BENDERRAnews, 14/11/17 (Tangerang): Sesungguhnya, mencintai Tanah Air bukan pekerjaan yang sulit bagi anak-anak. Bersikap antinarkoba, menggunakan internet yang sehat, dan membangun kerukunan di antara sesama teman merupakan bentuk cinta Tanah Air yang nyata.
Namun, ketiga bentuk nyata itu tidak bisa dilepaskan dari peran orangtua dalam wujud pengawasan dan arahan.
Salah satu caranya ialah anak-anak didorong untuk bergaul dengan rekan sebaya untuk tidak menjadi egois karena internet dan sekaligus peka akan perubahan sikap yang terjadi pada anak-anak.
Selain itu, anak-anak harus mendapat keteladanan dalam menghargai mereka yang berjasa, terutama dengan belajar sejarah.
“Jika generasi baru tidak pernah mendapatkan arah untuk belajar sejarah, Indonesia kelak akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak tahu tentang Indonesia, generasi yang tidak tahu akan pahlawannya”.
Demikian kesimpulan yang dapat diambil dari “Pertemuan Kebangsaan” yang diikuti putra altar puteri sankristi (PAPS) kelas VI hingga XI di Gereja Katolik St Helena Lippo Karawaci, Tangerang, Minggu (12/11/17) kemarin.
Hidup tumbuh bersama
Hadir dalam acara yang bertajuk “Iman dan Pelayanan di Era Digital” tersebut Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo, Direktur Bidang Narkoba Polda Banten Kombes Y Hernowo, Pastor Adi Pramono OSC, anggota DPRD Banten Ananta Wahana, dan moderator AM Putut Prabantoro.
“Anak-anak harus bermain bersama temannya dan bukan dengan gadget-nya. Anak-anak harus mengetahui lingkungannya baik keluarga, rumah dan sekolah. Mereka harus belajar hidup serta tumbuh bersama dan menjauhi pergaulan yang tidak sehat. Semakin banyak bergaul, anak-anak bisa memilih dan membedakan mana teman yang baik dan mana yang tidak. Hanya saja kalau hal ini tidak dibiasakan dan asyik dengan sendiri, anak-anak akan berhadapan dengan musuh tak nampak,” ujar Kapolda Banten.
Disebut Sigit Prabowo, untuk mencegah pengaruh buruk internet orangtua harus mendampingi anak-anak. Sehingga pengaruh buruk dari pergaulan dengan internet bisa dicegah. Hal yang sama juga terjadi ketika anak sudah kecanduan narkoba.
Ada beberapa tanda-tanda yang dapat dilihat oleh orangtua sebagai indikator.
“Malas sekolah, tidur larut malam, tidak mau belajar, tidak fokus, tidak mau makan, gerak gerik mencurigakan, mulai belajar mencuri dll adalah tanda-tanda yangg perlu mendapat perhatian dari orang tua”.
“Disiplin, rajin belajar, bergembira, bermain dalam keceriaan yang perlu kalian alami. Jangan tidak bergaul dengan teman-teman. Kalian juga harus bisa memilih teman yang baik atau yang tidak baik,” ujar Sigit seperti dilansir ‘BeritaSatu.com’.
Menyanyikan lagu kebangsaan
Untuk membangkitkan cinta Tanah Air, Sigit mengadakan berbagai permainan, termasuk tanya jawab tentang Pancasila, pengetahuan umum tentang Indonesia, menyanyikan lagu kebangsaan, dan diikuti dengan kemeriahan 150 anak-anak yang hadir.
Sementara, Ananta Wahana dalam dialognya dengan anak-anak mengatakan, dalam pergaulan sesama teman yang paling utama adalah kerukunan. Dengan kerukunan, hal-hal yang positip atau baik akan muncul. Kerukunan adalah kebutuhan semua orang dan itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang ujungnya adalah prestasi.
“Jangan berharap dapat mencapai prestasi kalau tidak rukun. Kalau rukun apa saja bisa dilakukan, dicapai dan diraih. Tetapi kerukunan tidak mungkin terwujud kalau saling membedakan warna kulit, suku, ras atau juga agama. Semua sama tidak ada bedanya. Lalu kerukunan juga akan memunculkan sikap positip, saling tolong menolong, saling menghormati, saling mengasihi dan bukan membenci. Hiduo kita menjadi berarti kalaubdiri kita berguna bagi orang lain dan bukan hanya untk diri kita, “ujar Ananta Wahana.
Pastor Adi Pramono OSC menandaskan bahwa adalah kewajiban pemuka agama untuk membangun dan membentuk generasi baru Indonesia yang mencintai tanah airnya, mencintai Pancasila dan Kebhinnekaannya. Wujud nyata dari itu semua adalah kerukunan, perdamaian, tolong menolong, solidaritas tanpa sekat-sekat. Dengan demikian Indonesia seperti apa yang diinginkan oleh orangtua harus terwujud dalam dunia anak-anak.
“Adalah tidak mungkin membangun Indonesia yang rukun dan damai tetapi orang tua atau pemimpinnya tidak rukun. Atau juga orang tua mengajari atau memberi contoh kepada anak- anak sikap yang bertolak belakang dari sikap yang ditanamkan kepada mereka,” ujar Pastor Adi Pramono. (B-BS/jr)



