Seperti anak-anak lainnya yang usianya mungkin sama seperti aku, senja itu dengan hepinya aku berjalan ke mesjid dekat rumahku unttk sholat mahgrib di mesjid. Setiba di mesjid aku langsung menuju ke tempat mengambil air wudhu, sebab aku tidak sempat berwudhu di rumah sebelumnya.
Dan saat aku sedamg membuka kran air, tiba-tiba ada lima orang anak sepantaran dengan aku, tiga anak lelaki dan dua anak perempuan yang sama sekali aku tidak mengenal mereka, tiba-tiba dengan kompaknya meneriaki aku dengan sebutan kafir. Aku bingung…dan aku tanya ke mereka maksud dan arti kafir itu apa ya???
Lalu mereka menertawakan aku dan sambil berteriak mengatakan, hei…papa kamu Kristen kan….? Ngapain kamu ke mesjid???.
Astagfirullah, ucapku dalam hati…sekarang aku yang balik bertanya, unttk apa juga mereka ke mesjid kalo tidak mampu menjaga setiap ucapannya…. Saat itu bukan main sedihnya hati ini, karena agama yang diyakinin papaku menjadi olok-olokan mereka.
Aku menangis dan berlari pulang ke rumah membatalkan sholat mahgribku di mesjid. Agama buat aku adalah pagar iman, untuk tidak dimasuki hal-hal yang membuat keburukan, karena di dalam iman ada harta kita, yakni akhlak yang terpuji untuk TUHAN kita. Mungkin si ‘harta’ yang dimiliki oleh orang-orang sekeliling anak-anak itu tidak dalam pagar imannya lagi, hingga anak-anak itu pun sudah menjadi korban dari tidak pahamnya toleransi beragama yang sesungguhnya. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab dalam menjelaskan pemahaman apa makna sesungguhnya tentang ‘agama’…
Sangat sedih jika anak-anak seumurku menjadi korban dari perlakuan orang-orang dewasa yang merasa dirinya ‘maha benar’… di jaman yang sudah serba digital, serba ‘touchscreen’, serba ‘internet minded’, yang dimanapun pun kita sedang berpijak, kita bisa berkomunikasi langsung dengan orang lain dari gurun hingga ke bawah laut dengan sekali sentuh saja…
‘Napa orang-orang di negeriku ini tidak bisa merasakan bentuk sentuhan yang mendidik ya…?
Aneh banget, kenapa agama seperti menjadi taruhan untuk permainan di meja perjudian, untuk menetapkan siapa yang menjadi pemenangnya dan yang kalah harus berhamba pada si pemenang, luar biasa gilanya… Mampu mengucapkan ‘in the name of God’ untuk menggadaikan agamanya degan cara menaburkan bibit kebencian pada orang-orang yang menjadi lawannya di meja perjudian ‘kekuasaan… Berteriak tentang surga dan neraka…. Bertakhbir menyebut nama Allah, tapi isi kepala dan hatinya penuh kebencian…, jika manusia sudah tidak mampu bersangka baik pada hamba Allah yang lainya, lantas apa arti pemahaman agama itu.
Menyedihkan sekali orang-orang yang ada di negeriku ini, begitu mudahnya dibakar oleh api kerapuhan….sebagian orang berteriak bunuh orang kafir dan sebagian lagi berteriak tegakan NKRI….namun kedua-duanya hanya bisa berteriak siapa yang paling kuat suaranya saja, seperti sedang ikut perlombaan paduan suara tanpa juri…
Sedih rasanya melihat orang-orang dewasa ini membentuk sejarah untuk menghancurkan cita-cita anak-anak seperti aku. Apakah hanya sejarah hitam gelap saja yang akan dititipkan pada kami anak-anak Indonesia…???
Sesuram itukah masa depan kami????
Negeriku Indonesia sudah menjadi negeri siluman, yang dipenuhi oleh penyihir-penyihir dengan alirannya masing-masing…setiap hari selalu saja ada peristiwa yang menyesakkan dada…sim salabim penjarakan si fulan…. esok harinya lagi dengan penyihir yang berbeda dengan mantra yang berbeda juga adakadabra….gulingkan presidennya….
Betapa rapuhnya pemerintahan negeriku ini, begitu mudahnya terhipnotis oleh penyihir-penyihir yang ingin memiliki bumi dan langit…..
*) Ungkapan perasaan anakku sembilan tahun yang diperlihatkan ke saya semalam – setiba saya di rumah sekitar pukul 23.45 WIB. Atas izin D’Amour, tulisan ini saya posting tanpa editing kecuali pemberian judul dan spasi. (Derek Manangka)
**) Disadur redaksi untuk menjadi renungan bagi sidang pembaca yang budiman



