BENDERRAnews, 9/9/17 (Jakarta): Berbagai kalangan di Asia -dari Jakarta hingga Bangladesh- melakukan demonstrasi menentang perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya.
Dalam aksinya, demonstran memiliki tuntutan yang sama, mencabut gelar nobel perdamaian yang diterima pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.
Akan tetapi, tuntutan mereka tampaknya menemui jalan buntu. Organisasi Nobel pada hari Jumat (8/9) mengatakan bahwa penghargaan nobel kepada Suu Kyi yang diberikan tahun 1991 tidak bisa dicabut. Menurut organisasi tersebut, tidak ada peraturan yang mengatur pencabutan Nobel.
“Tidak mungkin mencabut Penghargaan Nobel dari orang yang sudah menerimanya. Tidak ada satupun Komite Nobel di Stockholm dan Oslo yang mempertimbangkan pencabutan Nobel begitu sudah diberikan,” kata Olav Njolstad, Kepala Institut Nobel Norwegia.
Sebuah petisi online di Change.org untuk mencabut penghargaan Nobel Suu Kyi telah ditandatangani 386.000 orang per Jumat (8/9/17).
Penerima penghargaan Nobel dari Afrika Selatan, Desmond Tutu, juga menulis surat terbuka kepada Suu Kyi, mengungkapkan kekecawaannya yang mendalam dan berharap Suu Kyi berani menghentikan persekusi terhadap Rohingya.
Uskup agung berusia 85 tahun itu merasa tergerak atas kekejaman dan pembersihan etnis yang terjadi di Rakhine, Myanmar.
“Di hatiku, kau aku anggap sebagai adik sendiri. Fotomu di mejaku mengingatkanku akan ketidakadilan dan pengorbanan yang kau alami demi rakyat Myanmar…Saudariku, jika naiknya dirimu sebagai pemimpin Myanmar harus dibayar dengan mulutmu yang membungkam, maka itu adalah harga yang sangat mahal. Kami mendoakanmu berani mengintervensi krisis ini dan menuntun kembali rakyatmu ke jalan yang benar,” kata Tutu.
Malala Yousafzai, penerima Nobel termuda, mengatakan bahwa dunia menunggu Suu Kyi untuk bertindak. Demikian ‘CNN’ dan ‘Guardian’ yang dicuplik ‘BeritaSatu.com’. (B-BS/jr — foto ilustrasi istimewa)



