-1.3 C
New York
Monday, February 23, 2026

Buy now

spot_img

Setuju !!! Biden perintahkan Intelijen AS ungkap asal usul Covid-19, 14 negara prihatin laporan penelitian di Tiongkok tertunda, WHO: Gua Kelelawar perlu diteliti

BENDERRAnews.com, 27/5/21 (Washington): Hari Rabu (26/5/21) waktu setempat, Presiden Joe Biden memerintahkan Badan Intelijen Amerika Serikat untuk mengungkap asal usul Covid-19. Seperti dilaporkan AFP, intelijen diminta melapor kepada Biden dalam waktu tiga bulan ke depan.

Biden meminta kepastian tentang apakah virus Covid-19 yang pertama kali muncul di Tiongkok berasal sumber hewan atau dari kecelakaan laboratorium.

“Badan-badan intelijen harus melipatgandakan upaya mereka untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dapat membawa kita lebih dekat ke kesimpulan yang pasti, dan melaporkan kembali kepada saya dalam 90 hari,” bunyi pernyataan Biden yang dirilis oleh Gedung Putih.

Disebut Biden, badan-badan saat ini terpecah atas dua kemungkinan sumber virus yang melanda planet ini selama setahun terakhir, menewaskan lebih dari 3,4 juta orang. Jumlah kematian itu menurut para ahli, merupakan perkiraan yang terlalu rendah.

Perintah Biden menandakan meningkatnya kontroversi tentang bagaimana virus pertama kali muncul – melalui kontak hewan di pasar di Wuhan, Tiongkok, atau melalui pelepasan virus corona dari laboratorium penelitian yang sangat aman di kota tersebut.

Jawaban dari dua pertanyaan itu memiliki implikasi sangat besar, baik untuk Tiongkok, yang mengatakan tidak bertanggung jawab atas pandemi, dan untuk Amerika Serikat.

Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) sebelumnya mendanai penelitian virus corona kelelawar di Wuhan. Tetapi NIH membantah mendukung eksperimen “peningkatan fungsi” yang melibatkan modifikasi virus, sehingga menjadi lebih mudah menular ke manusia.

Hibah tersebut diakhiri tahun lalu oleh pemerintahan mantan presiden Donald Trump. Teori laboratorium telah digunakan oleh oposisi Partai Republik untuk menyerang ilmuwan AS, termasuk Anthony Fauci dari NIH, dan Beijing, yang membantah keras klaim tersebut.

Biden mengatakan, pada Maret dia meminta laporan tentang asal-usul virus, termasuk “apakah itu muncul dari kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi atau dari kecelakaan laboratorium.”

“Sampai hari ini, komunitas intelijen AS telah bersatu di sekitar dua skenario yang mungkin tetapi belum mencapai kesimpulan pasti tentang pertanyaan ini,” katanya.

Laporan tertunda

Sebelumnya dari Jenewa dilaporkan,sejumlah 14 negara menyatakan keprihatinan pada Selasa (30/3/21) lalu, atas tertundanya laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal asal-usul virus corona yang menyebabkan Covid-19.

Tiongkok mencabut larangan bepergian warga Kota Wuhan setelah melakukan lockdown lebih dua bulan.

Tiongkok mencabut larangan bepergian warga Kota Wuhan setelah melakukan lockdown lebih dua bulan. (Foto: AFP )

Seperti dilaporkan VOA, keprihatinan itu juga disampaikan atas tertutupnya akses ke data yang lengkap karena otoritas Tiongkok.

Selain pemerintah AS, pernyataan keprihatinan bersama tersebut ditandatangani oleh pemerintah 13 negara lainnya, yaitu: Australia, Kanada, Republik Cek, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lituania, Norwegia, Korea Selatan, Slovenia, dan Inggris.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, akses data lengkap tidak diberikan kepada para penyelidik WHO yang melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk meneliti asal-usul pandemi.

“Penting bagi kami untuk menyuarakan keprihatinan bersama bahwa studi para pakar internasional tentang sumber virus Covid-19 ditunda secara signifikan, dan (mereka) tidak memiliki akses ke data dan sampel asli yang lengkap,” kata pernyataan bersama yang dirilis di laman Departemen Luar Negeri AS.

Sebelumnya, Tiongkok menolak memberikan data mentah tentang kasus awal Covid-19 kepada tim pakar yang dipimpin WHO. Berdasarkan salah satu anggota tim penyelidik, tindakan Tiongkok mempersulit upaya untuk memahami bagaimana asal mula pandemi global Covid-19.

Pernyataan bersama negara-negara tersebut mendukung studi lebih lanjut tentang hewan penyebab Covid-19 untuk menemukan bagaimana virus itu ditularkan ke manusia. Belasan negara itu juga menyerukan komitmen baru dari WHO dan negara-negara anggota terkait akses (terhadap data), transparansi, dan ketepatan waktu.

“Sangat penting bagi para ahli independen untuk memiliki akses penuh ke semua data terkait manusia, hewan, dan lingkungan, penelitian, dan personel yang terlibat dalam tahap awal wabah yang relevan untuk menentukan bagaimana pandemi ini muncul,” kata pernyataan itu.

Gua Kelelawar

Sementara itu dari Wuhan dikhabarkan, seorang anggota tim peneliti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas mencari petunjuk asal usul Covid-19 di Kota Wuhan, Tiongkok, mengatakan, perlu melacak elemen genetik virus di gua-gua kelelawar.

Peter Daszak, ahli zoologi dan ahli penyakit hewan, mengatakan, tim di Wuhan telah menerima informasi baru tentang bagaimana virus, yang pertama kali diidentifikasi di kota itu pada akhir 2019, menyebabkan pandemi.

Foto dokumentasi pada 8 April 2020 memperlihatkan orang-orang yang mengenakan pakaian pelindung dan topeng tiba di Stasiun Kereta Hankou,  Wuhan, untuk naik salah satu kereta pertama yang meninggalkan kota di provinsi Hubei, Tiongkok.

Foto dokumentasi pada 8 April 2020 memperlihatkan orang-orang yang mengenakan pakaian pelindung dan topeng tiba di Stasiun Kereta Hankou, Wuhan, untuk naik salah satu kereta pertama yang meninggalkan kota di provinsi Hubei, Tiongkok. (Foto: AFP)

Daszak, yang terlibat dalam penelitian tentang asal-usul Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) pada 2002-2003, menelusuri asal usul virus ke kelelawar yang berada di sebuah gua di Provinsi Yunnan di Tiongkok barat daya.

“Penelitian serupa perlu dilakukan jika kita ingin menemukan asal mula satwa liar yang sebenarnya dari Covid-19,” kata Daszak, kepala Aliansi EcoHealth yang berbasis di New York.

“Pekerjaan semacam itu, untuk menemukan kemungkinan sumber dari kelelawar, penting karena jika kita dapat menemukan sumber virus mematikan ini, kita dapat mengurangi kontak dengan hewan-hewan itu,” ujarnya kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Tidak jelas apakah Tiongkok saat ini mengambil sampel dari banyak gua kelelawar, tetapi virus yang mirip dengan SARS-CoV-2 sebelumnya telah ditemukan di Yunnan.

Daszak mengatakan, tim di Wuhan telah menerima informasi baru tentang bagaimana virus itu menyebabkan pandemi, tetapi tidak menerangkan lebih lanjut.

“Saya melihat gambaran yang datang dari beberapa skenario tampak lebih masuk akal daripada sebelumnya,” katanya.

Satu skenario yang sedang diteliti lebih dekat oleh tim ialah kemungkinan virus tersebut mungkin telah beredar jauh sebelum pertama kali diidentifikasi di Wuhan.

“Itu adalah sesuatu yang kelompok kami lihat dengan sangat intens untuk melihat tingkat penularan komunitas yang mungkin terjadi lebih awal. Pekerjaan sebenarnya yang kami lakukan di sini adalah melacak kembali dari kasus pertama kembali ke reservoir hewan, dan itu jalan yang jauh lebih berbelit-belit, dan mungkin telah terjadi selama beberapa bulan atau bahkan tahun,” tutur Daszak, menjelaskan.

Dia tidak menjelaskan lebih lanjut tetapi mengatakan, tidak ada bukti yang menunjukkan virus itu muncul dari laboratorium.

Beijing bilang dari luar

Asal muasal virus corona telah menjadi sangat dipolitisasi menyusul tuduhan, terutama oleh Amerika Serikat (AS), Tiongkok tidak transparan dalam penanganan awal wabah tersebut.

Beijing telah mendorong gagasan, virus itu berasal dari tempat lain.

Para penyelidik telah mengunjungi rumah sakit, fasilitas penelitian, dan pasar makanan laut tempat wabah pertama diidentifikasi, meskipun kontak mereka di Wuhan terbatas pada kunjungan yang diselenggarakan oleh otoritas Tiongkok, tuan rumah mereka.

Daszak mengatakan, pihak berwenang Tiongkok tidak menolak permintaan tim untuk mengunjungi fasilitas atau bertemu dengan tokoh-tokoh penting.

“Tentu saja tidak mungkin untuk mengetahui apa yang tidak diberitahukan kepada Anda, tetapi apa yang saya lihat di Tiongkok, dan apa yang dilihat kelompok ini di Tiongkok, adalah apa yang kami minta, kami diizinkan melakukannya,” kata Peter Daszak. Demikian Reuters dan ANTARA. (B-VOA/AFP/RTR/ANT/jr)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles