PRIORITAS, 5/6/25 (Jakarta): Pemerintah mendukung promosi ragam produk industri pertahanan dalam negeri di ajang “Indo Defence 2025“, salah satunya pesawat N-219 dari BUMN PT Dirgantara Indonesia (PT DI), demikian informasi yang diterima Beritapripritas.com, Kamus (5/6/25) ini.
“Kita ingin mempromosikan N-219 nya PTDI. Sayang kita sudah punya pesawat N-219, kalau tidak kita manfaatkan, sangat sayang sekali. Banyak sebetulnya yang bisa memanfaatkan N-219,” demikian Wakil Menteri Pertahanan RI, Donny Ermawan Taufanto saat ditemui di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu (4/6/25) kemarin.
Disebutnya, N-219 merupakan pesawat penumpang yang cocok untuk dipakai di negara-negara kepulauan seperti Indonesia.
Di samping itu, Donny mengatakan, teknologi yang ada di dalam N-219 tidak kalah canggih dengan pesawat komersil pada umumnya. Apalagi, lanjut Donny, PT DI kini sedang mengembangkan pesawat N-219 menjadi versi amphibi.
Ciri khas ala Indonesia
Kendati beberapa komponen masih buatan luar negeri, Donny menekankan pesawat ini memiliki satu ciri khas ala Indonesia yakni di bagian desain.
“Sebagian besar sudah produk kita, terutama desainnya sudah desain dari kita, yang ngerjakan dari kita juga,” ungkap Donny.
Itu sebabnya, Donny berharap ajang Indo Defence tahun ini bisa menjadi jembatan untuk N-219 agar bisa masuk ke pasar internasional.
Versi amphibi penguat konektivitas
Diketahui, sebelumnya PT DI terus melanjutkan pengembangan pesawat N-219 menjadi versi amphibi, yang diperuntukkan sebagai penguat konektivitas dan perekonomian wilayah terpencil, hingga kemandirian pertahanan Indonesia.
Seperti dijelaskan Manajer Komunikasi Perusahaan dan Promosi PT Dirgantara Indonesia, Adi Prastowo dalam keterangannya (31/5/25) lalu, keberadaan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 60 persen wilayah perairan, membuatnya membutuhkan inovasi lebih dalam bidang transportasi, khususnya untuk daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh transportasi darat.
“Di sisi lain, dengan wilayahnya yang lebih besar adalah perairan, juga memiliki potensi besar mengembangkan wisata perairan menggunakan pesawat amphibi, yang dalam implementasinya moda transportasi ini juga dipercaya mampu mengakomodasi kebutuhan konektivitas lokasi destinasi wisata, serta dapat menjadi angkutan logistik pendukung ekonomi kerakyatan di wilayah sekitar,” katanya.
Ada pun pesawat N-219 yang dikembangkan menjadi varian amphibi ini, kata Adi, akan dilengkapi dengan komponen float atau pengapung dari bahan komposit sebagai pengganti roda untuk pendaratan di perairan terbuka. Dan PTDI telah berkomitmen penuh dalam riset dan pengembangannya lewat penyertaan jam kerja, pemanfaatan fasilitas produksi, hingga tes laboraturium.
Kemudian, dalam pengembangannya, lanjut Adi, pesawat N219 versi basic akan ditingkatkan performanya, dari Maximum Take Off Weight (MTOW) yang sebelumnya 6.700 kg menjadi 7.030 kg. Dan untuk payload dari sebelumnya 1.550 kg menjadi 1.900 kg, di mana penambahan floater dengan berat sekitar 600 kg, kemudian akan menyisakan kekuatan pesawat untuk mengangkut beban hingga 1.300 kg atau setara dengan beban 17 penumpang.
Sedangkan dalam pengembangan floater berbahan komposit, PTDI bekerja sama dengan AEROCET dan MOMENTUM, perusahaan pembuat pesawat amphibi dari Amerika, yang ditargetkan mendapatkan sertifikasi standar internasional dari The Federal Aviation Administration (FAA) di tahun 2026.
“Nantinya, pesawat N-219 Amphibi tersebut dapat dikomersialisasikan secara global. Untuk pesawat N219 Amphibi sendiri ditargetkan melakukan terbang perdana di tahun 2026 dan mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan RI di tahun 2027,” demikian Adi Prastowo. (P-*r/me)














