TAKTIKINFO – Promovendus sekaligus Pengusaha Pelayaran asal Manado-Sulawesi Utara, Ayub Dwi Pranata Junus, dinyatakan resmi dan berhak menyandang gelar Doktor setelah dinyatakan lulus sangat memuaskan, dihadapan Sidang Terbuka Promosi Doktor pada Program Studi Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia (UI), di Aula Gedung IASTH, Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Senin, 13 Juli 2026, pukul 14.00-16.00 WIB.
Ayub dinyatakan lulus setelah berhasil mempresentasikan dan mempertahankan Disertasinya berjudul: ‘Model Strategis Peningkatan Penerimaan Pelaut Indonesia di Pasar Tenaga Kerja Maritim Global’.
Hasil Pengujian Disertasinya itu kemudian Promovendus (Ayub Dwi Pranata Junus) diumumkan oleh Ketua Sidang Prof.Dr.Drs.Supriatna, MT yang menyatakan Promovendus berhak menyandang gelar Doktor karena mampu menjawab dengan baik dan lancar oleh pertanyaan para penguji, ketua sidang dan promotor dan co-promotor.
Bertindak sebagai Ketua Sidang Prof. Dr. Drs Supriatna, MT, Promotor Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto, Co-Promotor Dr. Nurdin Sobari, SE, MM dan Athor Subroto, SE, MM, MSc, PhD. Sedangkan lima Penguji masing-masing, Lin Yola, ST, MSc, PhD, Prof.Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum, Dr. Lita Sari Barus, ST, MSi, Dr. David Ronald Tairas, SS, SE, MM, dan Dr. Gede Ariadi, S.Kom, MBA.
Pada Sidang Terbuka Promosi Doktor, juga turut disaksikan para tokoh kawanua, kolega, teman sejawat, dan keluarga dekat dari Promovendus Ayub Junus. Tokoh kawanua dan teman sejawat Promovendus yang hadir antara lain, Philip Pantouw, Willy H Rawung, Sonny Wuisan, Fabian Pascoal, Teddy Matheos, Roy Massie, Jemmy Mokolensang, Oktavianus Karundeng, Merdy Rumintjap, Ny Rawung Taliwongso dan Vera Sanger.
Dihadapan Sidang Terbuka, sesuai judul Disertasi: ‘Model Strategis Peningkatan Penerimaan Pelaut Indonesia di Pasar Tenaga Kerja Maritim Global’, kemudian dalam pemaparannya Promovendus mengatakan, Pelaut Indonesia dikenal memiliki kompetensi yang baik, namun tingkat penerimaannya di pasar tenaga kerja maritim global masih tertinggal dibandingkan dengan Pelaut Filipina.
Karena itu menurut Promovendus, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dengan populasi keempat dunia dan memiliki budaya kelautan kuat, dianggap sebagai pemasok pelaut terbesar dari Asia Tenggara. Pelaut Indonesia, lanjut Promovendus, dikenal andal, pekerja keras, patuh, tidak mengonsumsi alkohol dan memiliki kemampuan adaptasi mumpuni terhadap lingkungan laut.
Menurutnya, berdasarkan laporan Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub RI pada 2022, terdapat sekitar 800.000-1.200.000 pelaut besertifikat STCW. Dari jumlah tersebut hanya 485.861 Pelaut Indonesia yang memiliki STCW lengkap dan sertifikat CoC bersertifikat IMO STCW 2010.
Namun kata Ayub Junus, berdasarkan data Kemenhub RI tahun 2023, diperkirakan hanya 150.000-200.000 Pelaut Indonesia yang bekerja dikapal asing. Menurut Consortium of Indonesia Manning Agency (CIMA), jumlah pelaut Indonesia yang memiliki Sertifikat Kompetensi dan bekerja dikapal dagang internasional tidak lebih dari 20.000. Dengan demikian, penetrasi pasar pelaut Indonesia hanya sekitar 1,2 persen atau hanya 4,8 persen dari total pelaut berkualitas yang mampu bekerja di perusahaan pelayaran internasional.
Angka tersebut menurut Promovendus Ayub Junus, sangat kontras dengan Filipina yang menjadi pemimpin pasar global, pemasok porsi signifikan dari total pelaut global dengan remitansi miliaran dolar AS dan output industri yang mencapai triliunan peso atau setara beberapa persen dan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Meskipun pelaut Indonesia secara individual unggul dalam kompetensi teknis, etos kerja, dan memiliki nilai spiritual.
Untuk itu Promovendus menyampaikan, permasalahan utama yang mendasari penelitian ini adalah belum adanya model strategis yang teruji secara empiris untuk meningkatkan penerimaan pelaut Indonesia di pasar tenaga kerja maritim global.
Penelitian ini lanjut Promovendus, dirancang untuk menguji pengaruh langsung kompetensi kerja global terhadap penerimaan pengguna akhir, guna menghasilkan model strategis yang dapat menjadi acuan bagi peningkatan daya asing pelaut Indonesia di pasar global.
Pada Sidang Terbuka Promosi Doktor, juga turut disaksikan para tokoh kawanua, kolega, teman sejawat, dan keluarga dekat dari Promovendus Ayub Junus. Tokoh kawanua dan teman sejawat Promovendus yang hadir antara lain, Philip Pantouw, Willy H Rawung, Sonny Wuisan, Fabian Pascoal, Teddy Matheos, Roy Massie, Jemmy Mokolensang, Oktavianus Karundeng, Merdy Rumintjap, Ny Rawung Taliwongso dan Vera Sanger.
Ayub Dwi Pranata Junus lahir di Manado, Sulawesi Utara. Kecintaannya pada dunia kemaritiman membawanya menempuh pendidikan tinggi di Inggris, dengan meraih gelar M.Sc in International Shipping dari University of Plymouth tahun 1990, Postgraduate Diploma in Port and Shipping Administration dari Cardiff University, Wales tahun 1988. Ayub juga merupakan Chartered Member dari The Chartered Institute of Logistics and Transport (CILT) UK.
Selama lebih dari 35 tahun, Ayub mengabdikan karirnya di industri pelayaran internasional, dengan pengalaman luas dibidang Ship Management Crew Management, Logistik dan Pengembangan bisnis. Ia pernah menduduki pada posisi strategis di perusahaan nasional dan multinasional, serta mendirikan sejumlah perusahaan dibidang maritim dan konsultasi. Saat ini Ayub menjabat sebagai Group Corporate Director dan Local Strategic Representative untuk Schulte Group di Indonesia, yakni sebuah kelompok usaha maritim global asal Jerman yang bergerak di ship management, crew management, maritime service, hingga offshore service.
Ayub Yunus juga tercatat sebagai Diplomat, sejak tahun 2018 ia dipercaya sebagai Konsul Jenderal Kehormatan Republik Latvia, setelah sebelumnya menjabat sebagai Konsul Kehormatan sejak 2007. Dalam peran ini ia aktif memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Latvia melalui kerjasama dibidang perdagangan, investasi, pendidikan, kemaritiman, kebudayaan serta diplomasi antar masyarakat, disamping menjalankan fungsi pelayanan kekonsuleran.
Disertasi Doktoralnya berjudul: ‘Model Strategis Peningkatan Penerimaan Pelaut Indonesia di PasarbTenaga Kerja Maritim Global’, yang mengembangkan model dengan menempatkan Global Employability Competence sebagai faktor utama, yang diperkuat oleh Brand Experience, Inter-Firm Collaboration, dan Government Role. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi bagi pengembangan ekosistem maritim nasional yang lebih kompetitif.
Ayub Junus menikah dengan Heidey H.Sumayow dan dikaruniai seorang putri, Kezia A.A.Junus yang berprofesi sebagai dokter. Bagi Ayub pendidikan doktoral bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk memadukan ilmu pengetahuan, pengalaman profesional dan pengabdian masyarakat. Ayub meyakini bahwa kualitas SDM, kolaborasi lintas sektoral dan kemitraan internasional adalah fondasi utama untuk memperkuat posisi indonesia sebagai negara maritim terkemuka di dunia.
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














