BENDERRAnews, 3/10/17 (Jakarta): Sepertinya, style sang ayah, yakni Mochtar Riady yang merupakan ‘founder’ Lippo Group dan dijuluki banyak kalangan sebagai ‘si manusia ide’, ini menurun juga kepada anaknya, James T Riady.
Betapa tidak, dalam setiap gebrakannya di dunia bisnis, James yang kini CEO Lippo Group, terus saja menciptakan gaung dahsyat.
Sebut saja ketika dirinya memelopori para pebisnis nasional papan atas agar mendukung kebijakan Pemerintah RI di bidang ‘Tax Amnesty’. Sontak kemudian berondong-bondong para pengusaha besar sekaliber Tommy Soeharto, Sofjan Wanandi dan seterusnya ramai-ramai datang ke kantor pajak untuk mengikuti program ‘tax amnesty’ tersebut.
Walhasil, ribua triliun rupiah bisa diperoleh, dan Indonesia dibilang sebagai negara paling sukes menyelenggarakan ‘tax amnesty’, mengalahkan Spanyol (Eropah) mapun Brazil (Amerika Latin) dan lain-lain.
Menggaungkan investasi properti
Kini, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerintah saat ini memang tengah menggelar pembangunan masif infrastruktur di Koridor Timur Jakarta (KTJ). Hal itu tak lepas dari posisi strategis Koridor Timur Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional.
“Kami sudah berkiprah selama 67 tahun, untuk itu kami mendukung kebijakan itu dengan terlibat aktif mengembangkan koridor tersebut lewat Meikarta,” ujar CEO Lippo Group ini dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (14/9/17) lalu dan disiarkan berbagai media, termasuk ‘KompasProperti’.
Salah satu keterlibatan aktif itu dilakukan Lippo melalui rencana pembangunan kota baru, yaitu Meikarta.
James berharap, Meikarta akan semakin melengkapi pembangunan infrastruktur masif KTJ untuk memperkuat posisi koridor ini di kancah nasional.
“Lebih dari itu, Meikarta juga kami proyeksikan mampu memberikan nilai tambah bagi Koridor Timur Jakarta, yang pada akhirnya menjadi daya tarik bagi kehadiran investasi asing,” ujarnya.
Satu hal yang pasti, menurut praktisi properti, Teddy Sanjaya, gebrakan James Riady dengan Lippo-nya itu, jelas-jelas telah menggangungkan lagi spirit para investor di bidang properti, karena tengah menghadapi situasi kurang bagus akibat kelambanan ekonomi global maupun nasional.
“Lippo Group melalui PT Lippo Cikarang Tbk yang sudah berpengalaman mengembangkan kawasan industri di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, juga sejumlah kota modern di berbagai kota, jelas punya pengalaman dan kapasitas untuk melakukan sekaligus menuntaskan gebrakan investasi properti bernilai Rp278 triliun ini,” katanya.
Satu hal lagi, menurutnya, gebrakan ini seperti menyentak para investor lain untuk ikut bangkit serta terus menancapkan bisnis propertinya bagi kepentingan mendukung program pemerintah memenuhi defisit hunian rakyat yang diperkirakan di atas 11 juta unit tersebut.
Optimisime James
Sebenarnya kondisi ekonomi dunia, menurut James, sudah mulai pulih.
Ia menyemangati rekan-rekan investornya, dengan berargumentasi, pertumbuhan ekonomi di kawasan Amerika dan Eropa sudah menuju level pertumbuhan sebelum dilanda krisis.
Demikian juga di kawasan Asia. Bahkan, Indonesia jadi negara paling memiliki pertumbuhan ekonomi terbaik. Semua indikator makro meningkat, meskipun masih kebutuhan-kebutuhan primer masyarakat belum terpenuhi.
Di tengah situasi itu, lanjutnya, di sektor properti, Indonesia masih mengalami defisit hunian hingga mencapai 11,4 juta unit. Meskipun perekonomian nasional bertumbuh, namun kebutuhan masyarakat terhadap hunian layak terhadang oleh harga mahal.
Di sisi lain, permintaan yang tinggi juga belum mampu diimbangi dengan penyediaan perumahan. “Kita (Indonesia) mengalami defisit 11 jutaan rumah. Permintaan tinggi tapi ketersediaan tak mengimbangi. Ada juga permintaan tinggal tapi harga juga tinggi,” ujar James.
Kehadiran Meikarta, menurut James, merupakan salah satu jawaban dan solusi atas upaya keras pemerintah untuk memenuhi defisit kebutuhan belasan juta unit rumah rakyat.
Dan Cikarang, dimana di sana sudah eksis PT Lippo Cikarang Tbk sejak dekade 1980-an (mengembangkan kawasan industri), menjadi pilihan untuk membangn kawasan hunian layak terjangkau bagi semua kalangan.
Konsumen incar Cikarang
Seperti pernah dituturkan pengamat properti Anton Sitorus di KompasProperti, ada dua jenis konsumen yang mengincar Cikarang. Yang pertama pengguna alias end user. Para pengguna ini bekerja di kawasan industri.
Yang kedua, investor. Mereka mengincar bisnis persewaan properti untuk daerah industri. Asal tahu saja, Cikarang memiliki dua kawasan pengembangan, yakni hunian dan industri (kini juga kawasan komersial, Red).
Kawasan industri di Cikarang, tambah Anton, sudah mempunyai pasar potensinya, baik karyawan lokal maupun pekerja asing.
Enam infrastruktur hebat
Lantaran itulah, Cikarang ujung-ujungnya menjadi kawasan potensial hunian bagi para pekerja sekaligus kawasan yang bernilai ekonomis. Untuk mewujudkan lebih cepat hal itu, saat ini pemerintah membangun enam infrastruktur penting.
Berturut-turut adalah Patimban Deep Seaport yang nantinya akan membantu aktivitas ekspor dan impor di daerah tersebut. Lantaran merupakan pelabuhan dalam, kapal besar dapat langsung merapat dan tak lagi perlu melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
Kedua, Kertajati International Airport. Keberadaan Kertajati ini tentu akan memudahkan lantaran pilihan bandara di kawasan tersebut menjadi lebih banyak.
Yang ketiga, kereta api cepat Jakarta-Bekasi-Cikarang-Bandung. Moda transportasi ini akan membuat lama perjalanan Jakarta Bandung hanya 39 menit.
Adapun keempat dan kelima masing-masing Light Rail Transport ( LRT) Cawang-Bekasi Timur-Cikarang dan Automated People Mover (Monorail).
Sedangkan infrastruktur keenam ialah Jakarta Cikampek Elevated Highway. Keenam infrastruktur tersebut diperkirakan akan selesai dibangun dua hingga tiga tahun mendatang. (B-KP/jr — foto ilustrasi istimewa)



