BENDERRAnews, 20/4/18 (Jakarta): Aset luar biasa dimiliki Indonesia di bidang energi. Termasuk energi air.
Sebab, diperkirakan Indonesia memiliki potensi energi air hingga 75.000 megawatt (MW). Namun tingkat pemanfaatannya kurang dari delapan persen. Perlu adanya terobosan dalam mendorong pemanfaatan potensi energi air tersebut.
CEO&President Andritz Hydro, Josef M Ullmer, mengatakan, rendahnya utilitas pemanfaatan energi air lantaran keberadaan potensi jauh dari lokasi kebutuhan listrik.
Selama ini kebutuhan listrik tertinggi berada di Pulau Jawa sementara potensi energi air tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Indonesia kaya akan potensi energi terbarukan. Tapi mayoritas pembangkit masih mengandalkan bahan bakar fosil,” kata Josef di Jakarta, Kamis (19/4/18).
Sejak 100 tahun
Andritz merupakan perusahaan penyedia kebutuhan peralatan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Perusahaan asal Austria itu sudah memiliki pengalaman di dunia selama 170 tahun. Keberadaan turbin besutan Andritz sudah berada di Indonesia sejak 100 tahun lalu atau tepatnya pada 1910.
Sementara itu Senior Advisor Andritz Hydro, Adhi Satriya menuturkan langkah yang bisa dilakukan dalam meningkatkan pemanfaatan energi air ialah membangun industri berbasis energi terbarukan. Sebenarnya konsep ini sudah diterapkan oleh PT Inalum (persero).
Perusahaan tersebut memiliki pembangkit listrik tenaga air dalam memenuhi pasokan setrum. Selain itu di Serawak, Malaysia pun sudah menerapkan hal yang sama. Padahal potensi energi air Negeri Jiran itu lebih rendah ketimbang Indonesia.
“Jadi pendekatannya demand creation, approach. Ada PLTA skala besar kemudian pemerintah menyediakan industrial complex jadi datang investor industri dan pembangkit. Kita create demand lengkap dengan infrastruktur,” ujarAdhi Satriya, seperti dilansir ‘BeritaSatu.com’. (B-BS/jr)
