BENDERRAnews,15/9/2017 (Jakarta): Masa suram industri properti di Indonesia telah berakhir. Pasar telah merespon seiring dengan adanya sentimen perbaikan ekonomi dunia maupun nasional yang terus tumbuh.
Hal tersebut dikatakan CEO Lippo Grup James T Ryady dan pengamat properti
Ignatius Untung secara terpisah di Jakarta, Selasa (12/9/17) lalu.
Seperti dikutip dari Beritasatu TV, James menyebut tahun 2017 sebagai kebangkitan industri properti di Tanah Air. Hal ini lantaran adanya sentimen perbaikan ekonomi global yang terus tumbuh.
“Di Indonesia semua indikator makro meningkat,” ucap James Riady dalam acara “BTN Golden Property Awards 2017” di Jakarta, Senin (11/9/17) awal pekan ini.
Kondisi ini menjadi peluang Lippo Group mengembangkan proyek Meikarta mengantisipasi defisit perumahan sebesar 11,4 juta unit saat ini.
Pasar acuan
Sementara itu, Ignatius menganggap masa-masa perlambatan pasar properti Indonesia, khususnya kawasan Jadebotabek, sebagai pasar acuan telah berakhir. Hal ini dibuktikan dengan nilai transaksi di pasar primer, dan sekunder pada kuartal I tahun 2017 yang menunjukkan pertumbuhan signifikan secara tahunan.
Dia mengungkapkan, nilai transaksi meningkat 42,5 persen menjadi sebesar Rp224 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2016. “Sementara dilihat dari jumlah transaksinya naik 38 persen,” ujar Ignatius.
Kendati nilai transaksi itu hanya berdasarkan value by sampling, namun pertumbuhan di atas 20 persen merupakan indikasi kuat pasar properti telah melewati masa-masa buruk.
Dia mengatakan, kenaikan transaksi tersebut terjadi pada semua metriks yang disurvei. Untuk sektor apartemen naik 40,2 persen, rumah tapak 37,4 persen, ruko 39,5 persen, ruang komersial 45 persen, dan lahan 48,9 persen.
Properti dengan harga Rp2,5 miliar ke atas menjadi pendorong kenaikan jumlah transaksi, walaupun tidak bisa menutupi penurunan yang didominasi oleh kelompok harga di bawahnya.
Menariknya harga rata-rata properti yang ditransaksikan pun mengalami pertumbuhan. Untuk apartemen menjadi rata-rata Rp1,954 miliar, sebelumnya Rp1,242 miliar.
Sementara rumah tapak menjadi rata-rata Rp2,866 miliar dari sebelumnya Rp2,679 miliar. “Jadi, masa-masa suram telah berakhir sejak akhir 2016 lalu,” ujarnya.
Optimisme pengembang
Indikasi kuat lainnya ialah optimisme pengembang yang mulai berani mematok pertumbuhan target penjualan lebih tinggi dengan rentang pertumbuhan 15 persen hingga 50 persen.
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) contohnya. Pengembang yang dirintis oleh Soetjipto Nagaria ini membidik pertumbuhan penjualan tertinggi di antara emiten besar lainnya yakni 50 persen. Penjualan diharapkan menjadi Rp4,5 triliun, dibanding realisasi tahun 2016 yakni senilai Rp3 triliun.
Di posisi kedua terbesar adalah PT Intiland Development Tbk dengan besaran 41 persen. Tahun lalu, mereka mampu merealisasikan penjualan Rp1,630 triliun. Tahun ini emiten berkode DILD ini mengincar penjualan Rp2,3 triliun.
Menempati peringkat ketiga tertinggi ialah Ciputra Group dengan angka incaran 18 persen atau Rp8,5 triliun. Tahun lalu, raksasa properti ini membukukan pendapatan Rp7,2 triliun.
Berikutnya PT Pakuwon Jati Tbk dengan Rp2,7 triliun. Target penjualan ini lebih tinggi 17 persen dibanding realisasi 2016 senilai Rp2,3 triliun. Sementara PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membidik pertumbuhan penjualan 15 persen menjadi Rp7,22 triliun dari sebelumnya Rp 6,3 triliun. (Feber Sianturi/jr & tim — foto ilustrasi istimewa)
