PRIORITAS, 9/12/25 (Phnom Penh): Pertempuran dua negara bertetangga ASEAN, Kamboja dan Thailand meningkat di sepanjang perbatasan yang disengketakan.
Laporan terbaru yang diperoleh BeritaTakTikInfo.com.com, hari Selasa (9/12/25), jumlah korban tewas akibat perang dua negara ini menjadi 12 orang dan 49 lainnya luka-luka.
Baik Thailand maupun Kamboja, menyatakan tidak akan mundur dalam mempertahankan kedaulatan mereka.
Masing-masing pihak saling menyalahkan atas dimulainya kembali perang pada hari Senin.
Masih belum jelas apakah gencatan senjata yang ditengahi Presiden AS Donald Trump pada bulan Oktober 2025 lalu dapat diselamatkan.
Mantan pemimpin berpengaruh Kamboja, Hun Sen, mengatakan negaranya menunggu 24 jam untuk menghormati gencatan senjata.
Ia menegaskan sudah melakukan evakuasi semua warga di daerah konflik, sebelum melancarkan serangan balasan semalam terhadap pasukan Thailand.
“Kamboja membutuhkan perdamaian, tetapi Kamboja terpaksa melakukan serangan balik untuk mempertahankan wilayah kami,” ujarnya dalam sebuah unggahan Facebook.
Hun Sen menyebut militernya memiliki bunker dan persenjataan yang kuat, untuk memberi pasukan Kamboja keuntungan dalam bertahan melawan “musuh yang menyerang”.
5 Propinsi perbatasan
Di Thailand, para pejabat militer mengatakan telah terjadi bentrokan di lima provinsi perbatasan, dan operasi yang dipimpin Angkatan Laut di Provinsi Trat untuk mengusir tentara Kamboja, diperkirakan akan segera berakhir.
Mereka mengatakan Kamboja menggunakan artileri, peluncur roket, dan pesawat nirawak pengebom untuk menyerang pasukan Thailand.
“Thailand bertekad untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya, oleh karena itu langkah-langkah militer harus diambil seperlunya,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Surasant Kongsiri.
Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand melakukan “tindakan brutal dan melanggar hukum”.
Sembilan warga sipil Kamboja tewas sejak Senin dan 20 orang luka berat. Sedangkan pejabat Thailand mengatakan tiga tentara tewas dalam pertempuran tersebut dan 29 orang luka-luka.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, yang juga putra Hun Sen, mengatakan Thailand tidak boleh menggunakan kekuatan militer untuk menyerang desa-desa sipil dengan dalih merebut kembali kedaulatannya.
Ratusan ribu warga mengungsi
Ratusan ribu warga di perbatasan kedua negara telah mengungsi karena tembakan artileri dan serangan senjata berat sudah menghantam pemukiman penduduk sipil.
Bentrokan terbaru hari Senin adalah yang paling sengit karena aksi saling tembak roket dan artileri berat
Pada bulan Mei 2025, ketegangan meningkat setelah terbunuhnya seorang tentara Kamboja dalam sebuah pertempuran kecil.
Pertempuran pecah selama lima hari pada bulan Juli 2025. Saat itu setidaknya 48 orang tewas dan 300.000 orang mengungsi, sebelum Presiden Trump turun tangan untuk menengahi gencatan senjata.
Ketegangan kembali memanas sejak Thailand bulan lalu menangguhkan langkah-langkah de-eskalasi, yang disepakati dalam pertemuan puncak yang diawasi Trump.
Seorang tentara Thailand terluka kena ranjau darat, yang menurut Bangkok baru-baru ini ditanam Kamboja.
Thailand memiliki kemampuan militer lebih unggul dari Kamboja.
Personel militer Thailand lebih banyak, didukung anggaran, persenjataan, serta jet tempur yang telah melancarkan serangan udara untuk mendukung pasukan daratnya, menurut media Asharq Al Awsat.
Thailand dan Kamboja selama lebih dari satu abad bersengketa memperebutkan kedaulatan di titik-titik di perbatasan darat sepanjang 817 km (508 mil).
Dengan perselisihan mengenai kuil-kuil kuno yang memicu semangat nasionalis dan terkadang terjadi gejolak bersenjata, termasuk baku tembak artileri mematikan selama seminggu pada tahun 2011. (P-Jeffry W)














