Teror !!! Delapan tewas saat perayaan sunatan di tempat peribadatan Yahudi, Trump instruksikan hukuman mati

BENDERRAnews, 28/10/18 (Pittsburgh): Aksi teror berupa pembunuhan massal kembali terjadi. Kali ini dilaporkan dilakukan seorang pria bersenjata yang melepas tembakan di dekat sebuah tempat peribadatan Umat Yahudi, Sinagoga, di kompleks hunian Squirrel Hill, Pittsburgh, Amerika Serikat, Sabtu (27/10/18) pagi waktu setempat, menewaskan sedikitnya delapan orang.

Tembakan tersebut mengenai 12 orang, termasuk tiga polisi. Tersangka berhasil dibekuk hidup-hidup, diidentifikasi sebagai Rob Bowers, 46 tahun, asal Pittsburgh. Dia disebutkan bersenjatakan senapan AR-15 dan sejumlah pistol.

Para jemaat mengatakan, serangan itu dilakukan saat berlangsung perayaan sunatan di sinagoga itu.

Hukuman mati

Merespons serangan tersebut, Presiden Donald Trump mengatakan, hukuman mati perlu diberlakukan bagi pelaku pembunuhan massal seperti di Sinagoga itu.

“Saya kira mereka harus membuat hukum yang lebih keras, dan saya kira mereka harus memopulerkan hukuman mati,” kata Trump di pangkalan militer Andrews, Maryland.

Trump lalu menyalahkan kurangnya pengamanan di Sinagoga “Pohon Kehidupan” (Tree of Life) itu.

“Ada seorang maniak masuk dan mereka tidak punya perlindungan, sedih melihatnya,” kata Trump.

“Jika mereka punya perlindungan di dalam, hasilnya mungkin akan jauh lebih baik.” Demikian Donald Trump seperti dilansir NBC, dan dicuplik ‘BeritaSatu.com’.

Pendukung fanatik Trump

Cesar Albert Sayoc (kaus hitam) dikawal keluar dari kantor FBI di Miami, Florida, 26 Oktober 2018.

Sementara itu di Florida, pria yang menjadi tersangka pengiriman paket berisi bom rakitan ke rumah dua mantan Presiden Amerika Serikat (Barack Obama, dan Bill Clinton) serta para petinggi Partai Demokrat diketahui sebagai pendukung fanatik Presiden Donald Trump.

Cesar Sayoc, 56 tahun, asal Florida, ditahan Jumat lalu dan dikenakan lima dakwaan federal, termasuk ancaman pembunuhan terhadap mantan presiden. Karena itu, dia diancam hukuman 58 tahun penjara.

Dia dituduh telah mengirim sedikitnya 13 paket berisi bom, dua di antaranya dikirim ke kediaman Barack Obama Washington DC dan Bill Clinton di New York.

Penelurusan pada akun media sosialnya menunjukkan, dia kerap menyerang Demokrat, dan di sisi lain memberikan dukungan pada Trump, presiden dari Partai Republik. Di Twitter, dia mengunggah pernyataan dukungan pada Trump dan sejumlah foto serta video dirinya saat menghadiri kampanye Trump.

Catatan pengadilan menunjukkan, dia seorang residivis. Pada 2002, dia juga pernah membuat ancaman bom.

Ronald Lowy, seorang pengacara di Miami, mengatakan, ancaman Sayoc ketika itu ditujukan kepada perusahaan listrik setempat. Catatan berita acara pemeriksaan menunjukkan dia pernah mengancam serangan yang “lebih buruk dari peristiwa 11 September” kepada perusahaan tersebut.

Pada 2013 dan 2014, dia divonis bersalah melakukan kekerasan dan pencurian. Sayoc, seorang pelatih kebugaran dan binaragawan, juga diselidiki dalam kasus penggunaan bahan terlarang anabolic steroid sintetis yang sering dipakai untuk membesarkan otot.

Mantan atasannya mengatakan, Sayoc pernah membuat pernyataan kalau siapa pun yang tidak berkulit putih, tidak layak hidup di dunia.

Debra Gureghian mengatakan, Sayoc pernah bekerja untuknya di restoran New River Pizza and Fresh Kitchen di Fort Lauderdale sampai Januari 2018.

“Semua orang yang bukan berkulit putih dan bukan anggota supremasi kulit putih tidak pantas hidup di dunia – itu yang biasa dia katakan pada saya sepanjang waktu,” ujarnya.

Sepupunya juga punya kisah buruk tentang tersangka.

“Saya bilang, ‘untuk apa kamu begitu benci’, dan dia menjadi sangat kesal pada saya. Itulah terakhir kami bicara,” kata Lenny Altieri.

Ronald Lowy, pengacara Miami yang mewakili ibu dan dua saudara perempuan Sayoc, mengatakan, pihak keluarga sudah tidak berkomunikasi lagi dengannya dalam tiga tahun terakhir. Dan ketika terakhir mereka berkomunikasi, pria itu belum punya pikiran politik.

“Mereka sangat sedih dengan kejadian ini. Tak seorang pun pantas diancam atau menerima bom rakitan, entah berfungsi atau tidak. Dan mereka sedih bahwa seorang putra dan seorang saudara laki-laki ternyata sakit dan rupanya terlibat dalam tindakan gila ini,” ujar pengacara tersebut, sebagaimana dilansir Fox News & AP.  (B-BS/jr)

Exit mobile version