BENDERRAnews.com, 20/3/20 (Roma): Hingga hari ini, jumlah orang meninggal akibat virus corona di Italia telah mencapai 3.405 orang, menurut Reuters. Ini berarti kematian di negara Pisa itu lebih banyak dibanding Tiongkok sebagai episentrum virus.
Korban tewas di Tiongkok, akibat virus yang bermula di Wuhan, di Provinsi Hubei akhir 2019, saat ini mencapai 3.249, menurut data yang dikumpulkan Universitas Johns Hopkins.
Pejabat Kesehatan di Italia mengatakan pada Kamis (19/3/20) kemarin, korban tewas telah meningkat 427 dalam 24 jam terakhir. Yakni, dengan 475 kematian dicatat sehari sebelumnya.
Sesudah meluluhlantahkan Tiongkok pada awal 2020, virus menyebar ke Eropa di mana Italia khususnya wilayah Lombardy Utara- yang merupakan pusat keuangan Milan – menjadi episentrum corona di negara itu.
Sudah lakukan ‘lockdown’
Italia seperti banyak negara lain di Eropa, tetap melakukan lockdown karena pihak berwenang berupaya membendung pergerakan manusia akibat virus itu. “Penutupan perbatasan diperpanjang melampaui batas akhir 3 April,” kata Perdana Menteri Giuseppe Conte dikonfirmasi sebelumnya pada hari itu.
Berbicara kepada surat kabar Italia Corriere della Sera, Conte mengatakan langkah-langkah menutup sekolah, universitas dan membatasi pergerakan di seluruh Italia harus diperpanjang. “Blokade akan berlanjut,” kata Conte. “Langkah-langkah yang diambil, baik penutupan kegiatan (publik) dan yang menyangkut sekolah, harus diperpanjang,” katanya kepada surat kabar itu.
Di bawah aturan lockdown, orang hanya dapat meninggalkan rumah untuk membeli makanan atau obat-obatan atau untuk melakukan layanan penting lainnya termasuk pergi bekerja. Sebagian besar toko terpaksa tutup hingga 25 Maret, tetapi tenggat waktu itu juga tampaknya akan diperpanjang.
Sementara pada Kamis, Tiongkok mengatakan tidak ada transmisi domestik baru dari virus corona di negara itu untuk pertama kalinya sejak penyebaran. Meskipun ada 21 infeksi impor dikonfirmasi di Beijing ketika orang kembali dari perjalanan luar negeri.
Ada lebih dari 230.000 kasus yang dikonfirmasi dari virus di seluruh dunia dan setidaknya 9.325 nyawa hilang oleh penyakit ini, menurut data terbaru Universitas Johns Hopkins. Demikian CNBC. (B-BS/jr)
