BENDERRAnews, 19/3/19 (Lippo Village): Ya, rasa bangga meliputi civitas akademika Universitas Pelita Harapan. Pasalnya Tim WTO Fakultas Hukum UPH menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia yang berhasil lolos ke babak internasional di Geneva, Swiss.
Itu terjadi setelah anak-anak Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) sukses mengharumkan nama Indonesia pada babak sebelumnya di Singapura tanggal 23-27 Februari 2019.
Dari Kampus UPH di kaeasan Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Tim Media UPH merilis, Tim WTO FH UPH dipimpin Alya Mahira sebagai team captain, mahasiswa FH 2016, lalu anggotanya, yakni Laurencia Macella, FH2016, Pricilla Patricia, FH 2015, dan Sarah Raisa Putri, FH 2016.
Mereka akan kembali berkompetisi di Swiss pada tanggal 4-8 Juni 2019.
Kuasa hukum negara
Disebutkan, lomba “John H. Jackson Moot Court Competition” (WTO) merupakan sebuah kompetisi peradilan semu dalam sistem penyelesaian sengketa Organisasi Perdagangan Dunia yang diselenggarakan oleh Asosiasi Mahasiswa Hukum Eropa (European Law Student Association ‘ELSA’).
Isu yang dibahas dalam perlombaan ini yakni seputar kebijakan-kebijakan perdagangan negara anggota WTO dan konsistensinya dengan peraturan sistem dagang multilateral WTO.
Uniknya permasalahan yang dibahas dalam kompetisi ini ialah keseimbangan antara tujuan kebijakan negara anggota WTO sebagai negara yang berdaulat dan peraturan-peraturan dalam perjanjian WTO.
Dalam lomba peserta diharuskan untuk menjadi kuasa hukum kedua negara anggota fiktif yang bersengketa, sebagai penggugat dan tergugat.
Mengasah pola pikir
Alya menyatakan, mengikuti perlombaan seperti moot court dan debat hukum sangat didukung serta dianjurkan oleh FH UPH.
“Kegiatan lomba ini sangat bermanfaat dalam mengasah pola pikir dan memperdalam ilmu di luar kurikulum yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.,” ujarnya.
Kompetisi ini terdiri dari dua tahap. Yaitu pengumpulan berkas tertulis atau legal memorials dan advokasi oral yang tahun ini diadakan di Singapura. “Sesudah berlomba di Singapura, tim kami pun terpilih menjadi salah satu dari empat tim lainnya dari negara lain yang berhasil lolos ke International round di Geneva, Swiss,”jelasnya.
Mengingat pentingnya lomba ini, Alya bersama tim melakukan persiapan sejak bulan September 2018 hingga saat kompetisi berlangsung di Singapura pada Februari 2019 yang terdiri dari riset dan menulis written submission untuk dua sisi, yaitu complainant serta respondent.
Kekompakan dan ketekunan
Ia menambahkan, kunci keberhasilan dari tim, ialah kekompakan anggota dan ketekunan dalam membuat written submission serta persiapan intensif untuk oral pleadings di Singapura.
“Tim kami juga meminta nasihat dan tips–tips bagaimana cara berkerja dengan lebih efektif dari alumni dan kakak kelas yang juga sempat mengikuti lomba moot court,” ungkapnya.
Namun, menurutnya, tentunya skala di Swiss nanti akan lebih besar. “Lawan kami tidak hanya berasal dari negara-negara di Benua Asia, tapi tim-tim terbaik dari ke lima benua di dunia. Kami akan melakukan riset lebih detil dan latihan yang lebih konsisten”, ujarnya.
Meskipun tim WTO FH UPH menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara pekerjaan kampus dan persiapan lomba, serta yang tersulit, yakni materi lomba sangat kompleks serta luas, para anggota tim tetap mempersiapkan juga menjalaninya dengan sebaik mungkin.
“Dukungan teman-teman serta para dosen yang memberi semangat dan bantuan, serta percaya dengan kerja keras kami menjadi dorongan kuat bagi para anggota tim untuk berlaga secara maksimal. Motivasi dan dukungan yang kami dapatkan merupakan salah satu kunci dari kesuksesan kami dalam kompetisi ini,” tandas Alya Mahira. (B-r/tm/jr)
