BENDERRAnews, 29/12/17 (Shenzhen): Direktur Penjualan Bisnis Konsumsi Domestik Huawei, Teng Hingfei, ditahan pihak berwajib, karena diduga terlibat kasus korupsi.
Skandal korupsi yang mengguncang Huawei Technologies Co Ltd, produsen telepon pintar (smartphone) terbesar di Tiongkok dan nomor tiga di dunia ini jrlas mendapat perhatian global, termasuk dari Indonesia, dengan berharap, agar kasus seperti itu tidak merembet ke wilayah kita.
“Praktik suap yang kotor oleh sejumlah orang di jajaran manajemen top Huawei ini, tidak boleh terjadi di Indonesia,” tegas pengamat bisnis Teknologj Informasi, Teddy Matheos kepada Tim ‘BENDERRAnews’dan ‘SOLUSSInews’, di Jakarta, Jumat (29/12/17).
Sejumlah eksekutif di beberapa korporasi papan atas di Indonesia pun mengkhawatirkan kemungkinan merembetnya skandal seperti itu ke sini jika otoritas kita tidak siaga.
“Harus diwaspadai jangan sampai praktik suap dan korupsi Perusahan Telekomunikasi China terbesar itu menular ke Indonesia, karena Huawei juga beroperasi di Indonesia,” demikian rangkuman tim redaksi atas pernyataan para eksekutif di Indonesia itu.
Sebagaimana diberitakan, Manajemen Huawei pada Rabu (27/12/17) waktu setempat mengumumkan, direktur penjualan bisnis konsumsi domestiknya, Teng Hongfei, ditahan pihak berwajib karena diduga terlibat kasus korupsi.
“Polisi langsung mengambil tindakan terhadap Teng Hongfei atas dugaan menerima suap,” demikian manajemen perusahaan yang berbasis di kota Shenzhen itu dalam pernyataan tertulisnya, seperti dilansir dari Bloomberg News.
Penangkapan dan penahanan terhadap eksekutif Huawei telah memukul salah satu perusahaan teknologi tertutup itu. Huawei berhasil meraih pangsa pasar global lewat lini produk telepon seluler (Ponsel) pintar dengan harga terjangkau tapi spesifikasinya setara dengan ponsel pintar premium.
“Pihak berwenang sedang menyelidiki kasus ini dan kami tunduk pada mereka untuk menyampaikan informasi yang dibutuhkan. Kami menjalankan etika bisnis secara sangat serius dan sama sekali tidak menoleransi perilaku korup,” tegas manajemen Huawei.
Tahun ini, Huawei memperkenalkan Ponsel pintar ‘Mate 10’ hampir bersamaan dengan salah satu rival globalnya, Apple Inc asal Amerika Serikat (AS), yang meluncurkan iPhone X.
Nomir tiga
Berdasarkan data International Data Corporation (IDC), hingga kuartal III-2017, Huawei menguasai 10,5 persen pangsa pasar telepon pintar dunia.
Dengan penguasaan pangsa pasar itu, Huawei tercatat sebagai produsen telepon pintar terbesar di dunia setelah Samsung Electronics Co dan Apple Inc yang masing-masing menguasai pangsa pasar 22,3 dan 12,5 persen.
Perusahaan konsultan berbasis di Hong Kong, Counterpoint Research, dalam rilis laporan terbarunya pada September 2017 bahkan menyebutkan Huawei sudah mengambil alih posisi Apple dari sisi penjualan ponsel pintar global sejak Juni 2017.
Huawei didirikan 30 tahun silam atau pada 1987 oleh mantan insinyur militer Ren Zhengfei. Ia disebut-sebut memiliki hubungan sangat dekat dengan pemerintah Tiongkok.
Praktik suap kotor
Huawei mengklaim pemberantasan korupsi di internal sudah menjadi target perusahaan sejak beberapa tahun lalu. Pada 2015, dalam acara tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Ren mengatakanm Huawei harus memperkuat kebijakan internal, setelah mengampuni lebih dari 4.000 karyawannya atas keterlibatan mereka dalam praktik suap dan praktik-praktik kotor lainnya dalam bisnis. Mereka termasuk sejumlah eksekutif senior.
Teng Hongfei yang ditangkap dan ditahan polisi, merupakan salah satu eksekutif kunci, karena ia memimpin penjualan bisnis segmen konsumsi perusahaan. Huawei dalam pengumumannya tidak menyebutkan siapa pengganti Teng.
Teng Hongfei memimpin divisi penjualan domestik yang termasuk paling pesat pertumbuhan penjualannya. Divisi yang antara lain menangani penjualan ponsel pintar ini melaporkan kenaikan pendapatan sebesar 36 persen menjadi US$ 16 miliar pada semester I-2017.
Sedangkan sepanjang tahun 2017, Huawei menargetkan pendapatan tumbuh 25 persen menjadi US$33 miliar, atau turun dibandingkan pertumbuhan pada 2016 sebesar 42 persen. Divisi itu juga menjual jam tangan pintar, komputer tablet, dan aksesoris dari penutup telinga hingga kamera.
Menjebak Klien
Pada September 2007 dan dalam laporannya mengenai Argentina, lembaga asal Amerika Serikat (AS), Army Strategic Studies Institute, menggambarkan Huawei sebagai perusahaan yang tidak asing dengan suap-menyuap dan menjebak klien.
Laporan tersebut, seperti dilansir dari Wikipedia, Rabu (27/12/17), menjelaskan praktik-praktik bisnis tidak adil yang dilakukan Huawei, seperti konsumen diiming-imingi perjalanan ke Tiongkok dengan biaya penuh dari Huawei atau ditawari bingkisan uang. Tapi semua itu dimanfaatkan Huawei sebagai bentuk pemerasan.
Berdasarkan kawat informasi Wikileaks, pada 2006, Michael Joseph yang waktu itu menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Safaricom Ltd diduga kesulitan membatalkan sebuah kontrak dengan Huawei. Joseph hendak membatalkan kontrak karena mengalami layanan purna jual yang buruk, tapi ia ditekan oleh pemerintah Kenya untuk melanjutkan kontrak tersebut.
Saat diperiksa mengenai insiden itu, Joseph menepisnya. “Kawat itu bukanlah cerminan apa yang sebenarnya terjadi karena Safaricom bisa menjadi pembeli besar produk-produk Huawei, termasuk seluruh perangkat 3G, switching, dan pembaruan sistem penagihan OCS baru-baru ini,” papar Joseph.
Pada Mei 2010, Times of India melaporkan bahwa badan-badan keamanan di India mencurigai sejumlah karyawan Huawei setelah karyawan asal India diduga tidak memiliki akses ke sebagian tempat di gedung pusat riset dan pengembangan Huawei di Bangalore.
Huawei merespons dengan menyatakan bahwa pihaknya mempekerjakan lebih dari 2.000 insinyur India dan hanya 20 insinyur Tiongkok di pusat riset dan pengembangan (research and development/R&D) tersebut.
“Staf India maupun Tiongkok memiliki akses yang setara terhadap seluruh fasilitas dan aset informasi kami,” demikian pernyataan Huawei.
Dibebetkan Times of India, badan-badan intelijen India juga mencatat bahwa para karyawan Huawei asal Tiongkok memperpanjang masa tinggalnya di Bangalore hingga beberapa bulan.
Huawei menyatakan sebagian besar karyawan dimaksud mendapatkan penugasan internasional selama 1,5 tahun sebagai perantara teknis antara tim di India dan Tiongkok. “Semua karyawan asal Tiongkok ini memiliki visa yang berlaku dan tidak kelebihan izin tinggal,” demikian Huawei.
Alat spionase
Bukan hanya India yang mencurigai karyawan Huawei asal Tiongkok. Sejumlah negara lain juga memiliki kekhawatiran spionase dan keamanan terkait Huawei.
Beberapa badan pemerintah dan pejabat keamanan AS menduga perangkat telekomunikasi buatan Huawei dirancang untuk bisa diakses secara terlarang oleh pemerintah Tiongkok dan angkatan bersenjata Tiongkok atau Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), karena sosok pendirinya, Ren Zhengfei, yang mantan insinyur militer dan disebut-sebut memiliki hubungan sangat dekat dengan pemerintah Tiongkok.
Pada Mei 2017, juri di AS sepakat dengan gugatan T-Mobile bahwa Huawei melancarkan spionase industri di AS dan Huawei diperintahkan membayar ganti rugi sebesar US$ 4,8 juta. Huawei merespons dengan menyatakan bahwa Tappy bukanlah sebuah rahasia dagang dan dibuat oleh Epson, bukan oleh T-Mobile.
Negara-negara lain yang memiliki kecurigaan terhadap kasus-kasus serupa oleh Huawei antara lain Inggris, Australia, Kanada, dan Jerman.
Selanjutnya di tahun 2014, berdasarkan dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden, New York Times melaporkan bahwa Badan Keamanan Nasional AS atau NSA sejak 2007 melancarkan program mata-mata terhadap Huawei. Ini termasuk peretasan terhadap jaringan internal Huawei, yang mencakup jaringan di kantor pusatnya dan komunikasi Ren Zhengfei.
Edward Snowden merupakan mantan kontraktor teknik AS dan karyawan Central Intelligence Agency (CIA) yang menjadi kontraktor untuk National Security Agency (NSA) sebelum membocorkan informasi program mata-mata rahasia NSA kepada pers.
Huawei pun pernah terlibat dalam sengketa hak kekayaan intelektual dan perusahaan multinasional lainnya, seperti dengan Cisco Systems dan Motorola, keduanya asal AS.
Isu korupsi juga pernah menggoyang Huawei di Eropa. Penyelidikan internal digelar Telekom Austria pada 2011 terkait dugaan praktik korup yang menyebabkan pemberian kontrak pada Huawei. Merespons hal itu, Huawei menegaskan bahwa perusahaan tersebut selalu menaati hukum dalam melakukan operasinya.
Kasus di Indonesia
Sementara itu, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengatakan, dugaan skandal korupsi yang mengguncang Huawei perlu dimonitor sampai sejauh mana penyuapan itu dilakukan.
“Apakah ada kasus serupa di Indonesia? Kalau terjadi di Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau aparat penegak hukum yang lain perlu juga mendalami siapa saja yang terlibat,” kata mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) itu kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.
Disebut Heru, jika tidak ada penyelidikan di Indonesia, pasar di Tanah Air tidak akan terpengaruh karena bisnis Huawei sudah kuat. “Mudah-mudahan skandal korupsi tersebut tidak berimbas ke Indonesia,” ujarnya.
Heru Sutadi menegaskan, dugaan skandal Huawei harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk senantiasa menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan pemerintahan yang baik (good government).
“Praktik-praktik yang melibatkan vendor dan pemerintah dimungkinkan, misalnya untuk urusan adopsi teknologi baru, meninjau pabrik, dan lainnya. Itu harus dipantau dan secara tegas diberikan sanksi jika ada pelanggaran, baik berupa gratifikasi maupun praktik-praktik lainnya yang melanggar ketentuan. Ini tidak hanya pada vendor bersangkutan, tapi juga semua vendorperangkat telekomunikasi,” tegas dia.
Di sisi lain, anggota Komisi Hukum DPR Eddy Kusuma mengakui, dugaan skandal Huawei bisa saja terjadi di Indonesia. “Persoalan suap-menyuap korporasi di Indonesia kan sudah menjadi hal biasa. Saya kira perlu kerja keras aparat hukum, seperti KPK, untuk menyelidiki dugaan-dugaan tersebut,” tuturnya.
Jika perlu, kata Eddy, proyek-proyek pemerintah Indonesia yang selama ini dikerjakan Huawei juga diusut. “Sebab, bukan tidak mungkin terjadi kasus korupsi dalam proyek tersebut,” tandasnya.
Dampak negatif
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) I Ketut Prihadi Kresna mengatakan, dugaan skandal Huawei mesti dilihat secara proporsional, apakah kasus tersebut semata menyangkut pribadi Teng Hongfei ataukah korporasi.
“Jadi, harus dilihat, apakah Teng korupsi sebagai pribadi, ataukah korupsi karena membawa misi Huawei. Kalau itu pribadi, kasus itu akan berhenti pada oknumnya (Teng) saja. Tapi kalau atas misi Huawei, kasus ini bisa berpengaruh ke korporasi,” ujar Ketut Prihadi kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.
Prihadi mengakui, jika dugaan korupsi Teng menyangkut misi bisnis Huawei, kasus yang bersifat lokal di Tiongkok itu pun bisa berpengaruh negatif terhadap bisnis Huawei secara keseluruhan, baik di Tiongkok sebagai pusat bisnis Huawei maupun ekspansinya ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
“Apalagi Huawei saat ini merupakan produsen telepon pintar terbesar di Tiongkok dan nomor tiga di dunia, serta bermintra dengan sejumlah operator telekomunikasi di Tanah Air,” tuturnya.
Tahun berat
Seperti dikemukakan pengamat gadget, Herry Setiadi Wibowo, tahun 2017 dilewati Huawei dengan cukup berat, khususnya untuk bisnis ponsel. Adanya pembenahan di internal perusahaan, ditambah pergantian distributor di Indonesia membuat telepon pintar Huawei nyaris tak terdengar. Padahal di pasar global, pangsa pasar Huawei termasuk kuat.
“Selama berbulan-bulan pada awal 2017, produk Huawei seolah tidak dirawat. Yang ada di pasaran seperti dibiarkan begitu saja, tidak ada program marketing, promo, dan sebagainya. Ini membuat nama Huawei yang sempat bagus saat meluncurkan Y3 pada 2015, seolah hilang lagi,” ujar Herry.
Sempat absen lama dengan produk baru sejak meluncurkan P9 pada akhir 2016, baru pada Agustus 2017 Huawei mengumumkan kolaborasinya dengan PT GND Imperium Perkasa sebagai distributor resmi Huawei di Indonesia. Pada saat bersamaan, Huawei juga meluncurkan tiga varian produk Huawei Y series generasi terbaru.
“Sayangnya, waktu peluncuran ketiga produk tersebut kurang tepat. Selain barangnya tidak terlalu menarik, dari sisi harga juga kurang kompetitif. Apalagi varian tertingginya sangat berdekatan dengan produk Moto G5s Plus dan Xiaomi Mi A1 yang punya harga mirip, tapi memiliki spesifikasi yang jauh lebih menarik. Akhirnya kalahlah produk Huawei,” paparnya.
Herry melihat titik kebangkitan Huawei baru terjadi ketika merek ponsel asal Tiongkok ini meluncurkan Huawei Nova 2i di Indonesia pada awal November 2017. Produk ini terlihat menarik karena dibekali lensa kamera ganda pada bagian depan dan belakang.
Kendati demikian, Herry Setiadi Wibowo memprediksi tahun depan masih menjadi tahun yang sulit bagi Huawei. Karena sempat ‘menghilang’, ia mengistilahkan Huawei seperti bayi yang harus belajar merangkak kembali. (B-IS/BS/jr — Berita ini terbit di harian ‘Investor Daily’ edisi 28 Desember 2017)
