Banjir telah berdampak pada sekitar 1,4 juta orang di Indonesia (FOTO/BBC).
PRIORITAS, 1/12/25 (Jakarta): Korban jiwa akibat banjir besar yang menerjang Indonesia pekan lalu terus meningkat, dengan lebih dari 500 orang dilaporkan meninggal. Tim penyelamat masih berupaya menembus wilayah-wilayah yang terisolasi untuk mencari para korban.
Bencana ini dipicu siklon langka yang terbentuk di Selat Malaka dan menerjang tiga provinsi, memengaruhi sekitar 1,4 juta penduduk menurut badan penanggulangan bencana. Sekitar 500 orang masih hilang dan ribuan lainnya mengalami luka.
Hujan ekstrem tak hanya melanda Indonesia, tetapi juga negara-negara Asia lain seperti Thailand, Malaysia, dan Sri Lanka yang turut melaporkan korban jiwa. Di Indonesia, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi wilayah paling terdampak dengan ribuan warga masih terputus dari bantuan.
Arini Amalia, warga Pidie Jaya di Aceh, menggambarkan banjir yang datang “seperti tsunami”. Ia menuturkan neneknya menganggap bencana ini sebagai yang terparah sepanjang hidupnya.
Relawan bergerak menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki karena banyak jalan tak bisa dilewati kendaraan besar. Gambar-gambar dari lapangan menunjukkan jembatan hilang terbawa arus, jalan tertutup lumpur tebal, dan tumpukan kayu berserakan.
Di kawasan Jembatan Kembar di Sumatra Barat, Mariana menunggu dengan cemas saat ekskavator membersihkan jalanan yang dipenuhi lumpur. Ia berharap keluarganya yang hilang, termasuk putranya berusia 15 tahun, segera ditemukan.
“Melihat lumpur setinggi ini… saya terus memikirkan kondisi anak saya ketika mereka menemukannya nanti,” ucapnya. “Apakah tubuhnya masih utuh? Ibu saya, ipar saya… melihat keadaan di sini, mungkin wajah mereka sudah tak bisa dikenali.”
Di banyak lokasi, warga masih menunggu bantuan makanan. Beberapa mengaku tidak makan selama dua hingga tiga hari.
Maysanti, warga Tapanuli Tengah—salah satu daerah terparah—mengungkapkan relawan kesulitan mencapai desanya. “Segalanya habis; makanan menipis. Kami tidak makan,” ujarnya. “Mi instan saja diperebutkan. Kami butuh makanan dan beras. Akses ke tempat kami benar-benar terputus.”
Ia harus berjalan jauh untuk mendapatkan sinyal internet dan air bersih.
Di Aceh Tengah, ribuan orang mengantre di kantor pemerintah daerah demi memakai perangkat Starlink untuk menghubungi keluarga atau mengisi daya ponsel. “Sudah lima hari tidak ada sinyal. Kami menunggu sejak kemarin, berharap jaringan kembali. Saya ingin menghubungi ibu di Banda Aceh, tapi belum juga tersambung,” kata seorang warga bernama Mar.
Sementara pencarian korban terus dilakukan, kritik terhadap penanganan pemerintah mulai menguat. Sebagian warga menilai respons bencana kurang siap, sementara proses birokrasi membuat distribusi bantuan tersendat.
Saat meninjau wilayah terdampak di Sumatra Utara, Presiden Prabowo Subianto mengakui masih banyak jalur terputus namun menegaskan pemerintah sedang berupaya keras mengatasi hambatan tersebut. Ia menyerukan semangat kebersamaan dan daya tahan dalam menghadapi krisis ini.
Musim hujan Indonesia yang berlangsung November hingga Maret kerap membawa hujan lebat. Para ilmuwan menilai intensitas cuaca ekstrem semakin meningkat, memicu risiko curah hujan tinggi, banjir bandang, serta angin kencang. (P-Gio R)
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














