BENDERRAnews, 31/1/18 (Jakarta): Ya, memang tidak! Pasar properti Indonesia tidak akan bubble. Karena pemain lokal kita kuat.
Bahkan, Indonesia Property Watch (IPW) pun menilai, properti di Indonesia tidak akan bubble seperti di negara-negara lain. Properti bakal bubble bila satu negara membuka keran kepemilikan properti asing secara bebas. Indonesia belum membuka keran asing memiliki properti secara besar-besaran karena pasar domestik cukup besar.
“Saya menilai laporan dari Worl Bank bahwa properti di Indonesia akan bubble saya katakan tidak, karena pasar domestik masih cukup besar. Kalaupun terjadi itu hanya over value, Indonesia belum menerapkan kepemilikan properti asing secara luas,” kata Chief Executive Officer (CEO) IPW, Ali Tranghanda, di Jakarta, belum lama ini.
Dia menegaskan, terjadinya bubble sektor properti karena adanya pembukaan keran kepemilikan asing seperti di Singapura, Tiongkok, dan Dubai. Pembukaan keran itu membuat harga properti naik melewati batas. Hal terjadi di beberapa negara di Eropa termasuk Tiongkok. “Properti di Indonesia tidak akan pernah bubble dan saya jamin selama itu tidak dibuka kepemilikan asing sebesar besarnya,” kata dia.
Disebutnya, pasar di Indonesia sebanyak 65% adalah adalah lokal. Kekuatan ada pada pemain lokal dan pengembang lokal. Mereka sudah mengerti kalau harga properti naik tinggi akan mengeremnya. “Jadi kalau harga tinggi bukan berarti bubble, tapi terkoreksi harganya,” kata dia.
Sementara itu, kata Ali, adanya bank tanah akan memberikan dampak positif untuk mengerem kenaikan harga properti. Apalagi, bila pemerintah menguasai landbank untuk pembangunan rumah yang terjangkau, pengembang properti swasta juga ikut mengerem kenaikan harga. “Karena itu peran land bank ini sangat kuat untuk menahan kenaikan harga hunian,” ujarnya.
Dia menambahkan, hal itu dilakukan pemerintah Singapura. Ketika hunian mulai membanjiri Singapura dengan harga yang cukup tinggi, pemerintah negeri jiran itu melakukan kebijakan dengan land bank yang dibangun hunian terjangkau. Dampak kebijakan itu membuat pihak swasta mulai mengerem untuk menaikkan harga properti.
Ali mengatakan, harga properti di Indonesia masih dianggap lebih murah dibandingkan dengan harga properti di negara lain. Karena itu, kedepan pasar properti masih bisa terus naik dan kenaikannya bisa di atas inflasi.
Keberanian kaum millenial
Sementara itu, Managing Director Synthesis Development, Julius Warouw mengatakan, persoalan sekarang adalah bukan kenaikan harga properti, tetapi saat ini bagaimana masyarakat ataupun kaum millenial berani memaksakan diri untuk memasukan 20% penghasilannya ke properti.
Mereka kalau bisa mengerem pengeluaran di bidang lainnya terkait lifestyle, namun pengeluaran dialihkan untuk investasi di properti .
“Meski hunian yang dibeli tidak dalam waktu dekat untuk ditinggali, tetapi untuk investasi kedepan,” ujarnya.
Dia optimistis pasar properti di Indonesia akan lebih baik. Meski di Jakarta pasar properti masih slow down, namun di daerah masih cukup bagus.
Karena itu, Synthesis pada tahun politik kali ini berniat ekspansi ke daerah dengan menyediakan dan mencari lahan yang strategis untuk pengembangan proyek properti. ‘Investor Daily’.
Meikarta buktinya diburu
Pada Rabu (22/11/17), KompasProperti merilis berita, pelemahan daya beli masyarakat tidak begitu memengaruhi transaksi pembelian rumah. Hal itu terlihat dari pameran Festival Properti Indonesia 2017 yang digelar pekan lalu di Jakarta.
Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung mengatakan, transaksi yang tercatat selama enam hari pergelaran event itu bertambah 2,5 kali lipat dibanding acara yang sama pada tahun 2016.
“Hal ini menunjukkan bahwa rumah sebagai kebutuhan dasar masih terhitung tinggi angka permintaannya,” ujar Untung kepada KompasProperti, Rabu (22/11/17).
Sementara itu, untuk hunian vertikal saat ini juga dirasakan menjadi model hunian yang makin banyak diburu masyarakat, termasuk di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya apartemen yang sudah jadi ataupun sedang dibangun di sejumlah lokasi.
Konsumen yang ingin membeli ataupun menyewa unit apartemen terlihat beramai-ramai datang ke tempat penjualan dari pengembang properti yang berbeda-beda.
Begitu pula saat Lippo Group meluncurkan penjualan proyek apartemen terbarunya yang disebut Meikarta. Tingginya minat masyarakat terlihat hingga memenuhi kantor pemasarannya di berbagai lokasi.
Lebih dari itu, bahkan sampai ada penjualan paling banyak dalam satu hari yang memecahkan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia. Pemecahan rekor itu dilakukan saat Grand Launching Meikarta di Maxx Box, Orange County, Lippo Cikarang, Sabtu (13/5/17) lalu.
Lippo Group sebagai pengembang properti baru mengalami hal ini untuk kali pertama dalam sejarah penjualan proyek hunian mereka, baik yang berupa apartemen maupun kompleks rumah tapak.
“Dalam satu hari itu terjadi banyak pemesanan unit apartemen untuk berbagai tipe. Kami tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya,” ujar Presiden Meikarta Ketut Budi Wijaya, Rabu (18/10/17), dalam suatu obrolan di Tangerang.
Sebelumnya Lippo memperkirakan akan ada transaksi besar-besaran sehingga disiapkan 200-an meja penjualan dengan karyawan pemasaran yang siap melayani calon pembeli. Namun, kenyataannya malah di luar dugaan, bahkan sampai memecahkan rekor Muri.
“Antrean sampai ribuan nomor. Ada orang yang mengantre sampai nomor 6.000. Bahkan saya sendiri juga mencoba mengantre untuk istri saya, nomor antrean saya 2.400,” kata Ketut diiringi tawa.
Dia menambahkan, antrean sudah bisa dilihat dari pukul 06.00 pagi. Hari itu, ketika dia datang sekitar pukul 10.00 pagi, area penjualan terlihat sudah ramai dengan calon pembeli.
Peristiwa ini menjadi bukti, minat masyarakat terhadap hunian apartemen itu juga masih tinggi, apalagi jika apartemen yang dijual itu berkualitas bagus dan harganya terjangkau.
Ketut menginformasikan, harga satu unit apartemen di Meikarta berkisar mulai dari Rp 127 juta.
Besarnya antusiasme masyarakat terhadap Meikarta diperkirakan karena kualitas apartemen yang bagus, ditambah dengan desain dan material bangunan yang terjamin. Beberapa desain fasad gedung yang sudah disiapkan misalnya bergaya Eropa, Amerika, dan Asia.
Proyek yang pembangunannya saat ini sedang berlangsung di atas lahan sekitar 500 hektar itu berstandar internasional dengan inovasi dan terobosan baru yang mampu menyamai kota-kota lain di negara tetangga. Sebab, Meikarta dirancang menjadi kota modern oleh Lippo Group sebagai pengembang properti yang sudah berpengalaman puluhan tahun. (B-ID/BS/Adv KP/jr)
