PRIORITAS, 10/7/25 (Washington): Amerika Serikat (AS) mengancam akan mengenakan tarif impor hingga 32 persen terhadap produk Indonesia. Pemerintah merespons cepat dengan menyepakati pembelian energi dan pangan (termasuk gandum) dalam jumlah besar dari perusahaan AS, diperkirakan senilai Rp552 triliun.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman tarif sebagai bagian dari strategi menekan defisit dagang negaranya. Indonesia termasuk salah satu mitra dagang dengan surplus tertinggi terhadap AS.
Pemerintah Indonesia mengutus delegasi ekonomi untuk bertemu perusahaan-perusahaan AS di Washington. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin pertemuan bilateral tersebut.
PT Pertamina menjadi salah satu perusahaan yang meneken nota kesepahaman pembelian energi asal AS. Airlangga menyatakan kerja sama ini bertujuan menjaga kestabilan hubungan dagang dan menghindari sanksi tarif.
Perusahaan agrikultur seperti Sorini Agro Asia Corporindo dan FKS Group juga ikut dalam perjanjian pembelian bahan pangan dari AS.
“Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan bisnis yang tercermin dalam penandatanganan berbagai nota kesepahaman, membuka peluang kerja sama baru dan memperdalam hubungan ekonomi bilateral,” demikian pernyataan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington pada Rabu (9/7/25) waktu setempat, seperti diwartakan Beritasatu dari Channel News Asia, Kamis (10/7/25).
Komitmen pembelanjaan jumbo
Cargill sebagai perusahaan agribisnis asal AS membenarkan, pembelian jagung termasuk dalam daftar kesepakatan baru. Indonesia juga sepakat mengimpor produk gandum dan kedelai.
Meski belum diumumkan secara rinci, Airlangga menyebut nilai komitmen pembelanjaan mencapai US$34 miliar atau setara Rp552 triliun. Nilai ini mencakup sektor energi dan agrikultur.
Kesepakatan itu diharapkan memperbaiki posisi Indonesia di mata Washington dan memperkecil risiko pemblokiran akses dagang.
Kantor Perwakilan Dagang AS mencatat defisit barang AS terhadap Indonesia mencapai US$17,9 miliar pada 2024. Angka tersebut meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Trump mengklaim ketimpangan dagang sebagai alasan utama pemberlakuan tarif. Indonesia masuk daftar negara surplus tinggi yang diawasi sejak awal 2025.
Pemerintah Indonesia mengambil pendekatan pragmatis dengan memperluas pembelian barang dari AS demi menjaga akses pasar dan meredam ancaman sanksi dagang. (P-Khalied Malvino)














