BENDERRAnews, 30/12/17 (Jakarta): Kini di sejumlah daerah di Indonesia dilaporkan adanya peningkatan kasus difteri.
Pasalnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri corynebactrium diptheriae ini mudah sekali menular melalui droplet atau percikan air liur. Bahkan air liur yang tertinggal di mainan juga bisa sangat berbahaya, misalnya saja di terompet yang sedang marak dijual menjelang malam pergantian tahun.
Dokter spesialis mikrobiologi klinis dari FKUI-RSCM, Anis Karuniawati menyampaikan, secara teori memang akan ada air iur yang tertinggal saat meniup terompet.
Bila air liur tersebut mengandung bakteri corynebactrium diptheriae, tentunya ini bisa sangat membahayakan. Apalagi biasanya sebelum membeli terombot, pembeli akan mencoba satu persatu terompet terlebih dahulu untuk mendapatkan terompet dengan bunyian terbaik.
“Prinsipnya bakteri itu suka yang basah, yang lembab. Selama di lubang terompet kondisinya lembab, bakteri akan bertahan hidup di situ. Kalau pun kering, butuh waktu lebih dari 1-2 hari sampai bakteri tersebut benar-benar mati. Jadi memang bisa juga menjadi media penularan bakteri penyebab difteri,” papar Anis Karuniawati, di Gedung IMERI-FKUI, Jakarta, Jumat (29/12/17).
Ditambahkan Dokter Spesialis Anak dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik FKUI-RSCM, Nina Dwi Putri, untuk mencegah penyakit difteri, kuncinya adalah melakukan imunisasi lengkap sesuai usia dan waktunya. Vaksin untuk imunisasi difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda.
Imunisasi difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi di bawah satu tahun sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan.
Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin DPT-HB-Hib, pada anak sekolah tingkat dasar kelas satu diberikan satu dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas dua diberikan satu dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan satu dosis vaksin Td.
“Dengan melakukan imunisasi lengkap sesuai usia dan waktunya, tubuh akan terlindungi dari penularan bakteri penyebab difteri yang sangat mematikan,” tegasnya.
Kenali gejalanya
Kasus difteri yang saat ini tengah meningkat di sejumlah daerah di Indonesia merupakan penyakit menular yang mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri corynebacterium diptheriae yang bisa ditularkan melalui droplet atau percikan dan kontak.
Dokter Spesialis Anak dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik FKUI-RSCM, Nina Dwi Putri, menjelaskan gejala khas dari difteri adalah timbulnya demam yang tidak begitu tinggi sekitar 38 derajat, nyeri tenggorokan, suara serak, susah menelan, dan juga seringkali disertai pembengkakan di leher (bullneck). Gejala khas lainnya adalah munculnya bercak di tenggorokan berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan.
“Pada tingkat yang lebih lanjut, difteri bisa menyebabkan kesulitan bernafas dan suara nafas mengorok. Penyakit ini juga bisa menyebabkan komplikasi serius, mulai dari gangguan pernafasan atas, lalu bisa menyebar ke bagian jantung, saraf, hingga ginjal,” papar Nina Dwi Putri, di gedung IMERI-FKUI, Jakarta, Jumat (29/12/17).
Bila mengalami gejala seperti yang disebutkan tersebut, Nina mengingatkan untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan ke fasilitas kesehatan terdekat. Apalagi kalau sebelumnya sempat ada kontak dengan penderita difteri dan memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap. Pasalnya penyakit difteri memiliki risiko kematian yang tinggi.
Kabar baiknya, penyakit ini sebetuknya bisa dicegah melalui imunisasi. Dengan catatan, imunisasi tersebut harus dilakukan secara lengkap sesuai usia, bahkan harus diulang kembali setelah dewasa.
“Ada banyak penyakit mematikan yang sebetulnya bisa dicegah melalui imunisasi, salah satunya difteri,” tambahnya seperti dilansir ‘BeritaSatu.com’.
Ketersediaan vaksin cukup
Pemerintah menjamin ketersediaan vaksin difteri untuk imunisasi ulang atau outbreak response immunization (ORI) dan antidifteri serum (ADS) untuk pengobatan pasien difteri mencukupi.
Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Moeloek, mengatakan, PT Bio Farma selaku produsen vaksin dan Badan Kesehatan Dunia Wilayah Asia Tenggara (WHO SEARO) membantu penyediaan vaksin dan obat ADS untuk menutupi kebutuhan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Indonesia.
“Penyediaan vaksin sebagai wujud Nawacita, di mana negara hadir untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara,” kata Nila, dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (29/12/17).
Kemeterian Kesehatan (Kemkes), kata Nila, telah meminta PT Bio Farma untuk memperbanyak produksi vaksin agar setiap orang tua bisa melengkapi imunisasi dasar anak-anaknya dan untuk memenuhi kebutuhan ORI.
Selain itu, apabila persediaan vaksin difteri mencukupi, dapat digunakan untuk masyarakat di luar program ORI. Nila mengatakan vaksin untuk ORI atau untuk memenuhi kebutuhan dasar imunisasi harus selalu tersedia.
Nila meminta Bio Farma memprioritaskan persediaan vaksin untuk Indonesia, setelah itu baru untuk kepentingan ekspor. Bio Farma sebelumnya juga telah menyumbang 700 vial ADS untuk kebutuhan pasien difteri.
Nila juga mengatakan WHO SEARO telah menyumbangkan ADS sebanyak 500 vial untuk keperluan kasus KLB difteri di Indonesia.
“Pekan lalu, WHO SEARO melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi mengirimkan 500 vial Antidifteri Serum. Artinya, baik masyarakat maupun pasien difteri tidak perlu khawatir lagi soal pengobatannya,” kata Nila seperti dilansir ‘Antara’.
Perlukah orang dewasa divaksin?
Kasus difteri yang saat ini tengah meningkat merupakan jenis penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi lengkap. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga perlu diimunisasi, supaya tubuh benar-benar kebal terhadap bakteri corynebactrium diptheriae penyebab difteri.
Dijelaskan Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi dari FKUI-RSCM, Iris Rengganis, ada tiga jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah penularan bakteri penyebab difteri, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Untuk orang dewasa, vaksin yang diberikan adalah jenis Td.
“Ketika dewasa atau setelah usia 19 tahun, pemberian vaksin pencegah difteri juga sangat penting. Kalau sebelumnya saat masih anak-anak sudah melakukan imunisasi lengkap, pemberian vaksin Td cukup dilakukan satu kali saja untuk 10 tahun. Tapi kalau imunisasinya belum lengkap, harus dilakukan sebanyak tiga kali dengan rentang waktu nol bulan, satu bulan, dan enam bulan,” papar Iris Rengganis, di Gedung IMERI-FKUI, Jakarta, Jumat (29/12/17).
Iris menambahkan, pemberian vaksin Td pada orang dewasa sangat penting, sebab antibodi yang terbentuk dari imunisasi saat anak-anak akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Sehingga perlu diberikan imunisasi lanjutan (booster) saat sudah dewasa sebagai penguat.
“Ketika memasuki usia 14-16 tahun, antibodi sudah menurun dengan berjalannya waktu. Karena memang tidak ada antibodi yang abadi. Makanya di usia 19 tahun, sesorang butuh booster lagi untuk melindungi dirinya dari bakteri penyebab difteri,” jelasnya.
Saat anak-anak, imunisasi difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi di bawah satu tahun sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan. Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin DPT-HB-Hib, pada anak sekolah tingkat dasar kelas satu diberikan satu dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas dua diberikan satu dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan satu dosis vaksin Td.
“Pemberian vaksin sesuai usia ini harus seluruhnya dilakukan. Kalau hanya sekali saja, tubuh tidak akan kebal dengan corynebactrium diptheriae,” katanya mengingatkan.
Pada banyak kasus, lanjut Iris, difteri bisa menyebabkan komplikasi serius. Yang pertamakali akan diserang adalah saluran pernafasan atas, lalu bisa menyebar ke bagian jantung, saraf, ginjal, bahkan bisa menyebabkan kematian. (B-BS/AN/jr)
