PRIORITAS, 19/5/25 (Jakarta): Ternyata kata “OK” atau “Oke” yang marak digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik dalam bentuk verbal maupun tulisan atau teks, memiliki kepanjangannya. Demikian informasi yang dirangkum BeritaTakTikInfo.com.com, Senin (19/5/25) ini.
Biassanya, kata “OK” memang digunakan untuk memberikan persetujuan. Sebagaimana ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “OK” menjadi “Oke”. Kemudian mengartikannya sebagai “kata untuk menyatakan setuju”.
Seperti di luar negeri, kata ini juga dipakai untuk konfirmasi persetujuan, penerimaan, kebenaran atau bentuk ungkapan tidak ada sesuatu yang salah dalam laku komunikasi orang Indonesia.
Pendapat berbeda-beda soal asal-usulnya
Berdasarkan berbagai informasi dari beragam sumber, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda soal asal-usul kata “OK”. Ada yang menyebut kata tersebut berasal dari bahasa suku Indian, yakni “Okeh”. Ada pula orang berargumen kalau kata tersebut singkatan dari salah satu merek biskuit di AS, yaitu “Orrin Kendall”.
Diketahui, pada dekade 1960-an, ahli bahasa Allen Walker Read menelusuri asal-usul kata “OK”. Dalam studi berjudul “The First Stage in the History of “O.K”” (1963), Read menelusuri kata tersebut ternyata berawal dari tahun 1839.
Disebutnya, pada 23 Maret 1839, surat kabar di AS, Boston Post, menjadi yang pertama mempopulerkan kata “OK” di dunia. Redaktur bernama Charles Gordon Greene menulis kata “OK” di judul berita guna mengikuti trend singkat-menyingkat kata yang gandrung di kalangan penutur bahasa Inggris di AS tahun 1830-an.
Ketika itu, sudah ada singkatan seperti “RTBS” (Remains to be Seen), OMG (Oh My God), dan sebagainya.
Lalu, Charles pun mempopulerkan kata baru, yakni “OK”. Ini merupakan singkatan dari “oll korrect”, ubahan dari “all correct”.
Nah, sesuai makna dan artinya, kata tersebut berupaya mengonfirmasi kebenaran atas apapun yang terjadi. Sifat bahasa yang dinamis kemudian membuat “OK” menjadi kata serbaguna dalam bahasa Inggris.
Kemudian, apapun pertanyaan, konfirmasi, permintaan, pasti dijawab “Ok”.
Meresap ke berbagai bahasa
Mengikuti perkembangan waktu, belakangan kata ini juga meresap ke berbagai bahasa lain di dunia. Allen Walker Read menyebut alasannya karena “OK” mudah diucapkan dan sangat singkat.
Malahan, “OK” seakan-akan jadi simbol dalam bertutur kata. Meskipun pada sisi lain, penyingkatan kata tak bisa menunjukkan emosi penutur. Bisa saja “Ok” menunjukkan konfirmasi positif dan negatif.
Selanjutnya kemudian, popularitas kata “Ok” juga terjadi di bahasa Indonesia. Anda mungkin termasuk yang sering menggunakannya. (P-*r/Selvijn MJ)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














