Keterangan Foto: Bandara Tasuka dan Prof.Ir.Kawilarang Warouw Alex Masengi, MSc, PhD/Kolase: Taktikinfo/Harris
Potensi Wisata Minahasa Yang Belum di Optimalkan
“BANDARA AIR TASUKA SEBAGAI GERBANG WISATA SEJARAH DAN EKOWISATA DANAU TONDANO”
Oleh
Prof. Ir. Kawilarang W.A. Masengi,MSc.,PhD.
Dosen Program Doktor Ilmu Kelautan, Unsrat.
Pendiri Yayasan Indonesia Coelacanth Center
Ketua International Coelacanth Research Center and Marine Museum, Unsrat.
Ketua Cagar Biosfir Bunaken Tangkoko Minahasa. UNESCO, Man and Biosphere Programe. PBB.
TAKTIKINFO – Keberadaan Bandara Air Tasuka di tepian Danau Tondano sesungguhnya memiliki nilai yang jauh melampaui fungsi historisnya sebagai pangkalan pesawat amfibi pada masa Perang Dunia II. Situs ini merupakan salah satu jejak penting perkembangan sejarah penerbangan di Indonesia sekaligus menjadi saksi dinamika geopolitik kawasan Asia-Pasifik pada awal dekade 1940-an. Di balik tinggalan sejarah tersebut tersimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis warisan budaya (heritage tourism), wisata sejarah penerbangan (aviation heritage tourism), dan ekowisata yang terintegrasi dengan kekayaan alam Danau Tondano serta budaya masyarakat Minahasa. Pengembangan kawasan ini tidak hanya bertujuan melestarikan nilai sejarah, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan (Inskeep, 1991; UNWTO, 2018).
Berbagai negara telah membuktikan bahwa bekas pangkalan militer, lapangan terbang tua, maupun instalasi pertahanan dapat diubah menjadi destinasi wisata kelas dunia tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Di Inggris, bekas pangkalan Royal Air Force direvitalisasi menjadi museum penerbangan dan taman edukasi. Di Australia, sejumlah pangkalan udara Perang Dunia II menjadi destinasi sejarah yang dikunjungi ribuan wisatawan setiap tahun. Sementara itu, di Amerika Serikat, museum penerbangan seperti Smithsonian National Air and Space Museum maupun Pearl Harbor Aviation Museum berhasil memadukan fungsi konservasi sejarah, pendidikan, penelitian, dan pariwisata dalam satu kawasan terpadu. Pendekatan serupa dapat diterapkan di Tasuka dengan menyesuaikan karakteristik lokal Minahasa serta lanskap Danau Tondano (Richards, 2001; Tiesdell et al., 1996).
Keunikan Bandara Air Tasuka terletak pada karakteristiknya sebagai pangkalan pesawat amfibi yang memanfaatkan permukaan Danau Tondano sebagai landasan operasi. Keberadaan fasilitas seperti ini relatif jarang ditemukan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, nilai keunikannya (uniqueness value) sangat tinggi dan berpotensi menjadi daya tarik wisata internasional apabila dikemas secara profesional. Selain memiliki nilai sejarah, kawasan ini juga menawarkan panorama alam yang luar biasa berupa danau vulkanik yang dikelilingi pegunungan, persawahan, perkampungan tradisional Minahasa, serta bentang alam yang masih mempertahankan karakter pedesaannya. Kombinasi antara sejarah, lanskap alam, dan budaya lokal inilah yang menjadi kekuatan utama Bandara Air Tasuka sebagai destinasi wisata masa depan (Sharpley, 2009; UNESCO, 2011).
Dalam perspektif pembangunan pariwisata modern, wisatawan tidak lagi hanya mencari keindahan alam semata, melainkan pengalaman yang autentik (authentic experience), edukatif, dan memiliki makna sejarah maupun budaya. Tren global menunjukkan meningkatnya minat terhadap experiential tourism, yaitu perjalanan yang memberikan pengalaman langsung melalui interaksi dengan masyarakat lokal, cerita sejarah, tradisi budaya, dan lingkungan alam. Bandara Air Tasuka memiliki seluruh komponen tersebut sehingga berpotensi menjadi salah satu contoh pengembangan wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) di Indonesia (Poon, 1993; UNWTO, 2018).
Bandara Air Tasuka sebagai Gerbang Pariwisata Terpadu Minahasa
Apabila dikembangkan secara komprehensif, Bandara Air Tasuka dapat berfungsi sebagai gerbang utama (gateway) menuju berbagai destinasi unggulan di kawasan Langowan dan Danau Tondano. Konsep ini tidak hanya menjadikan Tasuka sebagai objek wisata tunggal, melainkan sebagai pusat orientasi (visitor orientation center) yang menghubungkan wisatawan dengan berbagai atraksi sejarah, budaya, alam, pendidikan, dan kuliner yang tersebar di wilayah Minahasa.
Dari kawasan Bandara Air Tasuka, wisatawan dapat memulai perjalanan sejarah mengenai perkembangan penerbangan air di Hindia Belanda, memahami strategi pertahanan udara pada masa Perang Dunia II, hingga mengenal kisah operasi pesawat Dornier Do 24, Sikorsky S-43 Baby Clipper, dan Consolidated PBY Catalina yang pernah beroperasi di Danau Tondano. Setelah memperoleh pemahaman sejarah tersebut, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menikmati keindahan Danau Tondano melalui wisata perahu, mengunjungi desa-desa tradisional, mencicipi kuliner khas Minahasa, hingga menikmati panorama pegunungan yang mengelilingi danau.
Pendekatan seperti ini dikenal sebagai integrated destination development, yaitu pengembangan kawasan wisata yang menghubungkan berbagai atraksi menjadi satu paket perjalanan sehingga mampu meningkatkan daya tarik destinasi secara keseluruhan. Konsep tersebut terbukti mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan (length of stay), memperbesar pengeluaran wisatawan (tourist expenditure), dan memperluas distribusi manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal (Inskeep, 1991; Pearce, 1989).
Koridor Wisata Langowan–Danau Tondano
Pengembangan Bandara Air Tasuka akan semakin efektif apabila diintegrasikan dalam sebuah Koridor Wisata Langowan–Danau Tondano, yaitu kawasan pariwisata tematik yang menghubungkan berbagai objek wisata sejarah, budaya, alam, kesehatan, dan kuliner dalam satu sistem destinasi yang saling mendukung. Koridor ini dapat menjadi ikon baru pariwisata Sulawesi Utara yang menawarkan pengalaman perjalanan yang lengkap dan beragam.
Koridor tersebut dapat meliputi beberapa destinasi utama berikut.
1. Bandara Air Tasuka
Bandara Air Tasuka menjadi titik awal perjalanan wisata sebagai pusat interpretasi sejarah penerbangan air di Indonesia. Di kawasan ini pengunjung dapat mempelajari sejarah pembangunan pangkalan pesawat amfibi, operasi penerbangan sipil dan militer sebelum Perang Dunia II, serta peran strategis Danau Tondano dalam sistem pertahanan Hindia Belanda.
1. Danau Tondano
Sebagai danau terbesar di Sulawesi Utara, Danau Tondano merupakan daya tarik utama kawasan. Danau ini menawarkan berbagai aktivitas wisata seperti berperahu, kayak, dayung, fotografi alam, pengamatan burung, wisata memancing, hingga olahraga air ramah lingkungan. Lanskap pegunungan yang mengelilingi danau menciptakan panorama yang sangat menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain memiliki fungsi wisata, Danau Tondano juga merupakan sumber air baku, irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air, serta habitat berbagai spesies ikan air tawar endemik sehingga pengelolaannya harus memperhatikan prinsip konservasi dan keberlanjutan (Balai Wilayah Sungai Sulawesi I; Kemenparekraf RI, 2023).
1. Zero Point Langowan
Zero Point Langowan mempunyai nilai historis yang penting sebagai titik pertemuan wilayah-wilayah tua Minahasa. Kawasan ini dapat dikembangkan menjadi pusat interpretasi sejarah perkembangan pemerintahan tradisional Minahasa, pusat informasi wisata, kawasan pedestrian, ruang publik, serta lokasi berbagai festival budaya.
1. Patung Johann Gottlieb Schwarz
Tokoh misionaris asal Jerman ini memiliki kontribusi besar dalam perkembangan pendidikan, kesehatan, dan penyebaran agama Kristen di Minahasa. Kehadiran monumen Johann Gottlieb Schwarz menjadi simbol transformasi sosial masyarakat Minahasa pada abad ke-19 dan sangat potensial dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah pendidikan dan religi.
1. Kawasan Perkebunan Kopi Langowan
Langowan dikenal sebagai salah satu sentra kopi sejak masa kolonial Belanda. Wisatawan dapat diajak mengunjungi kebun kopi, mempelajari proses budidaya, panen, pengolahan pascapanen, hingga menikmati kopi khas Minahasa melalui konsep coffee tourism yang saat ini berkembang pesat di berbagai negara.
1. Permandian Air Panas Ranolewo
Permandian Ranolewo merupakan salah satu fenomena geologi yang unik karena memiliki beberapa kolam air panas alami dengan karakteristik warna air yang berbeda-beda. Kawasan ini telah dikenal sejak masa kolonial sebagai lokasi terapi kesehatan. Pengembangan konsep wellness tourism di Ranolewo akan memperkaya variasi atraksi wisata sekaligus memperluas segmen pasar wisata kesehatan yang saat ini berkembang sangat pesat di dunia.
1. P & W Voortuin Café and Resto
Destinasi kuliner menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisata. Kehadiran restoran yang menyajikan perpaduan kuliner Minahasa, Indonesia, Barat, Tiongkok, dan Jepang dapat memperkuat citra Langowan sebagai pusat gastronomi Sulawesi Utara. Kuliner lokal seperti ikan nike, mujair bakar Danau Tondano, ragey, tinutuan, rica roa, hingga kopi Langowan dapat dipromosikan sebagai identitas kuliner daerah.
Integrasi berbagai objek tersebut akan menghasilkan sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman lengkap, mulai dari sejarah, budaya, alam, kesehatan, pendidikan, hingga kuliner. Model pengembangan seperti ini sesuai dengan konsep destination networking yang saat ini banyak diterapkan pada kawasan wisata unggulan dunia (Butler, 1980; Richards, 2001).
Museum Penerbangan Air Danau Tondano
Salah satu program strategis yang layak diwujudkan adalah pembangunan Museum Penerbangan Air Danau Tondanodi Desa Tasuka. Museum ini bukan sekadar ruang penyimpanan benda bersejarah, tetapi menjadi pusat interpretasi, pendidikan, penelitian, dan inovasi yang mengangkat sejarah penerbangan air di Indonesia.
Museum dapat dibangun dengan konsep modern yang menggabungkan koleksi fisik dan teknologi digital. Koleksi utama dapat berupa replika pesawat Dornier Do 24, Sikorsky S-43 Baby Clipper, Consolidated PBY Catalina, foto-foto arsip, peta operasi militer, dokumen sejarah, perlengkapan navigasi, mesin pesawat, serta artefak yang ditemukan di sekitar Danau Tondano. Ruang pamer juga dapat menampilkan kronologi perkembangan penerbangan sipil dan militer di Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Teknologi interaktif seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) memungkinkan pengunjung merasakan pengalaman virtual menaiki pesawat amfibi, melakukan simulasi pendaratan di Danau Tondano, atau mengikuti misi penyelamatan dan patroli udara pada masa Perang Dunia II. Pendekatan ini akan meningkatkan daya tarik museum, khususnya bagi generasi muda, sekaligus memperkuat fungsi edukatif dan rekreatifnya.
Museum juga dapat menjadi pusat penelitian sejarah penerbangan, konservasi artefak, digitalisasi arsip, serta tempat penyelenggaraan seminar, konferensi, dan pameran internasional mengenai sejarah penerbangan di kawasan Asia-Pasifik.
Wisata Air dan Jejak Sejarah
Danau Tondano menawarkan peluang besar untuk mengembangkan wisata air tematik yang menggabungkan unsur rekreasi, edukasi, dan sejarah. Salah satu konsep yang menarik adalah Historic Seaplane Route, yaitu jalur wisata perahu yang mengikuti rute operasi pesawat amfibi pada masa kolonial dan Perang Dunia II.
Selama perjalanan, pemandu wisata dapat menjelaskan lokasi bekas dermaga pesawat, titik tambat pesawat amfibi, bunker pertahanan, serta kawasan yang diyakini menjadi lokasi tenggelamnya pesawat Dornier Do 24 akibat serangan Jepang pada tahun 1941. Cerita sejarah tersebut akan memberikan dimensi edukatif yang memperkaya pengalaman wisatawan.
Selain aspek sejarah, wisata air juga dapat dipadukan dengan kegiatan pengamatan burung air, fotografi lanskap, pemancingan tradisional, wisata matahari terbit dan terbenam, hingga edukasi mengenai ekosistem Danau Tondano. Pengembangan aktivitas tersebut harus mengutamakan prinsip carrying capacity agar tidak mengganggu kualitas lingkungan dan keberlanjutan ekosistem danau.
Festival Danau Tondano sebagai Media Promosi Internasional
Festival Danau Tondano memiliki potensi besar menjadi agenda pariwisata internasional apabila dikemas secara lebih inovatif. Selain menampilkan seni budaya Minahasa, musik tradisional, tarian Kabasaran, dan kuliner daerah, festival dapat diperluas dengan tema “Heritage of Seaplane and Lake Civilization”.
Rangkaian kegiatan dapat meliputi pameran sejarah Bandara Air Tasuka, seminar internasional mengenai sejarah penerbangan Asia-Pasifik, pameran fotografi udara, lomba perahu tradisional, parade kostum era kolonial, pemutaran film dokumenter, pertunjukan drone light show yang menggambarkan perjalanan pesawat amfibi di Danau Tondano, hingga simulasi penerbangan menggunakan teknologi VR.
Festival juga dapat melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas sejarah, organisasi penerbangan, TNI AU, pelaku UMKM, serta masyarakat adat Minahasa sehingga memberikan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional
Pengembangan Bandara Air Tasuka sangat selaras dengan kebijakan nasional dalam pengembangan destinasi wisata berkelanjutan. Pemerintah telah menetapkan Danau Tondano sebagai kawasan prioritas revitalisasi lingkungan dan peningkatan infrastruktur. Berbagai program seperti pembangunan dermaga wisata, penataan kawasan tepian danau, rehabilitasi ekosistem, peningkatan akses jalan, hingga pengembangan ekonomi kreatif memberikan fondasi yang kuat bagi pembangunan koridor wisata Langowan–Danau Tondano.
Sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Kabupaten Minahasa, TNI Angkatan Udara, perguruan tinggi, sektor swasta, komunitas sejarah, dan masyarakat lokal menjadi faktor kunci keberhasilan pengembangan kawasan ini. Pendekatan kolaboratif tersebut akan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara merata sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya dan lingkungan.
Visi Masa Depan
Dalam jangka panjang, kawasan Langowan–Danau Tondano memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi unggulan bertaraf nasional bahkan internasional yang mengintegrasikan warisan sejarah, kekayaan budaya, keindahan alam, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kreatif. Apabila seluruh potensi tersebut dirancang dalam satu sistem pengelolaan yang terpadu, kawasan ini dapat diposisikan sebagai:
“Langowan–Tondano Heritage and Lake Tourism Corridor: Where History Takes Flight, Nature Inspires, and Culture Lives.”
Visi tersebut mencerminkan sebuah kawasan yang bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang pembelajaran sejarah, laboratorium konservasi alam, pusat pelestarian budaya Minahasa, dan penggerak ekonomi masyarakat. Bandara Air Tasuka tidak lagi dipandang sebagai tinggalan masa lalu yang terlupakan, melainkan sebagai simbol kebangkitan sejarah penerbangan Indonesia, penguatan identitas Minahasa, serta inspirasi bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah, partisipasi aktif masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor, Bandara Air Tasuka berpotensi menjadi ikon aviation heritage tourism pertama di Indonesia yang dipadukan dengan ekowisata dan wisata budaya. Keberhasilannya tidak hanya akan memperkaya khazanah pariwisata nasional, tetapi juga memperkuat posisi Danau Tondano sebagai salah satu lanskap budaya dan sejarah terpenting di kawasan timur Indonesia. Pengembangan tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi pelestarian warisan sejarah sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat Minahasa melalui pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan (Inskeep, 1991; Butler, 1980; UNESCO, 2011; UNWTO, 2018
DAFTAR PUSTAKA
Balai Wilayah Sungai Sulawesi I. (2023). Kajian Pengelolaan dan Konservasi Danau Tondano dalam Mendukung Ketahanan Sumber Daya Air Sulawesi Utara. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia.
Butler, R. W. (1980). The concept of a tourist area cycle of evolution: Implications for management of resources. Canadian Geographer, 24(1), 5–12. https://doi.org/10.1111/j.1541-0064.1980.tb00970.x
Cooper, C., Fletcher, J., Fyall, A., Gilbert, D., & Wanhill, S. (2008). Tourism: Principles and Practice (4th ed.). Harlow: Pearson Education.
Dawson, T. (2011). Aviation Heritage: Conservation and Interpretation of Historic Aircraft and Airfields. London: Routledge.
Hall, C. M., & Page, S. J. (2014). The Geography of Tourism and Recreation: Environment, Place and Space (4th ed.). London: Routledge.
Inskeep, E. (1991). Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand Reinhold.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Destinasi. Jakarta: Kemenparekraf RI.
Pearce, D. G. (1989). Tourist Development. Harlow: Longman Scientific & Technical.
Poon, A. (1993). Tourism, Technology and Competitive Strategies. Wallingford: CAB International.
Richards, G. (2001). Cultural Attractions and European Tourism. Wallingford: CAB International.
Sharpley, R. (2009). Tourism Development and the Environment: Beyond Sustainability? London: Earthscan.
Smith, V. L. (Ed.). (1989). Hosts and Guests: The Anthropology of Tourism (2nd ed.). Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Tiesdell, S., Oc, T., & Heath, T. (1996). Revitalizing Historic Urban Quarters. Oxford: Architectural Press.
Tim Penyusun Universitas Sam Ratulangi. (2014). Kajian Sejarah dan Potensi Pengembangan Kawasan Danau Tondano serta Lingkungan Sekitarnya. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
UNESCO. (2011). Recommendation on the Historic Urban Landscape. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
UNESCO. (2017). Man and the Biosphere (MAB) Programme: Biosphere Reserves – Supporting Sustainable Development. Paris: UNESCO.
UNESCO World Heritage Centre. (2019). Culture and Tourism: Sustainable Development and Heritage Conservation. Paris: UNESCO.
United Nations World Tourism Organization (UNWTO). (2018). Tourism and Culture Synergies. Madrid: World Tourism Organization.
United Nations World Tourism Organization (UNWTO). (2020). International Tourism and COVID-19: Sustainable Tourism Development Framework. Madrid: UNWTO.
Wall, G., & Mathieson, A. (2006). Tourism: Change, Impacts and Opportunities. Harlow: Pearson Education.
Referensi Tambahan Khusus Sejarah Penerbangan Amfibi dan Perang Dunia II
Baugher, J. (2020). U.S. Navy Aircraft: Seaplanes and Maritime Patrol Aircraft in World War II. Historical Aviation Publications.
Donald, D. (Ed.). (1997). The Encyclopedia of World Aircraft. Leicester: Blitz Editions.
Hagedorn, D., & M. L. (1993). Central American and Caribbean Air Forces. London: Midland Publishing.
Hooton, E. R. (2013). War over the Pacific: Air War Against Japan 1941–1945. London: Ian Allan Publishing.
Miller, D. (2001). The Story of World War II. London: Cassell.
Referensi Sejarah Hindia Belanda dan Minahasa (Pendukung Lokal)
Graafland, N. (1898). De Minahassa: Haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Rotterdam: W. van Hoeve.
Henley, D. E. (1996). Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies. Leiden: KITLV Press.
Kawilarang, A. (2019). Sejarah Kelautan, Konservasi Coelacanth, dan Pengembangan Ekowisata Bahari Sulawesi Utara. Manado: Yayasan Indonesia Coelacanth Center.
Schouten, M. (1998). Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, Indonesia. Leiden: KITLV Press.
Catatan Akademik:
Untuk artikel ini, referensi paling kuat yang menjadi landasan teori adalah:
1. Inskeep (1991) → perencanaan pariwisata terpadu (integrated tourism planning).
2. Butler (1980) → siklus perkembangan destinasi wisata.
3. Richards (2001) → wisata budaya dan heritage tourism.
4. UNWTO (2018) → pariwisata budaya berkelanjutan.
5. UNESCO (2011; 2017) → konservasi warisan budaya dan biosfer.
6. Pearce (1989) → pengembangan destinasi
Dornier Do 24 di Danau Tondano (1941),
operasi KNILM/Militaire Luchtvaart Hindia Belanda,
pangkalan pesawat amfibi Tasuka, dan arsip Perang Pasifik di Sulawesi Utara.
Silahkan Bergabung ke WhatsApp Channel kami untuk mendapatkan update berita setiap hari. Ayo bergabung klik disini --> Channel TAKTIKINFO.com














