku usaha properti.

Proyek ini menempati lahan seluas 500 hektar di bagian paling timur Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Lahan tersebut sudah dikuasai Lippo Group sejak kurun 1990-an, saat ‘naga bisnis ‘ini memulai inisiasi kota mandiri berbasis industri Lippo Cikarang.

Di kota baru ini, James menjelaskan, rencananya akan dikembangkan 100 gedung tinggi dengan ketinggian masing-masing gedung sekitar 35 hingga 45 lantai.

Ke-100 gedung itu terbagi dalam peruntukan huian sebanyak 250.000 unit, perkantoran strata title, 10 hotel bintang lima, pusat belanja dan area komersial seluas 1,5 juta meter persegi.

Fasilitas yang akan melengkapinya antara lain pusat kesehatan, pusat pendidikan dengan penyelenggara dalam dan luar negeri, tempat ibadah, dan lain-lain.

“Khusus untuk perumahannya, kami membidik segmen kelas menengah. Harga hunian yang kami patok senilai Rp12,5 juta per meter persegi,” tutur James, dan merupakan hunian yang benar-benar dibuat terjangkau oleh khalayak aneka latar, dengan ketersediaan fasilitas kelas internasional.

James menargetkan, pengembangan Meikarta tahap pertama akan selesai dalam waktu tiga tahun.

Dia meyakini, target ini akan tercapai mengingat sebagian atau 50 gedung sudah terbangun dan akan mulai digunakan pada 2018 mendatang.

Jika keseluruhan proyek Meikarta ini rampung dalam kurun 20 tahun ke depan, James memperkirakan nilainya bakal mencapai Rp278 triliun.

Visi besar dan berani

Artikel kedua tersebut, memunculkan salah satu ‘daya jelajah’ James yang juga merupakan titisan dari sang ayah, Mochtar Riady, Pendiri Lippo Group. Yakni, daya uuang tinggi melahirkan terobosan, dan inovasi baru di sektor bisnis apa pun, didukung visi besar dan keberanian.

Lippo yang berpengalaman membangun kawasan di dalam bahkan di luar negeri (bukan sekedar perumahan, Red), memang ingin ‘berbagi’ pengalaman dalam membantu pemerintah mempercepat pengisian defisit perumahan rakya yang masih sepuluh jutaan unit tersebut.

Pengalaman dan track record yang dimiliki, antara lain kapasitas serta kredibilitas membangun kota terintegrasi, modern dengan ketersediaan beragam fasilitas (seperti di Lippo Karawaci, dan beberapa lagi lainnya di srjumlah daerah, Red) membuktikan keseriusan James memberi yang terbaik bagi bangsanys.

Dia pernah betutur, semua milik kita, dari DIA. Karenanya, James Riady terpanggil, menjadi seperti steward sekali pun, untuk wajib melayani DIA, Sang Sumber Hidup, lewat pelayanan yang baik bagi sesama, sebagai wujud ucapan syukur bagu-NYA. (B-KC/KK/jr — diolah dari berbagai sumber)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles