BENDERRAnews, 18/9/17 (Klaten): Satu lagi pabrik mobil dalam negeri mendapat perhatian serius Presiden Joko Widodo, setelah dulu mendorong produksi ‘Mobil Esemka’.
Presiden Jokowi kemudian meminta agar mobil produksi dalam negeri dapat kompetitif secara harga dan kualitas di pasar.
“Ini rencananya untuk kendaraan desa. Tadi dihitung-hitung saya tanya harganya berapa sih? Jatuhnya Rp60 juta hingga 70 juta. Kalau Rp60-70 juta saya kira banyak yang beli. Tapi sebulan bisa produksi berapa? Feasible atau tidak feasible secara bisnis? Bussines plan-nya seperti apa? Marketingnya ke siapa? Harus sudah rinci, harus sudah jelas,” kata Presiden Joko Widodo di Bengkel Kiat Motor, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (17/9/17).

Presiden mengunjungi Kiat Motor yang saat ini sedang memproduksi contoh kendaraan angkut perdesaan bernama “Mahesa” bertenaga solar.
Kiat Motor sebelumnya juga ikut menggagas pembuatan mobil “Esemka” yang pernah dipromosikan oleh Presiden Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
“Kalau pemerintah terlalu membantu, jadinya nanti tidak bisa kompetitif di pasar. Pemerintah itu tadi mendukung sertifikasi, mendukung uji emisi. Kalau perlu hal-hal yang berkaitan dengan pajak barang mewah karena ini kan produk dalam negeri, mungkin bisa dibantu. Jangan sampai semuanya disuntik dari pemerintah,” tambah Presiden.
Bila pemerintah terlampau membantu, lalu ketika bantuan dihentikan, produksi mobil juga terancam berhenti. “Nggak boleh seperti itu,” ungkap Presiden.
Terkait mobil “Esemka” yang juga ikut diproduksi oleh Kiat Motor, Presiden mengatakan, pemerintah sudah cukup membantu.
“Di situ tadi, saat kita masih memberikan dukungan, memberikan dukungan uji emisi, dukungan sertifikasi, itu tugas pemerintah. Setelah itu, itu tugasnya PT (perusahaan), tugas industri,” tambah Presiden.
Bila rencana bisnisnya menarik, Presiden pun yakin investor akan tertarik dengan mobil “Esemka” maupun “Mahesa”.
“Ya pasca (produksi) itu, harusnya kan dihitung. Kalau feasible secara bisnis, ya akan banyak orang yang ingin menginvestasikan biaya itu. Tapi ya ditunggulah tanggal mainnya. Baik untuk Mahesa dan nanti Esemka,” ungkap Presiden seperti dilansir ‘Antara’.
Pemerintah mendukung
Presiden Joko Widodo menegaskan dukungan pemerintah terhadap mobil produksi dalam negeri.
“Kita sebagai pemerintah saat itu memberikan dukungan penuh, tetapi apapun sebuah produk, ini belum uji emisi, belum sertifikasi, tapi akan kita dorong juga untuk uji emisi dan sertifikasi,” kata Presiden Joko Widodo di Bengkel Kiat Motor itu.
Presiden mengunjungi Kiat Motor yang saat ini sedang memproduksi contoh kendaraan angkut pedesaan bernama “Mahesa” berbahan bakar solar. Kiat Motor sebelumnya juga ikut menggagas pembuatan mobil “Esemka” yang pernah dipromosikan oleh Presiden Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
“Ada ide-ide, ada gagasan yang sudah jadi barang. Itu sama seperti dulu, seperti Esemka, mobil Esemka itu sama. Jadi dibangun dari UKM-UKM (Usaha Kecil Menengah) kemudian diintegrasikan dengan Esemka kemudian menjadi mobil. Setelah jadi mobil, tahapan berikutnya ada sertifikasi, ada uji emisi, seperti itu sama,” tambah Presiden.
Namun Presiden menantang apa yang dilakukan pasca produksi agar dapat memasarkan mobil tersebut.
“Tetapi setelah itu apa? Itu tadi yang saya tanyakan ke Pak Kiat dan tim, business plan-nya seperti apa? Bisa memproduksi, tapi nanti marketingnya seperti apa? Siapa yang membeli? Ini tidak semudah itu. Orang bertanya juga, Esemka sudah bersertifikasi, sudah uji emisi, tetapi apakah feasible untuk dipasarkan? Apakah bisa berkompetisi? Apakah bisa bersaing? Itu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang harus bisa dijawab oleh industri,” tegas Presiden.
Presiden mengungkapkan, tugas pemerintah adalah memberikan dorongan agar gagasan seperti “Mahesa” dan “Esemka” bisa masuk ke pasar.
“Dan saya akan dorong ini agar melakukan sertifikasi, uji emisi, dan kalau selesai bussines plan harus sudah jelas dipasarkan kepada siapa, harganya berapa, apakah bisa bersaing dengan produk dari misalnya Tiongkok, Korea, Jepang, karena ini masalah persaingan di pasar. Tetapi apapun, pemerintah harus mendorong, harus mendukung produk-produk dalam negeri seperti ini,” tambah Presiden.
Sedangkan soal pemasaran dan rencana bisnis ke depan, pemerintah menyerahkannya kepada pelaku industri.
“Pemerintah itu memberikan dukungan tadi, uji emisi, sertifikasi, mungkin diberikan fasilitas, masalah pajak barang mewah, bisa saja. Tugas pemerintah itu. Tugas pemerintah kan tidak membuat pabrik tapi menyiapkan regulasi-regulasinya agar industri dalam negeri bisa berkembang,” ungkap Presiden.
Pengoperasiannya murah
Sukiat sebagai pemilik Kiat Motor, mengemukakan, produknya bernama “Mahesa” adalah kendaraan yang dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat desa khususnya yang berprofesi sebagai petani dan dapat dikombinasikan dengan berbagai peralatan pengolahan hasil pertanian.
“Mahesa” dirancang menggunakan mesin diesel 650 cc sehingga berbahan bakar solar dan pengoperasiannya murah. “Mahesa” juga menggunakan komponen yang diproduksi pabrik lokal di wilayah industri Yogyakarta, Solo, Klaten, Ungaran dan Salatiga.
Sementara hingga saat ini “Esemka” pun belum diproduksi massal. Data hasil pengujian di Balai Termodinamika Mesin Propulsi Serpong pada 7 Februari 2012 menyatakan Esemka belum memenuhi standar Kementerian Lingkungan Hidup.
Mobil Esemka menjalani uji emisi kedua pada pertengahan Juni 2012. Hasilnya, kendaraan ini berhasil memenuhi ambang batas, yaitu untuk CO di bawah 5 gram per kilometer dan untuk HC+NOX di bawah 0,70 gram per kilometer.
Selanjutnya pada April 2016, perusahaan yang akan memproduksi mobil Esemka, PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH), masih menunggu izin manufaktur dari Kementerian Perindustrian. Izin tersebut diperlukan agar mereka bisa memproduksi kendaraan bermotor. (B-AN/jr)



