PRIORITAS, 15/9/25 (Vatikan): Pemimpin umat Katolik, Paus Leo XIV, dalam wawancara media publik pertama mengkritik paket gaji untuk CEO Tesla, Elon Musk. Paus menilai perbedaan jauh gaji eksekutif dan karyawan akan tidak baik bagi kehidupan.
Baru-baru ini perusahaan mobil Tesla berencana memberikan kompensasi senilai $1 triliun untuk CEO, Elon Musk.
Menurut Paus, disparitas gaji para ekskutif dengan para karyawannya yang sangat jauh, sebenarnya mengindikasikan kehidupan saat ini dalam masalah besar.
“Kemarin [ada] berita bahwa Elon Musk akan menjadi triliuner pertama di dunia. Apa maksudnya, dan apa maksudnya? Kalau itu satu-satunya hal yang masih bernilai, kita dalam masalah besar”, kata Paus Leo, seperti dikutip BeritaTakTikInfo.com.com dari The Independent, hari Senin (15/9/25).

Ia mengungkapkan para CEO pada 60 tahun lalu, mungkin mendapatkan gaji hanya empat hingga enam kali lipat lebih banyak daripada yang diterima para pekerja. “Sekarang … 600 kali lipat,” ujar Paus Leo dalam kutipan yang dirilis di situs berita Katolik Crux.
Kritik PBB
Paus Leo, berasal dari Chicago. Ia dipilih para Kardinal sedunia pada bulan Mei 2025 lalu, sebagai Paus pertama dari Amerika Serikat.
Selama wawancara media pertamanya, yang dilakukan pada akhir Juli untuk biografi yang akan datang, Leo juga mengkritik PBB karena tidak lagi mampu membina diplomasi multilateral yang efektif.
“PBB seharusnya menjadi tempat di mana banyak … masalah ditangani. Sayangnya, tampaknya secara umum diakui bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya saat ini, telah kehilangan kemampuannya untuk menyatukan orang-orang dalam isu-isu multilateral”, jelasnya.
Saat menjadi paus, Leo mengatakan dia merasa lebih siap pada awalnya untuk memimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia dalam masalah spiritual, tetapi kurang siap untuk memainkan peran utama di panggung diplomatik global.
“Aspek yang benar-benar baru dalam pekerjaan ini adalah dilemparkan ke level pemimpin dunia,” kata Paus.
Ia mengungkapkan, belajar banyak dan merasa sangat tertantang, tetapi tidak kewalahan. “Dalam hal ini, saya harus terjun ke kolam yang dalam dengan sangat cepat,” ujarnya.
Paus Leo menunjukkan gaya yang lebih terkendali dibandingkan pendahulunya Paus Fransiskus, yang sering memberikan wawancara, dan lebih suka berbicara berdasarkan teks yang telah disiapkan.(P-Jeffry W)














