Seluk-Beluk Menekuni Penelitian Ikan Purba Raja Laut: Perjalanan Coelacanth dari Teluk Manado hingga Tanzania Africa
Oleh
Prof. Ir.,Kawilarang Warouw Alex Masengi,MSc., PhD.
Dosen Program Doktor Ilmu Kekautsn Universitas Sam Ratulangi
Ketua International Coelacanth Research Center and Marine Museum (ICRC&MM) Universitas Sam Ratulangi
Ketua Indonesian Coelacanth Researcher Steering Committee
Ketua Cagar Biosfir Bunaken Tangkoko Minahasa
Pendiri Yayasan Indonesia Coelacath Center.
Kisah Lahirnya International Coelacanth Research Center and Marine Museum Universitas Sam Ratulangi serta Yayasan Indonesia Coelacanth Center (YICC
Prolog
Di kedalaman laut yang sunyi, jauh dari jangkauan cahaya matahari, hidup seekor ikan yang selama jutaan tahun dianggap telah punah. Dunia mengenalnya sebagai Coelacanth, sementara bagi banyak peneliti Indonesia, ia lebih pantas disebut Raja Laut Purba.
Penelitian terhadap Coelacanth bukan sekadar mencari seekor ikan langka. Ia adalah perjalanan ilmiah yang memadukan keberanian, ketekunan, teknologi, diplomasi internasional, hingga pengabdian sepanjang hidup.
Di Indonesia, perjalanan tersebut menemukan babak penting melalui International Coelacanth Research Center and Marine Museum Universitas Sam Ratulangi, yang mengembangkan penelitian jangka panjang terhadap Latimeria menadoensis di perairan Sulawesi Utara.
1. Ketika Dunia Mengira Coelacanth Telah Punah
Pada awal abad ke-20, Coelacanth hanya dikenal melalui fosil berumur sekitar 400 juta tahun. Para ahli paleontologi meyakini kelompok ikan ini telah punah sekitar 66 juta tahun lalu bersamaan dengan kepunahan dinosaurus.
Pandangan itu berubah ketika seekor Coelacanth hidup ditemukan pada tahun 1938 di lepas pantai Afrika Selatan. Penemuan tersebut mengubah sejarah biologi evolusi.
Kemudian pada tahun 1997, dunia kembali dikejutkan dengan ditemukannya spesies baru di Sulawesi Utara, yaitu Latimeria menadoensis, yang berbeda dari spesies Afrika, Latimeria chalumnae.
Indonesia pun menjadi salah satu pusat perhatian dunia dalam penelitian ikan purba.
2. Teluk Manado Menjadi Laboratorium Alam
Teluk Manado bukan hanya terkenal karena keindahan bawah lautnya.
Wilayah ini memiliki:
* dinding karang yang curam,
* gua-gua bawah laut,
* lereng vulkanik,
* kedalaman lebih dari 200 meter,
* suhu yang stabil,
* arus laut yang relatif tenang.
Kondisi tersebut merupakan habitat ideal bagi Coelacanth.
Penelitian bertahun-tahun menunjukkan bahwa ikan ini lebih sering beristirahat di gua-gua pada siang hari dan aktif mencari makan pada malam hari.
3. Sulitnya Meneliti Raja Laut
Meneliti Coelacanth jauh lebih sulit dibandingkan ikan lainnya.
Beberapa tantangan utama meliputi:
* Kedalaman habitat 120–400 meter.
* Cahaya matahari hampir tidak mencapai habitatnya.
* Waktu penyelaman sangat terbatas.
* Cuaca laut yang tidak menentu.
* Risiko tinggi terhadap keselamatan penyelam.
* Biaya operasional kapal dan peralatan yang sangat besar.
Setiap ekspedisi memerlukan koordinasi antara penyelam teknis, operator ROV, ahli oseanografi, ahli genetika, fotografer bawah laut, hingga pakar konservasi.
4. International Coelacanth Research Center and Marine Museum Universitas Sam Ratulangi
Melalui penelitian yang berlangsung selama bertahun-tahun, pusat penelitian ini mengembangkan berbagai kegiatan, antara lain:
* survei habitat,
* identifikasi individu,
* dokumentasi bawah laut,
* pemetaan gua,
* penelitian DNA,
* kajian reproduksi,
* konservasi habitat,
* pendidikan masyarakat,
* pengembangan museum kelautan.
Salah satu capaian penting yang dilaporkan adalah teridentifikasinya 56 individu Coelacanth melalui dokumentasi dan penelitian lapangan di wilayah penelitian.
Pendataan individu seperti ini sangat penting untuk memperkirakan ukuran populasi, memahami perilaku, serta menyusun strategi konservasi jangka panjang.
5. Dari Teluk Manado Menuju Tanzania
Perjalanan penelitian tidak berhenti di Indonesia.
Kerja sama internasional berkembang menuju kawasan Samudra Hindia Barat, terutama Tanzania yang merupakan habitat Latimeria chalumnae.
Kolaborasi tersebut membuka peluang untuk:
* membandingkan dua spesies Coelacanth,
* mempelajari variasi genetik,
* membandingkan pola migrasi,
* mengidentifikasi kesamaan habitat,
* menyusun strategi konservasi global.
Dengan demikian, penelitian Coelacanth menjadi jembatan kerja sama ilmiah antara Asia dan Afrika.
6. Mengapa Coelacanth Sangat Penting?
Coelacanth sering disebut sebagai “fosil hidup”, meskipun istilah ini tidak berarti bahwa spesies tersebut tidak berevolusi. Sebaliknya, ia mewakili garis keturunan kuno yang mempertahankan banyak karakter anatomi purba.
Penelitian terhadap Coelacanth memberikan wawasan mengenai:
* evolusi vertebrata,
* asal-usul ikan bersirip lobus,
* transisi menuju vertebrata darat,
* perkembangan tengkorak dan otot,
* genetika evolusi,
* adaptasi terhadap laut dalam.
Karena alasan inilah Coelacanth menjadi salah satu organisme yang paling bernilai dalam ilmu biologi evolusi.
7. Lahirnya Yayasan Indonesia Coelacanth Center (YICC)
Semakin luasnya jejaring penelitian internasional melahirkan gagasan pembentukan Yayasan Indonesia Coelacanth Center (YICC).
Visi utama yayasan ini adalah:
* menjadi pusat konservasi Coelacanth Indonesia,
* memperkuat riset ilmiah internasional,
* mengembangkan pendidikan kelautan,
* meningkatkan kapasitas peneliti muda,
* mendukung ekonomi masyarakat pesisir melalui ekowisata berbasis konservasi,
* membangun kerja sama dengan lembaga penelitian dunia.
YICC diharapkan menjadi simpul kolaborasi antara pemerintah, universitas, lembaga internasional, komunitas penyelam, dan masyarakat lokal.
8. Mimpi Besar Masa Depan
Perjalanan penelitian Coelacanth sesungguhnya baru dimulai.
Ke depan, berbagai agenda strategis dapat terus dikembangkan, antara lain:
* pembangunan pusat data Coelacanth Indonesia,
* pemantauan populasi jangka panjang,
* penggunaan kendaraan bawah laut tanpa awak (ROV dan AUV),
* pemetaan habitat dengan kecerdasan buatan,
* bank DNA dan jaringan,
* pendidikan konservasi bagi generasi muda,
* museum interaktif bertaraf internasional,
* pengembangan jejaring penelitian Asia–Afrika–Eropa.
Epilog
Meneliti Coelacanth bukan sekadar mengejar publikasi ilmiah. Ia adalah perjalanan panjang untuk memahami sejarah kehidupan di bumi, menjaga warisan evolusi yang berumur ratusan juta tahun, dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat mengenal salah satu makhluk laut paling menakjubkan yang pernah ada.
Dari kedalaman Teluk Manado hingga perairan Tanzania, kisah Coelacanth menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas negara. Melalui dedikasi para peneliti, dukungan masyarakat, serta kolaborasi internasional, International Coelacanth Research Center and Marine Museum Universitas Sam Ratulangi dan Yayasan Indonesia Coelacanth Center (YICC) berpotensi menjadi pusat unggulan dunia dalam penelitian dan konservasi Coelacanth. Dengan temuan 56 individu di wilayah penelitian, fondasi ilmiah untuk memahami dinamika populasi dan merancang upaya pelestarian jangka panjang semakin kuat. Langkah berikutnya adalah memperluas riset berbasis bukti, memperkuat kemitraan internasional, dan memastikan bahwa “Raja Laut Purba” tetap lestari sebagai warisan alam Indonesia dan dunia.
Catatan :
Saat ini colaborasi penelitian melibatkan pusat Penelitian Kelautan dan Perikanan dalam dan luar negeri seperti :
Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN)
Kementrian Kelautan Dan Perikanan RI (KKP)
Universitas Sam Ratulangi
Tropical Biosphere Research Center (TBRC) Unibersity of The Ryukyus Okinawa, Jepang
Tokyo University of Marine Science and Technology, Japan
Kanazawa University, Japan.
Institute Oceanology Chinese Academy and Science (IOCAS), Qing Dao. China.
Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology China.
Faculty of Science Uruguay University.
Faculty of Science Genos University, Italy.
Seluk-Beluk Menekuni Penelitian Ikan Purba Raja Laut: Perjalanan Coelacanth dari Teluk Manado hingga Tanzania Africa














