PRIORITAS, 6/12/25 (Washington): Hampir $30 miliar (sekitar Rp.5006 triliun) dana rekonstruksi Amerika Serikat di Afghanistan terbuang sia-sia, dicuri atau salah kelola.
Dalam laporan akhirnya, seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari Jerusalem Post , hari Sabtu (6/12/25), Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR), mengungkapkan sebanyak 1.327 kasus pemborosan, penipuan dan penyalahgunaan dari tahun 2002 hingga 2021.
“Hampir $30 miliar dana AS terbuang sia-sia, dicuri, atau disalahkelola,” selama hampir 20 tahun keterlibatan Amerika”, ungkap Inspektur SIGAR.
Dalam laporan forensik terakhirnya yang merangkum rekonstruksi AS di Afghanistan, SIGAR mengatakan hasil pemeriksaan telah menemukan sebagian besar dana diklasifikasikan sebagai yang terbuang percuma.
SIGAR mencatat misi tersebut berjanji untuk membawa stabilitas dan demokrasi ke Afghanistan, namun pada akhirnya tidak membuahkan hasil apa pun.
Sejak menarik diri dari Afghanistan, AS masih menggelontorkan dana untuk proyek pembangunan negara tersebut senilai $145 miliar. Namun yang dilakukan Washington tersebut hanya membuahkan hasil yang terbatas dan rapuh.
Pialang kekuasaan
Laporan SIGAR juga menyoroti banyak faktor berkontribusi terhadap kegagalan upaya AS, untuk mengubah negara terbelakang yang dilanda perang tersebut, menjadi negara demokrasi yang stabil dan makmur.
Salahsatunya, keputusan AS untuk bersekutu dengan para pialang kekuasaan yang korup adalah kesalahan berulang
Pialang kekuasaan tersebut justru telah memperkuat pemberontakan dan melemahkan misi, termasuk tujuan AS untuk membawa demokrasi dan pemerintahan yang baik ke Afghanistan.
Upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial Afghanistan, juga gagal memberikan dampak yang berkelanjutan.
Meskipun AS telah mengalokasikan hampir $90 miliar untuk bantuan sektor keamanan, pasukan keamanan Afghanistan akhirnya runtuh dengan cepat tanpa kehadiran militer AS yang berkelanjutan.
Laporan ini merangkum, untuk pertama kalinya dalam satu laporan, keseluruhan pekerjaan SIGAR yang mengawasi upaya rekonstruksi AS di Afghanistan.
SIGAR dibentuk Kongres AS pada tahun 2008, dan tugasnya secara resmi akan berakhir pada tanggal 31 Januari 2026, sebagaimana disyaratkan dalam undang-undang kebijakan pertahanan AS tahun lalu.
Biaya perang termahal
AS mengeluarkan sekitar $2 triliun (sekitar Rp.33.378 triliun) biaya perang termahal dalam sejarah, ketika memasuki Afghanistan terkait perburuan dalang serangan teror ke AS tokoh Al-Qaeda, Osama bin Laden dan untuk mengulingkan rezim Taliban yang melindunginya.
Menurut BBC News, setelah penarikan terakhir pasukan AS, Presiden Joe Biden (saat itu) mengutip dua angka untuk total biaya perang.
“Setelah lebih dari $2 triliun dihabiskan di Afghanistan… [atau] Anda bisa mengambil angka $1 triliun, seperti yang dikatakan banyak orang”, kata Biden.
Antara tahun 2010 hingga 2012, ketika AS sempat memiliki lebih dari 100.000 tentara di negara tersebut, dan biaya perang tumbuh hingga lebih dari $100 miliar per tahun, menurut angka pemerintah AS.
Ketika militer AS mengalihkan fokusnya dari operasi ofensif dan lebih berkonsentrasi pada pelatihan pasukan Afghanistan, biaya turun tajam menjadi sekitar $45 miliar dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Departemen Pertahanan AS, total pengeluaran militer di Afghanistan (dari Oktober 2001 hingga Desember 2020) adalah $825 miliar, dengan sekitar $130 miliar lainnya dihabiskan untuk proyek rekonstruksi.
Hal ini menjadikan total biaya, berdasarkan data resmi, menjadi sekitar $955 miliar antara tahun 2001 dan 2020 – mendekati perkiraan terendah $1 triliun yang diberikan presiden Biden.
Angka $2 triliun yang dirujuk Presiden Biden didasarkan pada studi Universitas Brown, yang mencakup bunga utang yang digunakan untuk membiayai perang dan biaya seperti perawatan veteran.
Studi ini juga mencakup pengeluaran di Pakistan, yang digunakan AS sebagai pangkalan untuk operasi terkait Afghanistan, dan berlangsung hingga tahun fiskal 2022 berdasarkan uang yang diminta.
Bahkan biaya perang (dan komitmen masa depan) di Afghanistan dari tahun 2001 hingga 2022 berjumlah $2,3 triliun.
Inggris dan Jerman – yang memiliki jumlah pasukan terbesar di Afghanistan setelah AS – juga masing-masing menghabiskan sekitar $30 miliar dan $19 miliar selama perang.(P-Jeffry W)














