PRIORITAS, 18/8/25 (Jakarta): Berpulangnya I Gusti Kompyang Manila atau akrab disapa IGK Manila meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia olahraga nasional. Tokoh sepak bola itu berpulang di Jakarta pada Senin (18/8/25) atau tepat sehari setelah peringatan HUT ke-80 RI. Ia pun meninggalkan warisan panjang dalam sejarah persepakbolaan Indonesia.
Namanya lekat sebagai salah satu arsitek kejayaan sepak bola nasional. Bertindak sebagai manajer tim, ia memimpin skuad Garuda saat mencapai puncak prestasi di SEA Games Manila 1991, sebuah pencapaian yang butuh waktu lebih dari tiga dekade untuk kembali diulang oleh generasi 2023 di Kamboja.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengenang almarhum bukan sekadar sebagai kolega, tapi juga sebagai sosok inspiratif. “Saya kehilangan seorang sahabat dan mentor yang setia serta penuh dedikasi. Kami pernah bahu-membahu di Persija dan menorehkan sejarah manis pada 2001,” tulis Erick dalam akun X pribadinya.
Ia juga menyinggung peran besar IGK Manila sebagai manajer Timnas Indonesia ketika berhasil merebut medali emas SEA Games 1991. “Terima kasih atas segala kontribusinya untuk sepak bola Indonesia, Pak Jenderal IGK Manila,” tutup Erick.
Lahir di Singaraja, Bali pada 1942, IGK Manila adalah figur militer dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI. Di level domestik, kontribusinya tak kalah mentereng. IGK Manila dikenal sebagai sosok penting dalam kebangkitan Persija Jakarta pada akhir 1990-an.
Di bawah manajemennya, Macan Kemayoran kembali menunjukkan tajinya dan sukses menyabet gelar juara Liga Indonesia tahun 2001. Kemenangan itu pun menjadi sebuah momen yang hingga kini terus dikenang oleh para pendukung setia klub Ibu Kota. Dilansir dari Antara, sepak bola Indonesia kehilangan salah satu pilar pentingnya. Namun, rekam jejak IGK Manila akan terus hidup dalam catatan sejarah dan ingatan para pencinta bola Tanah Air. (P-wr)














