Memori !!! Eka Tjipta ‘sang raja kopra’ dari Manado, meninggalkan kekayaan Rp120 T

Oleh Jeffrey Rawis, dari berbagai sumber

BENDERRAnews, 28/1/19 (Jakarta): Indonesia dan kalangan dunia ekonomi kelapa Nusantara, terlebih khusus di Manado, Sulawesi Utara, jelas merasa kehilangan besar, dengan sang legenda, Eka Tjipta Widjaja.

Ya, nama Eka Tjipta memang akrab di kalangan Orang Manado (Minahasa, Manado, Bitung, dan sekitarnya, Red), karena tergolong sosok penuh perhatian dalam mengangkat citra ‘ekonomi kelapa/kopra’ di sana.

Dari kiprah bisnis kopra inilah, Orang Manado meyakini, Eka Tjipta terus berkembang pesat, hingga akhirnya memimpin sebuah kelompok bisnis papan atas Indonesia, Sinar Mas Group, dan oleh Forbes, dinyatakan sebagai orang terkaya nomor tiga di Indonesia per Desember 2018.

Kita, dan Sinar Mas Group tentu kehilangan sang pendirinya, Eka Tjipta Widjaja. Dia menghadap Sang Pencipta pada Sabtu (26/1), pukul 19.43 WIB pada usia 98 tahun.

Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto mengatakan, faktor usia dan kesehatan menjadi penyebabnya. Jenazah akan dimakamkan di pemakaman keluarga Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu 2 Februari 2019.

Eka Tjipta Widjaja merupakan sosok yang memiliki prinsip hidup tak mudah menyerah. Ia lahir dari keluarga miskin. Embrio bisnis Sinar Mas berawal ketika Eka Tjipta berusia 15 tahun, ketika itu bernama Oei Ek Tjhong, berwirausaha menjajakan biskuit dan permen dengan mengendarai sepeda ke penjuru kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 3 Oktober 1938.

Pria yang lahir pada 27 Februari 1921 itu berdagang keliling demi membantu perekonomian keluarga.

Filosofi yang dipegang Eka Tjipta, yakni jujur, menjaga kredibilitas, dan bertanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial, telah menjadi kompas hidupnya. Filosofi itu kemudian bermetamorfosis menjadi nilai-nilai luhur Sinar Mas, yakni integritas, sikap positif, berkomitmen, perbaikan berkelanjutan, inovatif, dan loyal.

Memiliki jiwa pedagang dan tidak pernah menyerah telah mewujudkan ambisinya untuk membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 hektare di Riau pada 1980. Meski hanya lulusan sekolah dasar, siapa sangka Eka Tjipta pada akhir hayatnya disebut-sebut Forbes memiliki kekayaan sedikitnya US$ 8,6 miliar atau sekitar Rp120 triliun.

Eka Tjipta Widjaja menikahi Trinidewi Lasuki, memiliki delapan anak dan 26 cucu. Trinidewi Lasuki telah meninggal dunia dalam usia 90 tahun pada Februari 2017. Putra sulungnya, Teguh Ganda Widjaja, merupakan Presiden Komisaris pabrik kertas PT Tjiwi Kimia Tbk dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Sang adik, Franky Oesman Widjaja, menjabat sebagai CEO Golden Agri-Resources Ltd dan Wakil Presiden Komisioner perusahaan properti PT Bumi Serpong Damai Tbk.

Adapun anak keempat, Indra Widjaja, menekuni sektor finansial, pernah menjabat Presdir Bank Internasional Indonesia dan memimpin PT Sinar Mas Multi Artha Tbk, di samping presiden komisioner dan menjadi Presiden Direktur PT Asuransi Sinar Mas.

Kemudian Sukmawati Widjaja menjabat sebagai Executive Chairman Top Global Limited, perusahan yang bergerak di sektor real estate dan hospitality. Anaknya yang lain, Muktar Widjaja merupakan CEO Sinarmas Land Ltd serta Djafar Widjaja sebagai pendiri Bund Center Investment Ltd di Shanghai, Tiongkok.

Sementara itu, dari isterinya Merry Pirrih (kakak kandung Eddy Pirrih, Promotor Tinju Top dan Pengusaha di Surabaya, Red) yang asal Tomohon, Minahasa, Sulut, Eka Tjipta dikaruniai beberapa putra dan putri yang juga sukses di ranah bisnis, di antaranya Jimmy Wijaya dan Chandra Wijaya.

Sinar Mas menaungi sejumlah perusahaan yang independen dengan manajemen tersendiri. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di sektor pulp dan kertas, agribisnis dan makanan, pengembang dan real estat, jasa keuangan, telekomunikasi dan data, serta energi dan infrastruktur. Belakangan, Sinar Mas juga memasuki ranah bisnis digital ventures.

Dilansir dari Investor Daily, Eka Tjipta mulai membangun emporium bisnis Sinar Mas sejak 1960 lewat perkebunan kopi dan karet, ketika dibentuk CV Sinar Mas di Surabaya. Sinar Mas Group sendiri memiliki enam lini bisnis utama. Sebagian perusahaan tersebut tersebar di luar negeri.

Salah satu perusahaan penyumbang pendapatan utama Sinar Mas ialah PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, yang dibangun pada 1972 di Jawa Timur. Inilah cikal bakal perusahaan pulp dan kertas Sinar Mas. Perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham TKIM ini dimiliki publik sebesar 40,32 persen dan sisanya dikuasai induk usahanya, PT Purinisa Ekapersada sebesar 59,67 persen. Perusahaan pulp dan kertas lainnya ialah PT Indah Kiat Pulp and Paper (INKP).

Bisnis pulp dan kertas milik Sinar Mas Group beroperasi di bawah naungan holding Asia Pulp and Paper (APP). Total kapasitas produksi APP mencapai 19 juta ton per tahun, dengan penjualan tersebar ke 120 negara.

Di sektor agribisnis, Sinar Mas Group mendirikan induk usaha Golden Agri-Resources Ltd (GAR) yang berdiri pada 1996 dan telah tercatat di Bursa Efek Singapura pada 1999. Di Indonesia, GAR memiliki anak usaha PT SMART Tbk (SMAR) yang menjadi perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1992.

SMART memiliki total lahan seluas 138,000 ha. SMART bukan hanya perkebunan sawit, tapi juga fasilitas pengolahan tandan buah segar industri hilir CPO menjadi produk-produk turunan seperti minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel dan oleokimia, dan sebagainya. SMART mengoperasikan 16 pabrik kelapa sawit, lima pabrik pengolahan inti sawit, dan empat pabrik rafinasi di Indonesia.

Minyak goreng kopra

Pada 1968, Eka Tjipta mendirikan pabrik minyak goreng kopra pertamanya, dengan nama Bitung Manado Oil Ltd alias Bimoli di Sulawesi Utara.

Setidaknya ini disebut beberapa kalangan sebagai rasa terima kasihnya kepada warga Sulawesi Utara (Sulut) yang ikut memberi kesempatan kepada dia bersama keluarga untuk memulai karier usahanya dengan berdagang kopra, setelah sebelumnya hanya penjual keliling biskuit di Makassar.

Pasalnya, sebelum Eka Tjipta lebih dalam terjun di dunia bisnis (ke sektor pulp, kertas, sawit, properti, keuangan, dan lain-lain, dia sesungguhnya memulainya dengan berdagang kopra, sejak dekade 1950-an. Yakni membeli kopra dari Manado, Minahasa, Bitung dan sekitarnya (Sulut), lalu diangkut serta dijual di Makassar hingga Surabaya.

Bimoli merupakan nama legendaris hasil karyanya yang sesungguhnya, kendati merek itu kini dikelola pihak lain.

Selain Bimoli, Sinar Mas juga leading dalam bisnis real estate lewat Sinar Mas Land Limited. Lingkup usahanya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Inggris.

Di Indonesia, kompleks real estate yang tersohor ialah Bumi Serpong Damai (BSD) yang dibangun oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Juga ada PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) yang dirintis sejak 1972. Sinar Mas Land juga memiliki bisnis patungan dengan Sojitz, perusahaan Jepang untuk mengembangkan kota bernama PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Di sektor keuangan, Sinar Mas memiliki Bank Internasional Indonesia, namun mayoritas kepemilikannya berpindah tangan. Pada 2005, Sinar Mas mengakuisisi Bank Shinta, yang setahun kemudian resmi menjadi Bank Sinarmas. Kemudian, ada PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), pembiayaan keuangan untuk korporasi termasuk mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sinar Mas juga mengembangkan usaha penyediaan energi listrik, pertambangan batu bara, infrastruktur, bahan kimia, perdagangan ritel, dan multimedia. Bidang bisnis ini dioperasikan oleh PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang berdiri pada 1996. Di sektor telekomunikasi, Sinar Mas memiliki brand yang cukup kondang, yakni PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang berdiri pada 2006.

Kisah lain ‘sang raja kopra’

Berikut ini, ada hal-hal menarik tentang Eka Tjipta, sebagaimana ditulis Dahlan Iskan, Senin 28 Januari 2019, dan beredar di jejaring media sosial (Medsos), sebagaimana disadur redaksi dari ‘Corina’ WAGroups (komunitas perkelapaan Indonesia, Red).

Dahlan memulai tulisannya dengan intro: “…Janganlah melihat orang hanya saat suksesnya. Lihat juga perjuangan menuju sukses itu.

Hanya itu yang bisa saya simpulkan. Saat menulis naskah ini. Untuk menandai meninggalnya konglomerat Eka Tjipta Widjaja. Pada usianya yang 98 tahun. Pukul 17:00. Sabtu lalu.

Saya sudah sangat lama tidak bertemu beliau. Beliau memang sudah sangat lama tidak aktif.

Semua bisnis sudah diserahkan kepada anak-anaknya. Yang ternyata sangat mampu. Menjadikan grup Sinar Mas tetap yang terkaya di Indonesia.

Dari anaknyalah saya sesekali mendengar kabar tentang beliau. Misalnya saat beliau sakit. Atau saat baru sembuh. Sesudah ganti seluruh tulang pinggulnya.

Pada usia 98 tahun baru meninggal. Betapa panjang usianya. Betapa jarang laki-laki yang bisa mencapai usia itu.

Saya masih bisa bertemu anaknya: Franky Wijaya. Yang menjadi pengendali grup usahanya. Atau Teguh Ganda Wijaya. Bos besar usaha bidang kertasnya. Yang menguasai dunia. Sering juga bertemu anaknya yang lain. Dari istri yang lain (Ibu Merry Pirrih, asal Tomohon, Minahasa, Sulut, Red), Chandra, pemilik ‘real estate’ besar di Surabaya: Pondok Chandra Indah.

Dengan Franky saya sesekali bertemu. Dalam bakti sosial Budha Tzu Chi. Sebuah agama yang melarang umatnya membangun rumah ibadah. Juga melarang umatnya sembahyang. Sembahyangnya adalah berbuat baik. Pada orang lain. Terutama pada orang yang lagi susah. Tempat ibadahnya adalah daerah-daerah miskin.

Agama itu berpusat di Hualian, pantai timur Taiwan. Saya sudah pula ke sana. Bersama Franky.

Franky sudah jadi konglomerat. Tapi tetap angkat-angkat karung saat bakti sosial.

Agama ini juga punya jaringan stasiun TV DAAI (baca: Ta Ai). Yang hanya menyiarkan kebaikan.

Saya beberapa kali bertemu Pak Eka Tjipta Widjaja. Di Jakarta atau di Surabaya. Pernah juga menjadi moderatornya. Saat beliau didaulat menjadi pembicara. Dalam sebuah seminar ‘enterpreneur’.

Saya juga pernah menulis satu buku kecil tentang Pak Eka. Yang terbit 30 tahun lalu. Saat umur saya masih 40 tahun. Dan usia Pak Eka masih 70 tahun.

Saya tidak pernah lupa cerita beliau. Tentang awal-awal memulai jadi pengusaha. Bahkan awal kehidupannya di Makassar. Saat umurnya baru 9 tahun.

Pada umur sekecil itu Eka ikut kapal. Dari daerah Hokkian. Mengarungi lautan bebas. Menyusul ayahnya. Yang sudah lebih dulu ke Makassar.

Sang ayah waktu itu sudah punya rumah. Meski dindingnya terbuat dari bambu (gedhek). Dan atapnya dari rumput. Mungkin maksudnya: daun rumbia.

Sang ayah sudah punya usaha kecil-kecilan. Toko sederhana. Eka tidak ingin sekolah dulu. Ingin membantu ayahnya.

Yang ia pilih adalah: menjajakan barang mirip yang ada di toko ayahnya. Ke kampung-kampung. Ia tidak mau hanya ikut menjaga toko. Tapi memilih ‘jemput bola’ ke rumah konsumen.

Masih kecil. Hanya bisa bicara Hokkian. Tapi sudah punya cara dagang yang berbeda.

Ketika umurnya 12 tahun ayahnya minta Eka sekolah. Di sekolah Tionghoa Makassar. Ketika dites kemampuannya masih terbatas. Tertinggal dari umurnya. Eka harus memulai dari kelas satu.

Eka tidak mau. Ia ingin langsung kelas tiga. Ia sangat malu. Kalau harus satu kelas dengan anak umur 7 tahun. “Saya terus pegangi kaki kepala sekolah. Saya sembah. Saya ciumi kaki itu,” ujar Eka.

Kepala sekolah iba. Eka dimasukkan kelas tiga. Tapi bahasa Mandarin pun belum bisa. Semua pesimis Eka akan bisa naik kelas.

Yang bikin guru jengkel adalah pemberontakannya. Terutama guru berhitung. Eka tidak mau ikut urutan pelajaran hitung: tambah-kurang-bagi-kali.

Eka selalu memulai dari kali-tambah-kurang-bagi. “Kalau belum-belum sudah dikurangi dan dibagi mana cukup,” katanya mengenang.

Sampai-sampai guru menjintingnya. Memegang dua kakinya. Dijantur. Kaki di atas. Kepala di bawah. “Hayo, sekarang berjalanlah. Bisa nggak,” bentak sang guru. Sambil terus memegang dua kaki Eka di atas.

“Tidak bisa. Ampun,” teriak Eka.

“Nah begitu juga berhitung. Tidak bisa dibalik-balik,” ujar sang guru. Seperti yang diceritakan Eka.

Tamat SD Eka tidak mau sekolah lagi. Logikanya: sekolah agar bisa bekerja. Saya harus bisa bekerja tanpa sekolah. Kalau siang untuk sekolah tidak bisa bekerja. Kalau siang untuk bekerja bisa sekolah malam.

Siang hari Eka bekerja. Hasil kerjanya untuk memanggil guru. Malam hari. Belajar di rumahnya. Ijazahnya memang hanya SD tapi pengetahuannya tidak kalah dengan tamatan SMA. Plus pengalaman kerja.

Setamat SD Eka mendatangi grosir. Ingin dipinjami biskuit 4 kaleng. Untuk dijual. Bayar setelah biskuitnya laku.

Tidak ada yang mau memberinya biskuit. Dianggap masih anak-anak.

Eka lantas menyerahkan ijazah SD-nya. Sebagai jaminan. Dapatlah ia 4 kaleng biskuit.

Dari toko yang ia ingat betul namanya: Ming Heng. Habis dalam dua hari. Uang pun disetor. Untuk ambil yang baru. Lama-lama ambil enam kaleng. Ijazah dikembalikan. Eka sudah mendapat kepercayaan penuh.

Eka lantas bisa membeli sepeda. Cukup untuk mengangkut enam kaleng biskuit. Omsetnya tidak pernah lagi naik. Kapasitas sepedanya terbatas 6 kaleng.

Omsetnya baru naik ketika Eka bisa membeli becak bekas. Yang tidak ada joknya. Khusus untuk angkut biskuit. Bisa 18 kaleng.

Eka membayar tukang becak. Lima gulden sebulan.

Dalam empat tahun ia bisa mengumpulkan tabungan 2.500 Gulden.

Ia minta ijin ayahnya. Memperbaiki rumah. Habis 1.000 Gulden.

Dinding bambu diganti dengan kayu. Atap daun diganti seng.

Sisanya ditabung. Ingin sekolah ke Tiongkok. Atau ke Hongkong.

Sambil mencari tambahan tabungan itu ia ikutkan arisan tender. Caranya: siapa yang mau memberi bunga tertinggi yang menang. Belum ada deposito waktu itu. Orang seperti Eka tidak akan bisa diterima bank.

Tahun 1941 Jepang masuk Makassar. Keadaan kacau. Ekonomi hancur. Tabungan itu hilang bersama yang menang tender.

Itulah kejatuhan pertama Eka. Masih remaja sudah merasakan ludes. Ia pun tidak tahu apa yang bisa dikerjakan. Di zaman perang seperti itu. Ia lebih banyak bermain di pantai Losari.

Saat duduk-duduk di bebatuan itulah ia kaget. Ada truk tentara yang membuang sampah. Di tanah tidak jauh dari pantai. Sampah itu bukan sembarang sampah. Tapi reruntuhan bekas perang. Barang-barang dari gudang yang terbakar: besi, kayu, karung-karung terigu, karung semen, seng dan sebagainya.

Tiap hari truk itu membuang rongsokan ke situ. Eka berpikir semua rongsokan itu bisa jadi uang. Tapi bagaimana mengangkutnya. Uangnya habis. Tabungannya ludes.

Tapi orang yang membuang rongsokan itu pasti perlu minum. Maka Eka mendirikan warung di dekatnya. Memasak kopi. Menyediakan meja kursi. Yang dibawa dari rumahnya.

Ternyata laku. Kopinya selalu habis. Lalu ibunya ia minta bikin ayam rebus. Ayam putih. Disajikan bersama kopi.

Ayam putihnya itu tidak laku. Ia panik. Modal beli ayam itu yang terbesar. Bukan kopi. Justru tidak laku.

Ia kepepet. Nekat. Ia datangi komandan Jepang. Ia minta mencicipinya secara gratis. “Saya beri sepotong saja. Tidak berani memberi banyak. Takut ayamnya habis tanpa mendapat uang,” guraunya.

Harapannya terkabul. Sang komandan menyukainya. Anak buahnya membeli. Tiap hari ayam putihnya habis.

Tapi tujuannya bukan jualan ayam. Yang utama cari modal. Untuk bisa mengangkut rongsokan-rongsokan yang menggunung itu.

Halaman rumahnya pun penuh rongsokan. Juga tanah kosong di sebelah rumahnya. Besi-besi diluruskan. Seng-seng diratakan. Terigu yang kelihatan terbakar dibuka. Bagian luarnya dibuang. Terigu yang masih baik dikumpulkan. Karung dicuci. Dikeringkan. Untuk mewadahi terigu yang masih baik.

Semen-semen yang sudah membatu ditumbuk. Yang masih baik dikumpulkan. Dikarungi lagi.

Persoalannya: terigu bekas harganya murah.

Maka Eka mempelajari cara menjahit karung. Yang bisa sesempurna jahitan pabrik. Agar dikira semuanya masih baru.

Ia beli jarum di toko. Ia praktekkan cara menjahit karung yang baik. Berhasil.

Terigu ia jual. Setiap hari. Semen tidak ia jual. Tunggu momentum. Toh dari jualan terigu sudah cukup untuk bisa hidup.

Lalu ia pelajari: untuk apa orang beli semen. Ternyata banyak yang dipakai untuk membangun kuburan. Kuburan Tionghoa.

Eka pun mencari siapa tukang makam terbaik. Ia ajak join. Ia beri ‘saham’ 20 persen. Hasilnya menggembirakan. Dalam setahun bisa membangun 8 makam. “Bagian depan makam dekat Bandara Makassar itu saya semua yang bangun,” katanya.

Nilai semennya lebih tinggi daripada dijual dalam bentuk semen.

Dari bisnis barang rongsokan itu Eka bisa menabung Rp20.000. Waktu itu harga sebuah rumah tembok Rp1.000. Stok rongsokannya pun habis.

Eka lantas ingin bisnis minyak goreng. Ia sudah tahu di mana pusat penghasil minyak goreng: Selayar. Sebuah pulau di Selatan Sulawesi. Perlu naik kapal satu malam penuh untuk ke sana.

Ia pun berangkat. Semua tabungan dibawa. Diikatkan di pinggang secara merata. Ia tahu tidak bisa beli secara utang. Harus kontan.

Di Selayar ia bisa kulakan 4.000 kaleng minyak goreng. @18 liter. Ia mendapat diskon 20 persen. Karena membayar kontan.

Ia mabuk. Tidak mampu berdiri.

Pun waktu kapal sudah tiba kembali di pelabuhan Makassar. Ia harus pegangan tiang listrik dulu. Lama. Sebelum bisa berjalan tegak. “Mabuk tapi hati sangat gembira. Semangat sekali,” katanya.

Baru beberapa hari di Makassar keluarlah peraturan pemerintah Jepang. Penjualan minyak goreng hanya boleh dilakukan pihak Jepang. Milik swasta harus diserahkan. Dengan harga dipatok. Rp 1,5/liter.

Eka Tjipta, yang waktu itu namanya masih Ek Tjhong, bangkrut untuk kedua kalinya.

Masih muda sudah merasakan ‘jatuh’ dua kali.

Hidup pun susah. Untuk semua orang. Berbulan-bulan tidak makan roti. Bukan tidak punya uang, tapi sulit mendapatkan roti. Beli roti harus antre. Satu orang dibatasi maksimal dua roti.

Hari itu ia sangat ingin beli roti. Ia antre. Beli dua. Tapi hanya diberi satu. Ia marah.

Tetap tidak diberi. Ia lemparkan roti yang di tangannya ke muka penjualnya.

Ia ngeloyor pulang. Hatinya mendidih. Dendam. Tekadnya bulat: ingin bikin pabrik roti.

Berhari-hari ia cari tahu: siapa juru masak pabrik roti itu. Ia datangi rumahnya. Ia bawakan oleh-oleh untuk istrinya. “Kalau saya tidak bawakan oleh-oleh, bisa-bisa tidak boleh masuk rumahnya,” katanya bergurau.

Langsung ia tawarkan gaji dua kali lipat. Dari Rp15 ribu sebulan ke Rp30 ribu. Tawaran diterima dengan senang. Tapi baru bisa bulan berikutnya. Ia tidak mau kehilangan gaji sebulan itu.

Eka tidak sabar. Dendamnya masih membara. Langsung saja dikeluarkan jurus pamungkasnya: ia bayar gaji yang sebulan itu.

Pabrik rotinya maju.
Tapi sulit mendapatkan gula.
Beli gula harus antre. Satu orang hanya boleh antre untuk 1 kg.

Eka mencari pengantre bayaran. Tujuh orang. Satu bulan bisa mendapat 10 ton. Eka pun merinci. Berarti satu orang antre di 40 tempat sehari.

Eka menjadi kaya kembali. Ia berani membeli mobil. Rp70 ribu harganya. Tapi harus inden. Mobilnya baru tiba enam bulan kemudian.

Saat itulah temannya kesusahan. Perlu uang. Menyerahkan mobilnya. Hanya dengan harga Rp30 ribu. Jadilah Eka punya dua mobil. Menjadi orang yang sangat terpandang.

Waktu meninjau bekas sekolahnya dulu, sang kepala sekolah sendiri yang membukakan pintu mobilnya. Eka banyak menyumbang ke sekolah itu.

Lalu terjadilah perang kemerdekaan. Keadaan kacau. Jalur logistik putus. Pasukan bahan baku macet.

Eka bangkrut lagi. Untuk ketiga kalinya.

Sekali lagi Eka tidak mau meninggalkan utang. Ia sangat yakin kepercayaan merupakan modal terpenting. Dengan kepercayaan ia yakin pasti bisa bangkit lagi. Kelak.

Ia jual yang bisa dijual cepat. Termasuk dua mobil kebanggaannya. Ia kembali naik sepeda.

Saat bangkrut yang ketiga itulah Eka merasa sangat sakit. Bukan soal hidup susah lagi. Tapi soal harga diri. Orang yang dulu membukakan pintu mobilnya pun tidak mau menyapanya lagi. Bahkan melengos saat disapa. Ia sampai malu keliling Makassar dengan sepedanya. Ia merasa semua jari menuding ke mukanya.

Eka tidak tahan lagi. Dirinya merasa terhina. Ia pun minggat dari Makassar. Menuju Malino. Daerah pegunungan sekitar 60 km dari Makassar. Ia menghabiskan waktu di situ. Dengan membaca. Ia memang gemar membaca.

Enam bulan Eka ‘retreat’ di Malino. Barulah hatinya dingin. Ia kembali ke Makassar. Ingin mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

Waktu itu, awal 1950, TNI mengerahkan banyak pasukan ke Makassar. Untuk menumpas pemberontakan Andi Aziz. Dan Kahar Muzakar. Tentara kekurangan logistik. Para pedagang tidak mau menjadi pemasok. Khawatir pembayarannya macet.

Eka mendengar itu. Mau. Satu-satunya yang mau jadi pemasok. Ia punya logika sendiri. “Ini kan tentaranya pemerintah. Pemerintah sendiri. Sudah merdeka. Pasti punya uang. Kalau pun tidak kan bisa cetak uang. Kan negaranya sendiri,” pikirnya.

Eka kembali akan mengandalkan kepercayaan. Sebagai modal utamanya. Ia datangi perusahaan dagang negara. Peninggalan Belanda. Seperti Geowehry. Ia minta barang. Bayar belakangan. Minta waktu dua minggu. Seperti pembayaran yang dijanjikan tentara.

Ternyata dua minggu tidak ada pembayaran. Satu bulan tidak ada. Satu bulan setengah juga tidak. Eka datang ke Geowehry. Minta maaf. Menceritakan apa adanya. Membawa semua berkas dan tagihan. Ia ceritakan apa adanya. Tidak ada yang disembunyikan.

Sesudah lewat dua bulan pembayaran cair. Sekaligus. Banyak sekali. Eka menjadi banyak uang lagi. Utangnya pun lunas.

Mulai menapaki Manado

Eka menjadi akrab dengan tentara. Tentara juga begitu. Merasa Eka orang yang berjasa. Kesempatan pun terbuka. Eka boleh memanfaatkan kapal tentara. Yang pulang ke Makassar dalam keadaan kosong. Sesudah mengirim tentara ke Manado.

Eka pun memuatinya dengan kopra. Yang melimpah di Manado (ibukota Provinsi Sulut, di mana daerah sekitarnya, atau ‘hynterland’-nya, seperti Minahasa, Bitung, Sangihe Talaud, hingga Bolaang Mongondow, berlimpah dengan kopra, Red).

Dengan harga murah (ia dapatkan kopra). (Lalu) Ia jual di Makassar. (Tentu) Dengan harga tinggi (bahkan ada catatan, beberapa kali lipat, Red).

Jadilah Eka pedagang kopra. Ia sering pergi ke Manado, Palu, Toli-toli, Maluku. Pusat-pusat kopra ia kuasai.

Ia pun sudah berani carter kapal. Untuk kirim kopra dari Manado ke Surabaya dan Jakarta. Jaringan dagangnya kian luas.

Suatu saat ia sudah mengumpulkan 3 ribu ton kopra di Manado. Ia carter kapal besar dari Jakarta. Untuk ukuran saat itu.

Ketika kapal tiba pecahlah pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara, (bahkan hingga Maluku, yang berawal dari penandatangan Piagam Permesta di Makassar, dimana M Jusuf, mantan Menteri Pertahanan RI merupakan salah satu penandatangannya, tentu bersama beberapa tokoh legendaris dari Sulut, Red).

Terjadilah perang. Eka menyelamatkan diri. Kopra 3 ribu ton ia tinggal. Kapal carterannya kembali ke Surabaya hanya membawa dirinya.

Eka bangkrut untuk keempat kalinya.

Ia tidak mau lagi tinggal di Makassar. Ia ingin pindah Surabaya. Di daerah yang lebih aman. Yang memungkinkan bisnis berkembang.

Di Surabaya Eka ditampung di kamar temannya. Ukuran 2 x 3 meter. Ia hanya membawa modal kepercayaan. Dan nama baik.

Ia pun menghadap Pangdam Brawijaya, Mayjen Basuki Rahmat. Diijinkan pula mengisi kapal tentara dengan barang dagangannya. Kapal itu berangkat ke Sulawesi membawa bahan makanan. Balik ke Surabaya kosong. Hasilnya dibagi dua: tentara mendapat 25 persennya.

Di Surabayalah Eka berkembang pesat. Dengan pabrik minyak kelapanya (dari daging kelapa/kopra, utamanya dari Manado, Sulut, Red). Dari Surabaya merambah Indonesia. Tidak pernah bangkrut lagi. (Tegasnya, inilah bisnis awal Eka, yakni dari dagang kopra, yang terus berkembang pesat hingga kini, Red).

Waktu saya berumur 40 tahun, saya bertanya pada Pak Eka: Apakah masih membayangkan bahwa suatu saat akan bangkrut lagi. Untuk kelima kalinya.

“Sekarang sudah tidak mungkin lagi bangkrut. Sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut,” katanya.

Itu tahun 1992. Diucapkan di Surabaya. Kepada saya.

Saat itu Pak Eka sudah menjadi orang terkaya kedua di Indonesia. Sesudah Liem Soe Liong (yang kemudian punya nama Indonesia juga: Sadono Salim, Red).

Kini, pabrik minyak gorengnya sudah yang terbesar di Indonesia. Pabrik kertasnya terbesar di Asia. Bisnis Grup Sinar Mas sudah merambah ke segala arah.

Saya pernah ke Ningbo. Sudah ada Bank International Ningbo. Miliknya. Saya ke Suzhou. Sudah ada pabrik kertas sangat besar di sana. Saya ke Shanghai. Gedung pencakar langitnya sangat menonjol di pusat kota Shanghai.

Waktu mengucapkan ‘tidak mungkin lagi bangkrut’ kelihatannya Pak Eka tidak membayangkan: bakal terjadi krisis moneter delapan tahun kemudian. Saat itu utang Sinar Mas mencapai sekitar Rp110 triliun. Kepada lebih 60 bank. Di lebih 40 negara.

Yang menagih pun sampai kesulitan. Untuk berunding pun sulit. Ada 60 bank dan 40 negara harus setuju. (Yakni mengenai) Caranya maupun pembagian hasil penagihannya.

Sampai-sampai utang itu distensil. Dibekukan. (Tapi) Ini membuat Sinar Mas kembali jaya. Semua hasil penjualannya bisa untuk menggerakkan operasionalnya. Tanpa mikir nyicil utang.

Memang Sinar Mas sempat kehilangan Bank International Indonesia. Tapi Pak Eka benar: sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut.

Sabtu lalu Pak Eka meninggal dunia. Meninggalkan semua itu. Tapi juga meninggalkan pelajaran bisnis yang luar biasa berharga….”

https://www.disway.id/eka-tjipta/

Wariskan semangat kerja keras

Kabar duka datang dari dunia usaha. Pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia di usia 98 tahun pada Sabtu (26/1/19) pukul 19.43 WIB. Jenazahnya saat ini masih disemayamkan di Rumah Duka Sentosa Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Kepergian Eka Tjipta tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, tetapi juga orang-orang yang mengenalnya. Sejak kabar duka beredar luas, karangan bunga ucapan dukacita langsung memenuhi seluruh sisi jalan Kwini II serta Jalan Abdul Rahman Saleh menuju rumah duka. Karangan bunga tersebut datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat yang sekadar terinspirasi dengan sosok Eka Tjipta, hingga dari Presiden Joko Widodo.

Bagi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sri Adiningsih, Eka Tjipta merupakan sosok yang menginspirasi. Sri menilai pendiri Sinar Mas Group tersebut sebagai sosok pekerja keras karena berhasil membangun bisnis dari nol, hingga menjadi bisnis raksasa yang telah membuka banyak lapangan kerja bagi penduduk Indonesia.

“Sinar Mas Group yang didirikan oleh Eka Tjipta merupakan aset Indonesia yang besar karena telah menciptakan banyak lapangan kerja hingga ratusan ribu. Bisnis yang dibangunnya telah memberi dampak yang besar bagi perekonomian Indonesia,” kata Sri Adiningsih saat mengunjungi rumah duka, Minggu (27/1/19).

Gurita bisnis Sinar Mas

Melihat kesuksesan bisni Sinar Mas saat ini, mungkin tak ada menyangka kalau dulunya hidup Eka Tjipta sangat memprihatinkan. Lahir di Quanzhou, Fujian, Tiongkok pada 27 Februari 1921 dengan nama Oei Ek-Tjhong, Eka Tjipta sudah harus banting tulang sejak usia muda untuk menyambung hidup.

Di tahun 1932 saat usianya masih sembilan tahun, Eka bersama ibunya merantau ke Makassar, Indonesia, menyusul ayahnya yang terlebih dahulu migrasi dengan naik kapal tujuh hari tujuh malam. Lantaran tidak punya cukup uang, ia hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek.

Di Makassar, karena hidupnya yang serba kekurangan, Eka hanya bisa menyelesaikan pendidikannya hingga sekolah dasar. Ia harus ikut bekerja agar bisa membantu membayar utang orangtuanya. Saat menginjak usia 15 tahun, ia mulai berwirausaha menjajakan biskuit dan permen dengan mengendarai sepeda ke penjuru kota Makassar.

Meski hanya lulusan sekolah dasar, baginya tak ada harapan dan cita-cita yang terlalu tinggi. Filosofi jujur, menjaga kredibilitas, dan bertanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial menjadi kompas hidupnya,

Sebagai sebuah brand, Sinar Mas yang didirikan Eka Tjipta kini menaungi sejumlah perusahaan dengan nilai korporasi dan sejarah yang sama. Namun masing-masing dari mereka independen dengan manajemen tersendiri.

Pertama ialah Asia Pulp & Paper (APP) yang menaungi sejumlah pabrik pulp dan kertas di Indonesia. APP memproduksi pulp, kertas beserta produk turunannya menggunakan sejumlah merek. Bermula dari PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia di Mojokerto, Jawa Timur, pada tahun 1972, APP berkembang menjadi industri berkapasitas produksi hingga 12 juta ton per tahun, yang menjangkau 120 negara di enam benua.

Sinar Mas juga bergerak di sektor agribisnis dan pangan melalui Golden Agri-Resources Ltd (GAR), yang berdiri pada tahun 1996. GAR termasuk pengelola perkebunan kelapa sawit terintegrasi terbesar di dunia. Tidak hanya bisnis kelapa sawit, Sinar Mas melalui Sinar Mas Land juga merupakan salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia.

Di sektor layanan keuangan, Sinar Mas mendirikan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) yang menyediakan berbagai layanan keuangan bagi nasabah korporasi, termasuk pula usaha mikro, kecil dan menengah, maupun perorangan melalui sejumlah anak perusahaan yang dinaunginya. Perusahaan ini menjangkau masyarakat di sektor perbankan, asuransi, pembiayaan nasabah, serta manajemen aset.

Untuk sektor komunikasi dan teknologi, Sinar Mas menyediakan layanan telekomunikasi melalui PT Smartfren Telecom Tbk dengan mengandalkan teknologi 4G LTE. Sinar Mas bergerak pula dalam penyediaan energi listrik, pertambangan batu bara, infrastruktur, bahan kimia, perdagangan ritel dan multimedia, sejak tahun 1998 melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dan sejumlah perusahaan di bawah naungannya. Belakangan, Sinar Mas juga memasuki ranah bisnis digital.

Proyek inisiatif lainnya dari Sinar Mas seperti jaringan rumah sakit Eka Hospital, lembaga pendidikan Sinar Mas World Academy, lembaga pedidikan tinggi ITSB, dan lembaga pedidikan tinggi Prasetiya Mulia Business School. Eka Tjipta juga mendirikan Yayasan Dharma Eka Tjipta Widjaja, organisasi nirlaba yang didirikan tahun 2006 dengan visi meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.

Dengan gurita bisnis yang dimiliki, Eka Tjipta kini berada di urutan ketiga sebagai pemilik harga terbanyak versi Majalah Forbes. Kekayaannya hingga Desember 2018 ditaksir mencapai US$ 8,6 miliar.

Mewakili pihak keluarga, Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto menyampaikan, jenazah Eka Tjipta masih akan disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto selama sepekan. Jenazah rencananya akan dikebumikan di pemakaman keluarga yang berada di Desa Marga Mulya, Karawang, Jawa Barat pada 2 Februari 2019.

Dimakamkan di Karawang

Mendiang pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja, akan dikebumikan di tempat pemakaman keluarga di Karawang, Jawa Barat. Acara pemakaman akan digelar pada 2 Februari 2019.

“Pemakaman (Eka Tjipta) rencananya dilakukan pada Sabtu, 2 Februari 2019. Dimulai pada pukul 08.00 WIB kemudian dilanjutkan dengan keberangkatan ke Karawang,” kata Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto pada Senin (28/1/19) kemarin.

Gandi Sulistiyanto mengatakan Rumah Duka Sentosa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, terbuka untuk umum mulai Senin (28/1/19). Disebut Gandi, sejumlah kerabat dan karyawan Sinar Mas sudah melayat ke rumah duka.

Dia menambahkan, sejumlah tokoh dan pejabat telah datang ke rumah duka Eka Tjipta. Di antaranya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bahkan ada informasi, Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto pun sudah datang melayat.

“Banyak sekali pejabat yang sudah hadir, para menteri Kabinet Kerja. Kemudian juga Pak Basuki Tjahaja Purnama. Dari TNI, kiai, dari habib juga ada,” tambah Gandi.

Orang terkaya nomor tiga di Indonesia tahun 2018 versi Forbes telah tutup usia pada 26 Januari 2019. Eka Tjipta meninggal di usia 98 tahun. Mendiang dikenal sebagai pribadi yang baik dan dermawan.

Lihat video:

(B-BS/jr)

Exit mobile version