TAKTIKINFO.COM – Ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) kembali ditemukan di perairan Sulawesi Utara tepatnya di perairan pulau Siladen, yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Bunaken Kota Manado. Penemuan Coelacant tersebut ditemukan oleh seorang nelayan lokal Sonny Pontoh, pada Jumat, 6 Juni 2026, pukul 09.50 WITA.
Atas penemuan ini akan menjadi catatan ilmiah penting bagi ilmuwan kelautan dan perikanan dunia termasuk para ilmuwan kelautan dan perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado.
Penemuan Coelacanth di perairan pulau Siladen terjadi hanya beberapa bulan setelah spesimen serupa ditemukan nelayan di Gorontalo Utara pada Januari 2025 lalu.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa perairan Sulawesi Utara masih menjadi habitat utama Latimeria menadoensis, salah satu ikan purba yang hidup di zaman Dinosaurus.
Penemuan di perairan pulau Siladen, ikan Coelacanth itu mengapung di permukaan laut sekitar pukul 09.50 WITA, oleh nelayan lokal, Soni Pontoh, saat sedang memancing di sekitar Celebes Diver Resort, Pulau Siladen.
Menyadari ikan yang ditemukan bernilai ilmiah, kemudian nelayan Sonny Pontoh menyerahkannya secara sukarela kepada pemerintah melalui Balai Taman Nasional Bunaken.
Ketua International Coelacanth Research Center and Museum sekaligus Ketua Cagar Biosfer Bunaken-Tangkoko-Minahasa Prof. Ir. Kawilarang Warouw Alex Masengi, M.Sc., Ph.D,
membenarkan penemuan tersebut.
Menurutnya, setelah menerima laporan masyarakat dan laporan Balai Taman Nasional Bunaken, pihaknya segera mengamankan spesimen sebelum menitipkannya ke Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado untuk kepentingan penelitian.
“Ikan sudah dijemput oleh Balai Taman Nasional Bunaken dan saat ini dititipkan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat untuk dilakukan penelitian lebih lanjut,” ujar Prof Masengi, Senin 29 Juni 2029.
Masengi menegaskan bahwa Coelacanth merupakan satwa yang sangat dilindungi dengan populasi yang diperkirakan sangat sedikit. Berdasarkan informasi para peneliti, jumlahnya diperkirakan hanya sekitar puluhan ekor yang pernah teridentifikasi di dunia.
“Spesimen ini merupakan ikan raja laut yang sangat langka dan masuk kategori sangat dilindungi. Hari ini ditemukan di kawasan Taman Nasional Bunaken, namun sayangnya sudah dalam keadaan mati,” katanya.
Menurutnya, penelitian lanjutan menjadi sangat penting untuk mengungkap penyebab kematian ikan tersebut sekaligus memperkaya pengetahuan mengenai genetika, anatomi, pola makan hingga ekologi spesies purba tersebut.
“Kami berharap penelitian ini dapat mengidentifikasi penyebab kematian ikan ini sehingga menjadi dasar pengembangan strategi konservasi agar keberadaannya tetap lestari di alam,” jelas Masengi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada nelayan Soni Pontoh yang secara sukarela menyerahkan spesimen tersebut kepada pemerintah demi kepentingan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan analisis awal para peneliti, Coelacanth diduga mengalami barotrauma, yaitu kerusakan organ akibat perubahan tekanan air secara drastis ketika ikan laut dalam naik terlalu cepat menuju permukaan. Dugaan tersebut masih akan dipastikan melalui penelitian laboratorium di Unsrat.
Hasil penelitian nantinya diharapkan mampu memberikan jawaban ilmiah mengenai faktor kematian, kondisi kesehatan, hingga karakter biologis terbaru spesies yang telah bertahan selama ratusan juta tahun tersebut.
Keberadaan Coelacanth di Sulawesi Utara dinilai bukan sebuah kebetulan. Para ilmuwan menyebut habitat ikan purba tersebut berkaitan erat dengan sistem sirkulasi samudra dunia Great Ocean Conveyor Belt dan cabangnya di Indonesia, Indonesian Throughflow (Arlindo).
Sistem arus tersebut menciptakan lingkungan laut dalam yang stabil dengan suhu rendah, kandungan oksigen tinggi, pasokan nutrien melimpah, serta tebing vulkanik bawah laut yang menjadi habitat ideal bagi Coelacanth.
Karena itu, Latimeria menadoensis kini dipandang sebagai spesies indikator kesehatan ekosistem laut dalam. Setiap penemuan baru memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi bagi penelitian evolusi, oseanografi, hingga konservasi keanekaragaman hayati dunia.
Keberadaan Coelacanth Indonesia pertama kali menggemparkan dunia pada 18 September 1997 ketika ahli biologi kelautan Mark Erdmann menemukan ikan tersebut dijual di pasar ikan Manado saat berbulan madu bersama istrinya.
Penelitian berikutnya membuktikan bahwa ikan tersebut berbeda secara genetik dengan Coelacanth Afrika sehingga resmi diberi nama Latimeria menadoensis, menjadikan Indonesia sebagai rumah bagi spesies baru ikan purba yang sebelumnya diperkirakan telah punah bersama dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu.
Penemuan terbaru di Pulau Siladen menambah daftar penting sejarah penelitian Coelacanth Indonesia sekaligus mempertegas posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu laboratorium alam paling berharga bagi ilmu pengetahuan dunia.
Kini, seluruh perhatian tertuju pada hasil penelitian para ilmuwan Unsrat yang diharapkan mampu membuka tabir baru mengenai kehidupan salah satu penghuni laut terdalam dan paling misterius yang masih bertahan hingga era modern. (*/hvs)
Ikan Purba Coelacant Ditemukan di Perairan Pulau Siladen. Prof Masengi Apresiasi Kepada Nelayan Yang Menemukan














