BENDERRAnews, 19/12/18 (Male): Aksi rakyat dan Pemerintah Filipina yang dulu menyita harta mantan Presiden Ferdinand Marcos, ternyata kini diikuti Maladewa.
“Saya kira banyak negara di dunia termasuk di Indonesia harus bisa mencontohi Filipina dan kini Maladewa, yang berani bertindak tegas untuk mem-‘beslag’ (menyita) atau membekukan harta mantan presiden yang terbukti berasal dari aksi korupsi-kolusi-nepotisme atau yang kita kenal dengan istilah KKN di akhir era orde baru (Orba),” kata Octavianus Rasubala, praktisi hukum dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) “Merah Putih”, di Jakarta, Rabu (19/12/18).
Ia menunjuk keberanian Filipina yang mengusut harta mantan Presiden Ferdinand Marcos hingga ke bank-bank luar negeri, terutama di Swiss.
“Kan Presiden Joko Widodo barusan telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Swiss untuk bisa ‘menangani’ simpanan uang dari Indonesia yang belum jelas diperoleh dari usaha apa? Artinya, Swiss tidak akan berani lagi mengeluarkan dana dari rekening mencurigakan di bank-bank mereka yang disimpan oleh para mantan petinggi atau penguasa di era Orba,” tandasnya.
Sebaiknya momentum ini, menurutnya, segera ditindaklanjuti dengan tindakan nyata, yakni memblokir, membekukan atau mengambil alih (menyita) seluruh rekening yang tidak jelas asal-usulnya dan tersimpan di bank-bank luar negeri, khususnya di Swiss.
Pembekuan rekening Yameen
Sementara itu dilaporkan, mantan Presiden Maladewa, Abdulla Yameen, kini menjalani pemeriksaan untuk kasus korupsi, sejak Minggu (16/12/18) waktu setempat.
Polisi mengatakan, pemeriksaan dilakukan setelah pengadilan memerintahkan pembekuan rekening Yameen yang berisi dana US$ 6,5 juta atau Rp94,88 miliar.
Yameen, yang kalah dalam pemilihan September, diperiksa oleh polisi di pulau Maladewa, Sabtu (15/12/18) akhir pekan lalu. Kini dia telah dirundung oleh tuduhan suap hampir US$ 1,5 juta atau Rp21,8 miliar untuk memenangi pemilihan umum kembali di negara kepulauan Samudera Hindia.
Media setempat melaporkan otoritas moneter Maladewa telah mengajukan pengaduan polisi tentang dugaan sumbangan yang dimasukkan ke dalam akun pribadi yang dipegang oleh Yameen dalam dua tahap yang mencurigakan.
Mantan Presiden Yameen memerintah pulau-pulau wisata yang populer dengan tangan besi. Dia tak segan memenjarakan atau mengasingkan lawan-lawannya. Namun Yameen telah membantah tuduhan suap tersebut.
Yameen sangat bergantung pada Tiongkok untuk dukungan politik dan keuangan di negara berpenduduk 340.000 Muslim Sunni itu. Meskipun negara kecil, Maladewa menjadi “rebutan” dua negara besar. Demikian ‘Suara Pembaruan’ memberitakan. (B-SP/BS/jr)
